Selamat Ulang Tahun Bapak Sarwo Edhie Wibowo - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Peran Sarwo Edhie dalam berbagai kejadian di Indonesia, khususnya dalam Tragedi 1965.

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 Juli 2019 07:58 WIB

Selamat Ulang Tahun Bapak Sarwo Edhie Wibowo

Dibaca : 1.182 kali

Judul: Sarwo Edhie dan Tragedi 1965

Penulis: Peter Kasenda

Tahun Terbit: 2016 (Cetakan II)

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tebal: xiv + 218

ISBN: 978-979-709-929-9

 

Salah satu tokoh yang selalu dihubungkan dengan Tragedi September 1965 adalah Sarwo Edhie. Sarwo Edhie Wibowo yang saat itu berpangkat Kolonel dan berposisi sebagai Komandan RPKAD mampu bertindak cepat untuk merebut kembali RRI yang dikuasai kelompok Untung, dan mengamankan Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma serta berhasil menemukan mayat para jenderal yang menjadi korban. Setelah berhasil mengamankan dua obyek vital di Jakarta, Kol. Sarwo Edhie segera menuju Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali untuk menumpas PKI. Ketika menjabat Pangdam Cendrawasih di Irian Barat, Sarwo Edhie juga sangat berhasil. Selain itu Sarwo Edhie juga berperan besar dalam “Operasi Dwikora” (hal. 124).

Namun, meski dianggap banyak berjasa, Sarwo Edhie tidak pernah menduduki posisi yang cukup baik di kemiliteran maupun posisi sipil. Jabatan terakhirnya hanya “sebagai” Gubernur AKABRI. Karier sipilnya pun kurang mentereng. Setelah menjadi Duta Besar di Korea Selatan, ia menjadi Irjen Departemen Luarnegeri, Ketua BP7, anggota DPR dan kemudian pensiun. Sarwo Edhie seakan hanya dibutuhkan oleh Indonesia dalam sebuah krisis besar yang melanda negeri, dan sesudahnya dianggap tidak cocok untuk peran lain (hal. 7).

Buku karya Peter Kasenda ini membahas sangat detail tentang peran RPKAD, khususnya SarwoEdhie dalam penumpasan PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Selain membahas perannya dalam Tragedi 1965, buku ini juga menceritakan siapa Sarwo Edhie.

Peter Kasenda secara meyakinkan menyampaikan bahwa Angkatan Darat terlibat secara mendalam dalam penumpasan PKI dan mereka yang dianggap PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Peran utamanya adalah melatih dan mempersenjatai para sukarelawan dari kelompok pemuda yang kemudian berperan besar dalam melakukan pembunuhan masal. Pemberian pelatihan militer inilah yang nantinya menjadi awal dimulainya pembunuhan massal terhadap pengikut komunis atau mereka yang disangka komunis pasca meletusnya Peristiwa 30 September (hal. 83).

Selain dari pelatihan militer kepada para pemuda, AD juga melakukan kampanye politik yang membuat para sukarelawan melakukan pembunuhan massal. Pembunuhan massal tidak terjadi di Jawa Barat karena dicegah oleh Pangdam Siliwangi.

Siapakah sesungguhnya Sarwo Edhie? Putra pasangan R. Kartowilogo dengan Ray Sutini ini lahir di Purworejo pada tanggal 25 Juli 1925. Sarwo Edhie berasal dari keluarga pejuang. Dari garis ayahnya, mengalir darah pejuang yang melawan penjajah Belanda. Sedangkan dari garis ibu mengalir darah pasukan Diponegoro.

Masa kecilnya Sarwo Edhie sekolah di HIS, kemudian di MULO. Sarwo Edhie sangat suka membaca. Melalui bacaan inilah ia mengetahui sepak terjang Jepang di Perang Dunia II. Ia sangat kagum dengan pasukan Jepang yang secara mudah mengalahkan Belanda di Jawa. Kekagumannya ini membuat dia memutuskan untuk menjadi tentara (heiho). Saorwo Edhie ternyata memang orang yang sangat cocok menjadi tentara. Buktinya ia terpilih sebagai perwira PETA di jaman Jepang (hal. 116). Perannya sebagai militer semakin terlihat saat Jepang kalah. Bersama dengan tentara PETA lainnya Sarwo Edhie melakukan perlucutan senjata tentara Jepang.

Di era kemerdekaan, Sarwo Edhie bergabung dengan BKR Batalyon III yang dikomandani Ahmad Jani (hal. 120). Ia ikut bertempur melawan tentara NICA yang ingin menguasai kembali Indonesia. Pada saat yang sama ia juga terlibat dalam penumpasan pemberontakan PKI Madiun dan DI/TII.

Meski Sarwo Edhie sangat hebat sebagai tentara, namun ia pernah mengalami peristiwa yang membuatnya hampir saja mengundurkan diri sebagai tentara. Saat ia bentrok dengan Sukamdani, ia memilih untuk meninggalkan kompinya dan pulang ke Purworejo. Namun atas bujukan Ahmad Jani ia kembali ke ketentaraan (hal. 121).

Tragedi 1965 diikuti dengan protes mahasiswa yang sangat masif. Para mahasiswa turun ke jalan. Para mahasiswa ini menyerukan Tritura. Protes mahasiswa ini mendapat dukungan dari tentara. Bukan hanya menyediakan sarana seperti truk untuk mengangkut mahasiswa, beberapa tokoh militer juga memberi dukungan dengan datang ke kampus-kampus. Kolonel Sarwo Edhie sendiri datang ke Kampus UI pada tanggal 10 Januari 1966 (hal. 130). Karena keberhasilannya menumpas PKI di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, Sarwo Edhie disambut meriah dan diundang ke kampus UI pada tanggal 10 Januari 1966 dalam rapat umum KAMI. Meski sempat dicoba diredam, dengam pembubaran KAMI, protes mahasiswa malah semakin besar dan membuat tuntutan pembubaran PKI.

Waperdam I Soebandrio adalah salah satu yang sangat lantang ingin mengembalikan revolusi Indonesia ke jalan yang progresif dan revolusioner (hal. 135). Itulah sebabnya mahasiswa sangat memusuhi Soebandrio. Sarwo Edhie membuat pasukan tanpa inisial yang bertujuan untuk membunuh Soebandrio. Sarwo Edhie berpesan mereka boleh menembak “Si Tikus” (Soebandrio asal tidak dekat dengan Presiden Soekarno (hal. 140).

Saat Soeharto menerima Surat Perintah Sebelas Maret, Sarwo Edhie melakukan gelar pasukan untuk menyambutnya. Dalam hal pembubaran PKI sangat jelas bahwa Sarwo Edhie berada di pihak Soeharto dan sangat mendukung.

Soeharto menuntut supaya Soebandrio dipecat. Namun permintaan Soeharto ini ditolak oleh Presiden Soekarno. Penolakan ini dijawab dengan penculikan para menteri oleh KAPPI dan Laskar Arief Rahman Hakim setelah berkonsultasi dengan Kol. Sarwo Edhie dan Brigjen Kemal Idris. Mereka berhasil menangkap beberapa menteri dan membawanya ke markas AD. Menteri lain berlindung di istana. RPKAD ditugaskan untuk menangkap para menteri yang berlindung di istana tersebut (hal 152). Akhirnya tentara berhasil menangkap Soebandrio. Menteri-menteri lain juga ditahan oleh AD.

Setelah menteri-menteri yang tidak dikehendaki disingkirkan dari Soekarno, maka target berikutnya adalah menurunkan Soekarno. Akhirnya pada tanggal 12 Maret 1967, MPRS mencapai kesimpulan bahwa Soekarno telah tidak mampu menunaikan tugas-tugasnya berdasarkan UUD 1945 dan ketetapan-ketetapan MPRS (hal. 166).

Setelah Soekarno berhasil diturunkan, Soeharto mulai melakukan penataan AD. Termasuk memposisikan Jenderal Nasution ke posisi yang tidak mempunyai kekuasaan besar di militer. Soeharto juga menyingkirkan para pimpinan yang dahulu berada di bawah Ahmad Jani.

Saat Sarwo Edhie menjadi Pangdam Bukitbarisan, ia berbeda pendapat dengan Soeharto tentang PNI. Soeharto yang menginstruksikan supaya para penguasa daerah membantu dan memberi kesempatan kepada PNI untuk mengadakan konsolidasi, Sarwo Edhie tidak terlalu setuju. Sarwo Edhie merasa bahwa PNI masih menganut ajaran yang bersumber dari marxisme (hal. 175). Akibatnya ia dipindahkan ke Irian Barat menjadi Pangdam Cendrawasih pada tahun 1968.

Sarwo Edhie berhasil dengan baik mempersiapkan Perpera, sehingga akhirnya Irian Barat bergabung dengan Indonesia. Salah satu keberhasilannya adalah membujuk Lodewijk Mandatjan untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Meski Sarwo Edhie berhasil membuat Irian Barat bergabung ke NKRI, namun pada tahun 1970 ia “hanya” diberi posisi baru sebagai Gubernur AKABRI di Magelang. Artinya ia menjadi Jenderal tanpa pasukan. Pada tahun 1973, Sarwo Edhie pernah ingin mengundurkan diri sebagai Gubernur Akabri. Akhirnya setelah peristiwa Malari pada tahun 1974, ia berhenti sebagai militer dan ditugaskan sebagai Duta Besar untuk Korea Selatan. Pemberhentian Sarwo Edhie sebagai militer ada kemungkinan adalah karena adanya rivalitas di kalangan AD. Yaitu rivalitas antara Ali Moertopo dengan Soemitro.

Sarwo Edie adalah seorang militer sejati. Ia tidak ragu untuk melakukan perannya sebagai militer untuk membantu NKRI.

 

  • tragedi kemanusiaan 1965

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.