Lunturnya Minat Generasi Muda terhadap Seni dan Budaya Tradisional Indonesia - Seleb - www.indonesiana.id
x

Boby Akbar faris

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Mei 2019

Sabtu, 18 Mei 2019 16:46 WIB

Lunturnya Minat Generasi Muda terhadap Seni dan Budaya Tradisional Indonesia

Dibaca : 482 kali

Seiring berkembangnya zaman, seni dan budaya tradisional terus terkikis dan banyak yang tidak peduli tentang pentingnya seni dan budaya bagi anak cucu yang akan datang. Banyak generasi muda yang lebih memilih budaya barat daripada budaya tradisional. Bukan rahasia lagi ketika generasi muda indonesia mulai meninggalkan seni dan budaya tradisional seperti karawitan, gamelan, dan juga wayang. Masuknya berbagai kesenian dan kebudayaan barat dari berbagai media yang telah berkembang di zaman modern ini, menjadikan seni dan budaya tradisional semakin hari semakin meluntur.

Saat ini kesenian dan kebudayaan barat terus mendominasi keduyaan di dalam negeri, seakan-akan telah menjadi konsumsi sehari hari bagi generai muda. Generasi muda yang dulunya bersemangat dalam mempelajari seni dan budaya tradisional sekarang musnah ditelan zaman. Mendominasinya kesenian dan kebudayaan barat di dalam negeri minjadikan generasi muda menganggap bahwa kesenian dan kebudayaan tradisional tidak ngetren dan terkesan kuno pada zaman sekarang. Dampaknya sangat terasa bagi generasi muda yang tidak mau mempelajari bahkan mereka sudah tidak mengenal seni dan budaya kita sendiri.

Banyak hal yang dapat menjadikan generasi muda tidak lagi bergairah dalam mempelajari kesenian dan kebudayaan trasional salah satunya menurunnya kualitas budaya berbahasa daerah seperti bahasa jawa. Hal tersebut menjadikan generasi muda enggan untuk menonton pertunjukan seni seperti pertujukan wayang contohnya wayang kulit. Menurut pendapat Tranggono dalam seminar Wayang dan Generasi Muda, alasan generasi muda berjarak dengan wayang menurutnya disebabkan bahasa yang digunakan dalam wayang dianggap terlalu rumit sehingga sulit untuk dipelajari dan dipahami. Cerita atau lakon dan pesan sosial yang disampaikan cenderung berat. Bahkan pertunjukan wayang bercorak konvensional, durasi wayang terlalu lama dan frekuensi pergelaran wayang terhitung masih rendah. Pegiat Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A(K), mengatakan bahwa media massa bisa dijadikan sebagai media dalam penyebarluasan informasi wayang. Akses terhadap media yang begitu mudah bagi masyarakat saat ini merupakan titik tengah untuk  mengangkat tradisi wayang. Banyak pencinta seni yang mencampur seni dan budaya tradisional dengan lagu lagu dangdut seperti campursari yang dapat menarik generasi muda untuk melirik lagi kesenian dan kebudayaan tradisional. Tapi hasilnya kurang memuaskan karena dengan perkembangan modernisasi budaya barat yang sangat pesat menjadikan budaya tradisional tidak bisa bersaing.

Hal miris yang dapat kita ketahui bahwa zaman sekarang banyak wisatawan asing yang mempelajari seni dan budaya tradisonal. Mereka menganggap budaya tradisional yang menurut generasi muda tidak ngetren dan terkesan kuno malah berbanding terbalik dengan wisatawan asing yang menganggap bahwa hal tersebut unik. Banyak dari mereka yang ingin mempelajari lebih dalam tentang seni dan budaya tradisional. Hal-hal seperti ini harus diperhatikan dan dilihat untuk masa kedepannya. Peran pemerintah dan masyarakat serta seniman perlu ditingkatnya guna mencegah generasi muda yang telah termakan oleh arus modrenisasi budaya barat. pengenalan akan seni dan budaya tradisional harus dilakukan sejak dini. Hal ini untuk menghindari punahnya seni dan budaya tradisional warisan leluhur yang telah susah payah memepertahankannya. Generasi muda harus segera bangkit dan melestarikan seni dan budaya tradisional. Jangan sampai seni dan budaya tradisional bangsa Indonesia direbut oleh bangsa lain.

  • Mahasiswa

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.