SEDETIK Diskusi Politic Entertaiment - Viral - www.indonesiana.id
x

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 10 Mei 2019 05:17 WIB

  • Viral
  • Topik Utama
  • SEDETIK Diskusi Politic Entertaiment

    isi dari artikel saya menjelaskan bahwa banyak orang yang bekerja atau berpengaruh di dunia entertaiment kini ingin terjun ke rana politik. dimana mereka ingin berpengaruh dan menjadikan status itu alat untuk bisa memegang kekuasaan ataupun berpengaruh di dunia politik. dengan cara itu mereka bisa mengambil rana yang mereka belum ketahui tapi ingin masuk ke dalam rana politik itu sendiri yang menjadikan mereka mampu untuk memegang ataupun bekerja di badan negara.

    Dibaca : 960 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    SEDETIK Diskusi Politic Entertaiment

     

    SEDETIK merupakan sebuah acara perkumpulan mahasiswa yang melibatkan seluruh kolega politik FISIP UB dari angkatan 2016, 2017 hingga 2018. Konten yang ada dalam acara tersebut adalah diskusi panel yang membahas isu-isu sosial politik.

    2019 dalam pesta pemilu ini banyak kalangan artis-artis yang mencalonkan diri dalam kontestasi pemilu 2019 yang dilaksanakan pada 7 Mei 2019. Mahasiswa Ilmu Politik UB mengkritisi hal tersebut dalam acara Gathering Eksternal Ilmu Politik dengan konsep SEDETIK  (Sehari Dengan Kolega Politik) yang dilaksanakan di Panggung Apresiasi  FISIP UB. Dalam acara tersebut diisi dengan diskusi membahas mengenai “Kontroversi Selebriti Menjadi Calon Legislatif” yang dilaksanakan 7 Mei 2019 di Panggung Apresiasi FISIP UB.

                Berbagai argumen Pro dan kontra pun terjadi membahas politic entertaiment. Akhirnya SEDETIK pun mengkaji mengenai Kontroversi Selebriti Menjadi Calon Legislatif karena pada pesta demokrasi ini artis pun menjadi objek, lagi. Hal tesebut sudah tidak asing lagi karena setiap ada pemilu pasti ada saja artis yang nyaleg untuk mendapatkan kursi.

    “Tujuan dari SEDETIK ini untuk menambah wawasan mahasiswa Ilmu Politik mengenai Politic Entertaiment, meningkatkan solidaritas antar mahasiswa, menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap sesama kolega politik” Ujar Kiyel, Ketua Pelaksana SEDETIK.

    Artis tidak lagi sekedar menjadi polesan di panggung kampanye seperti massa orde baru. Sejumlah selebriti tahun ini beramai-ramai menjadi calon legislatif memperebutkan kursi di Senayan. Seharusnya para selebriti yang menjadi politisi dituntut dedikasi dan loyalitasnya pada rakyat. “Popularitas artis bisa menjadi modal untuk mencari simpati masyarakat dan pastinya memperbesar potensi raihan suara.” Ujar Jul panggilan akrabnya, sebagai pengisi materi SEDETIK.

    “Artis ini bukan fenomena lama, diluar negeri udah banyak, di Indonesia udah jadi fenomena lama bahkan menciptakan budaya kampanye seperti dangdutan Rhoma Irama masuk ke politik. Sayangnya di politik hari ini artis masih menjadi objek politik, bukan subjek politik. Mereka dianggap dapat mengangkat elektabilitas karena popularitasnya.” Ujar Andi sebagai Moderator.

    “Di Indonesia artis masih dijadikan alat politik oleh partai, artis kan punya popilaritas jadi bisa meningkatkan elektabilitas, elektabilitas itu menentukan naiknya suara partai.” Sambung Andi.

    Pemilu 2019 yang dimeriahkan oleh sederet artis yang menjadi calon mereka yang berprofesi sebagai penyanyi, pemain sinetron, dan musisi yang ingin bertarung mengincar kursi DPR RI, DPRD, dan DPD.  Berbagai macam alasan artis masuk politik pun sangat beragam. Ada yang karena panggilan dari hati, mendapatkan tawaran yang sangat besar kesempatannya, dan karena mimpi sejak kecil menjadi politisi.

    Acara SEDETIK ini sangat mengasah nalar kritis mahasiswa mengenai politic entertaiment khususnya mahasiswa Ilmu Politik yang memang bergelut di bidang ranah politik. Mahasiswa mengkritisi hal tersebut karena memang pembahasan politic entertaiment ini sudah lazim di Indonesia bahkan menjadi budaya di setiap adanya pesta demokrasi.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.