Peran Pendidikan Seksual Menjelang Masa Remaja di Era Digital - Urban - www.indonesiana.id
x

Elsafira Akrama

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Mei 2019

Selasa, 14 Mei 2019 17:04 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Peran Pendidikan Seksual Menjelang Masa Remaja di Era Digital

    Rasa ingin tahu yang tinggi harus didampingi dengan pengetahuan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Dibaca : 1.558 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dalam lingkup agama kebanyakan, pembicaraan tentang seks mulai dimasukkan dalam lorong tabu. Karena itu, pembicaraan tentang seks lebih sering berupa bisik-bisik. Pengetahuan seks juga sering bercampur mitos. Alhasil, membicarakan seks sering menghasilkan perasaan kikuk, bahkan di era millennium ketiga sekarang.

    Pendidikan seks bukanlah pornografi. Namun, pandangan mayoritas orang tua yang lebih memilih menutup mulut dikarenakan pemikiran bahwa dengan tidak dibahasnya hal tersebut maka buah hati tidak akan tahu dan penasaran akan hal itu, sehingga mereka berpikir bahwa buah hati mereka pasti akan menjauhinya. Padahal, di era sekarang begitu luas dan canggihnya kemajuan teknologi berkembang setiap detiknya. Rasa penasaran akan pemikiran remaja terus berkembang juga seiring berjalannya waktu.

    Siapa kini di era kemajuan digital tidak memiliki alat canggih berupa smartphone. Triliyunan data dapat diakses hanya dalam satu genggaman tangan. Sehingga mereka terdorong untuk mencari pengetahuan edukasi seks dari triliyunan sumber data yang tersedia secara bebas. Informasi dari internet yang tidak difilter oleh anak remaja lantaran rendahnya tingkat literasi digital bisa berdampak negatif. Alih-alih mendapat informasi yang akurat soal reproduksi dan relasi, anak bisa kian tersesat akibat membaca sumber-sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Di era sekarang remaja lebih bersifat berjiwa bebas. Perasaan untuk menikmati satu kali hidup dalam satu putaran waktu yang singkat mendorong perilaku dan karakteristik yang mereka miliki. Bebasnya pergaulan kini seakan dianggap hal yang wajar bagi beberapa orang tua. Kini, siapa remaja yang tak tergoda akan indahnya kisah asmara. Media sosial yang luas seakan memanjakan cerita kasih dalam radius jauh maupun dekat.

    Lihat saja kasus di era sekarang, tak jarang adanya berita tentang beberapa anak sekolah yang kurang akan pendidikan seks terancam menjadi seorang orang tua di usia yang terlalu dini. Tentu isu ini perlu dibahas karena menjadi orang tua itu bukan hanya 9 bulan 10 hari, namun hal tersebut merupakan pekerjaan seumur hidup. Sehingga berbagai pilihan yang tidak manusiawi seperti aborsi menjadi salah satu pilihan untuk menghadapi ketidaksiapan tersebut.

    Keterbukaan dari orang terdekat dan edukasi adalah poin penting dalam pelaksanaan seks education. Jika terdapat keingintahuan remaja dapat dilakukan dengan menyesuaikan edukasi yang tepat terhadap usia remaja. Peran sebagai manusia yang peduli adalah dengan tidak menutup mata dan telinga. Hal tersebut dapat dimulai dengan saudara dan teman di sekitar kita. Membaca data yang valid dan menyebarkan pengetahuan dengan benar dapat menangkis pengetahuan hoax yang kian menjamur di masyarakat.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.