#SeninCoaching: Gunung Memerlukan Lembah, Pemimpin Membutuhkan Rakyat - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 9 Juli 2019 11:20 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Gunung Memerlukan Lembah, Pemimpin Membutuhkan Rakyat

    Dibaca : 2.107 kali

    #Leadership Growth: Your Stakeholder Matters

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

    “Organizations with high levels of employee engagement, enablement, and energy report 3 X higher financial results. – Willis Towers Watson.

    Cahaya memerlukan gelap untuk memperlihatkan daya pukaunya. Gunung-gunung berteman dengan lembah dan dataran di bawahnya sebagai penopang. Sungai-sungai selalu menjemput muara, untuk menyatu dengan keluasan laut.

    Sekian tahun silam saya ke Yogyakarta mendampingi seorang wartawan senior dari RRT untuk wawancara khusus dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ketika ditanya tentang kepemimpinan dalam suatu negara, Sri Sultan dengan lugas antara lain mengatakan, “pemimpin eksis karena rakyat. Tanpa ada rakyatnya, pemimpin tidak berfungsi.”

    Hukum alam mengatakan, kita selalu memerlukan pihak lain untuk memastikan keberadaan dan fungsi kita. Dalam tradisi pemikiran China kita mengenal Yin dan Yang, dua unsur berbeda (feminin dan maskulin) yang saling mengisi, melengkapi, menegaskan perlunya harmoni dan keseimbangan dalam dinamika kita merespon pergerakan alam semesta.

    Dalam konteks pengembangan kepemimpinan organisasi bisnis dan nonprofit, keseimbangan tersebut seperti ini: Para eksekutif dan leader seperti Anda memerlukan stakeholders (kolega, atasan, dan direct reports), pihak-pihak yang menjadi mitra akuntabilitas Anda dalam upaya meningkatkan efektivitas kepemimpinan – sebagaimana kami kerjakan di Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC). Para stakeholders itu pula yang akan memberikan penilaian, apakah Anda benar-benar berhasil menjadi pemimpin efektif. 

    Para stakeholders, pihak-pihak yang terkena impact langsung dari perilaku kepemimpinan Anda, terutama tim Anda, dengan demikian akan merasa “diuwongke” (dihargai sebagai mitra, diangkat harkatnya) karena diajak bertindak proaktif, engaged, ikut memberikan saran dan masukan dalam proses peningkatan efektivitas Anda.

    Di sini sikap legowo (humility) Anda sangat diperlukan. Ini perlu diingatkan, karena sering kita temui para eksekutif yang lebih senang dipuji saja atau hanya mau mendengarkan hal-hal yang sesuai dengan pikirannya. Kalau ada saran, bahkan yang baik sekalipun, mereka anggap sebagai gangguan. Mereka defensif. Atau menyalahkan pihak lain sebagai penyebab dirinya tidak efektif bekerja.

    Realitas seperti itu tentunya mencemaskan, utamanya ketika organisasi harus melakukan akselerasi mengejar target revenue dan profit yang lebih signifikan. Bukankah Ken Blanchard Ph. D, pakar manajemen dan kepemimpinan, sudah mengingatkan, “feedback is the breakfast of champions.

    Selain mengajak anggota tim (direct reports) untuk lebih engaged -- yang berarti juga menyadarkan mereka tentang pentingnya kontribusi setiap anggota tim untuk tujuan-tujuan besar organisasi -- para eksekutif atau yang mengaku sudah memenuhi syarat sebagai leader juga selayaknya memberikan dukungan (skills, psikologis dan perangkat) agar timnya berkembang. Mampu bekerja lebih efektif, memenuhi standar lebih tinggi. Ini yang disebut enabling the team – mereka, tim, sebaliknya perlu diyakinkan being enabled.

    Satu lagi yang juga wajib dikerjakan para leader, yaitu membangun kondisi kerja sehari-hari yang high level of energy, lingkungan kerja jadi ajang kontes produktivitas dan efektivitas, sekaligus melatih mereka menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi, agar tim juga benar-benar being energized.

    Menurut Adrian Gostick dan Chester Elton, para pendiri lembaga konsultan dan pelatihan The Culture Works, tim yang engaged, enabled, dan energized terbukti menghasilkan kinerja unggul. Berdasarkan praktik mereka di lingkungan organisasi multinasional, yang sebagiannya masuk Fortune 500, ketiga unsur tersebut (engaged, enabled, dan energized) mesti komplit, karena saling melengkapi. “They combine as in a chemical reaction, becoming combustible,” kata Chester Elton.  

    Sebagaimana hasil survei Towers Watson terhadap 700 organisasi, berdasarkan data yang dikumpulkan 2009 dan 2010 saja, jika ketiga faktor tersebut lengkap saling mendukung di perusahaan, operating margin bisa dua sampai tiga kali lebih tinggi ketimbang perusahaan yang memiliki tingkat engagement rendah. Itu dapat tercapai bahkan ketika kondisi ekonomi makro sedang tidak bergairah sekalipun (All In, 2012).Towers Watson adalah salah satu lembaga yang termasuk paling dihormati di bidang global research dan professional services.

    Sekarang tugas Anda, para leader, adalah bagaimana mewujudkan ketiga faktor tersebut – engaged, enabled, dan energized – tumbuh dan terkelola dengan baik di dalam tim.

    Di antara Anda mungkin ada yang sudah belajar tentang leadership, plus sejumlah pelatihan lain. Kini tinggal mewujudkannya dalam tindakan nyata, action, show how – dan melakukan perubahan berkelanjutan, continuous improvement, bersama tim, melibatkan para stakeholders. Anda membutuhkan mereka, para stakeholders, seperti gunung memerlukan dataran dan lembah, sebagai penopang.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 553 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin