Festival Fulan Fehan untuk Merayakan Persahabatan di Daerah Perbatasan - Travel - www.indonesiana.id
x

Istiqomatul Hayati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 24 Juni 2019 13:22 WIB
  • Travel
  • Pilihan
  • Festival Fulan Fehan untuk Merayakan Persahabatan di Daerah Perbatasan

    Dibaca : 515 kali

    Sungguh membutuhkan effort yang amat besar untuk menyaksikan puncak perayaan Festival Fulan Fehan. Perjalanan yang jauh,  sepanjang 40 kilometer,  dari rumah jabatan Bupati Belu Willybrodus Lay dengan iring-iringan mobil menuju puncak Gunung Lakaan, di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepat di perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Gunung Lakaan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

    Jangan ditanya bagaimana medannya. Jalanan masih tanah, naik turun bukit, melewati kubangan lantaran jembatan sedang diperbaiki, tanah yang tandus dan udara terasa panas, serta tikungan yang  tajam benar-benar membuat perjalanan selama satu setengah jam itu terasa lama. Total kami melewati tiga kecamatan sebelum masuk ke puncak Gunung Lakaan, yakni Tasiveto Timur, Lasiolat, dan Lamaknen.

    Iring-iringan Mobil ke Gunung Tempat Berlangsung Festival Fulan Fehan

    Terkhusus lagi, saya dan Fadwa Langka dari TelusuRI, yang bertugas mengambil gambar, sengaja menumpang mobil satpol PP yang berbak terbuka bersama sepuluh petugas Satpol PP yang memang menjadi pembuka jalan iring-iringan rombongan itu. Keputusan ini diambil untuk mendapatkan ‘feel’ perjalanan ini biar terasa heroik.

    Sepuluh menit pertama memang mengasyikkan.  Apalagi saat ditunjukkan jika perbukitan di sisi kiri yang kami lewati itu sudah masuk ke negara Timor Leste. Sesaat, saya merasakan ‘wow’ untuk sesuatu yang sulit digambarkan.

    Tapi kencangnya angin kemudian memporakporandakan jilbab saya. Suara bising sirene dari mobil Satpol PP ini terasa menghantam kepala sehingga membuat mual. Belum lagi, teriakan-teriakan petugas Satpol PP saat meminta pengendara lain agar menepikan kendaraannya.

    “Belum sarapan dan makan siang, kencangnya mobil ditambah jalan yang geronjal bikin perasaan tak karuan,” kata Fadwa. Ia kemudian terdiam. Mungkin sedang meredakan amarah di perutnya. Saya pun memutuskan untuk menelan obat untuk membuang mual dan kemudian tidur selama sepuluh menit sisa perjalanan sebelum sampai di Rumah Adat Dirun untuk melihat upacara penerimaan adat dari Bupati Belu kepada para tamu undangan.

    Di Rumah Adat Dirun yang bernama Loos (Dirun adalah nama desa), para tamu undangan terpilih dipanggil satu per satu agar masuk ke dalam rumah panggung. Mereka dipakaikan kain tenun langsung oleh Bupati Belu Willybrodus Lay. “Ini sebagai simbol sudah diterima sebagai warga Belu,” katanya sambil mengikat kain pada selendang tenun kepada salah seorang pejabat dari Jakarta.

    Bupati Belu Mengenakan Tenun Sebelum Festival Fulan Fehan

    Setelah berfoto di depan rumah adat Loos itu, perjalanan menuju Festival Fulan Fehan dilanjutkan kembali. Saat itu, saya baru tahu jika Pak Willy memilih mengendarai sepeda motor crossnya bersama iringan motor trail lainnya. Dilihat dari caranya mengemudi dengan jalanan yang terjal itu, terlihat ia sudah terbiasa touring berkendara sepeda motor.

    Untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung, saya dan Fadwa memutuskan berpindah mobil ke mobil double cabin. Jalanan makin menanjak dan tikungan yang amat curam. Jika tidak melewati jurang, samping kiri terhampar rimbunan pohon kaktus. “Di Australia, bunga kaktus ini dijadikan selai dan harganya mahal,” kata Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute yang mobilnya kami tumpangi.

    Perjalanan sempat tersendat lantaran mengantre masuk ke puncak. Terus terang, saya merasa jeri karena mobil sempat tersendal dan susah ditahan meski Vincent, driver yang mengantar kami terus menggerakkan kopling. Ia lalu berteriak kepada warga lokal yang menumpang di kabin belakang turun dan mencari pengganjal roda agar mobil tidak terguling.

    Begitu sampai di puncak, yang ternyata berupa hamparan sabana, rupanya ribuan penduduk sudah menyemut menunggu gelaran puncak festival. Untuk menutup panas matahari yang lumayan terik, mereka berpayung daun lontar yang dianyam sediri. Di depan tenda dari jerami dan rotan itu, ada panggung yang memanfaatkan bukit Teletubbies ini sudah siap mempertontonkan drama tari kolosal.

    Gadis-gadis Timor yang Jelita | Fadwa Langka

    Festival Fulan Fehan sendiri sudah dua tahun ini digelar. Tahun lalu juga diadakan di bulan yang sama, di sisi lain bukit Teletubbies. Penggagasnya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memperingati Sumpah Pemuda. “Tahun ini digelar untuk merayakan persahabatan di daerah perbatasan,” kata Bupati Willy saat memberikan sambutannya.

    Bekraf kemudian menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata untuk menggelar Festival Fulan Fehan kedua kalinya. Untuk tahun ini, warga akan berpesta menonton pertunjukan drama tari musikal Antama yang artinya berburu di hutan. Ada sekitar 2.000-an penari usia 11 hingga 18 tahun dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi di  Belu.

    Mereka dilatih oleh Eko Supriyanto, atau lebih dikenal dengan nama panggungnya Eko Pece, dosen Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Surakarta. Eko Pece adalah koreografer pada upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 yang menghebohkan warga Asia itu.

    Gadis Cilik yang Ikut Menari di Festival Fulan Fehan

    “Semula hanya diikuti 1.200 penari, tapi selama latihan terus bertambah orang datang dari berbagai desa. Mereka bawa alat musik sendiri, kain sendiri, minta diikutkan. Hingga akhirnya total ada 2.000 penari yang berlatih selama dua pekan,” kata Willy.

    Willy mengatakan, Festival Fulan Fehan ini menghadirkan festival dari pinggiran Indonesia untuk Indonesia. “Kami  ingin merajut Indonesia dari perbatasan sekaligus membikin perbatasan ini jadi paling aman di dunia.” Untuk menghadirkan suasana persahabatan, Willy juga mengundang para kepala daerah di Nusa Tenggara Timur, mengundang Bupati Halmahera Barat di Maluku Utara, Danny Missy dan perwakilan dari konsulat Timor Leste di Indonesia.

    Drama Antama ini berpijak pada Tari Likurai. Tarian ini sudah biasa dilakukan oleh orang Timor sejak kecil. Hanya tiga daerah yang memiliki gerakan yang sama, yakni Timor Leste, Kabupaten Malaka, dan Belu. Tari Likurai biasanya dilakukan sebagai upacara ritual menyambut warga setelah memenangkan peperangan atau sebelum berburu.

    Penari Cilik Bernyanyi di Festival Fulan Fehan | Fadwa Langka

    Raja Dirun, Alfons Deremali menuturkan, Antama merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan orang Timur. Setiap tahun, sebelum digelar Antama, raja akan mengundang 38 suku untuk mengirimkan lima atau enam orang dalam perburuan itu. Jadi, bayangkan saja, berapa pasukan yang hendak berburu ke dalam hutan. “Kami berburu apa saja, memburu hewan liar diawali dengan upacara ritual,” ujarnya. Upacara itu untuk memohon kekuatan dan restu nenek moyang agar kembali dengan selamat.

    Tapi, kata Alfons, tradisi ini sudah hilang. Seingatnya, tradisi ini sudah tidak lagi dilakukan sejak 1997, lantaran lahan liar tak ada lagi. Peperangan pun tak ada. “Jadi sekarang, tarian diadakan untuk pelestarian tarian saja.”

    Dan, akhirnya yang ditunggu pun muncul. Diawali dengan kemunculan ratusan pemusik dari balik bukit, memainkan musik yang magis dari tiupan seruling panjang. Ada dirigen yang mengatur ritme bak orkestra di padang sabana. Magis dan berhasil menyihir penonton untuk tak berkedip.

    Kemudian, datang ratusan perempuan membuka tarian dengan memukul alat musik tabor (semacam kendang). Seorang pria yang dikisahkan dewasa, menceritakan tentang kejayaan daerah.

    Sempat dalam satu adegan, muncul peragaan busana adat Timor yang dipertunjukan oleh puluhan laki-laki dan perempuan berwajah elok. Lalu adegan seperti peperangan, yang saya lihat dari pertemuan antara ratusan laki-laki bersenjatakan tombak dengan sahutan irama tabor.

    Keseluruhan tari kolosal ini berlangsung sekitar satu jam. Penonton terus disihir dengan gerakan tari yang dinamis, musik yang magis, dan mata dimanjakan motif-motif kain tenun kreasi mama-mama dan nona-nona dari tepian Indonesia. Cantik, magis, dramatis, dan kolosal.

    Festival Fulan Fehan dan Saya

    Secara keseluruhan, saya sangat menikmatinya meski sesekali tertidur lantaran efek obat mual dan belum istirahat dari perjalanan panjang Jakarta-Belu. Rasanya lunas sudah untuk perjuangan sebelum menonton pertunjukan drama Antama itu. Tahun depan, jika ada kesempatan lagi, saya harus menikmatinya dengan kondisi fisik lebih prima.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.