Maka Berimajinasilah, dan Jadilah Kreatif - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Seorang artis mural sedang menggarap dinding.

Hasan Aspahani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 Juli 2019 10:46 WIB

Maka Berimajinasilah, dan Jadilah Kreatif

Dibaca : 355 kali

IMAJINASI adalah awal dari penciptaan. Bayangkan apa yang kau dambakan, inginkanlah apa yang kau bayangkan, dan terakhir ciptakanlah apa yang kau inginkan itu ~ George Bernard Shaw (1856-1950), Sastrawan, Kritikus Sastra, Penulis Drama, Esais, berkebangsaan Irlandia, peraih Nobel Sastra tahun 1925.

 

KREATIVITAS. Apakah kreativitas? Definisi umumnya adalah kemampuan seseorang menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai. Apa yang disebut "baru" merujuk pada penciptaan individual atau sekelompok orang yang belum diciptakan orang lain. Apa yang disebut "bernilai" adalah ciptaan baru itu memberi manfaat dalam cara pandang yang luas.


Kata kreativitas berasal dari bahasa Latin “creatus” yang akar katanya adalah “creare” artinya “membuat, meneruskan, menghasilkan, memperanakkan, membiakkan,” dan berkaitan maknanya dengan “crescere” yang berarti “bangkit, tumbuh”.

Dari pelacakan asal kata itu, kita tahu, Bahasa Indonesia punya kata dasar yang padan dengan kata itu, yaitu "membuat" atau "mencipta", dan kita menyerap kata bentukan "creative" dan "creativity" menjadi "kreatif" (kata sifat) dan "kreativitas" (kata benda). Karya adalah wujud dari kreativitas. Kerja adalah jalan mewujudkan kreativitas.

Saya percaya wahyu pertama dari Allah yang disampaikan kepada Rasulullah adalah perintah untuk menjadi kreatif. Dalam surat Al-Alaq (Segumpal Darah) yang di Alquran diurutkan sebagai surat ke-96 itu, kita - lewat Rasulullah diperintahkan mula-mula untuk meng-iqra, membaca, mengkaji: Bacalah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Tuhan - sang pencipta itu - memerintah manusia untuk membaca. Membaca apa? Membaca Dia, membaca alam semesta, membaca diri manusia sendiri. Tuhan mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah, sesuatu yang hina, yang tidak bernilai, lalu - dengan membaca, kita memperoleh pengetahuan, lalu kita mampu menciptakan sesuatu - kita menjadi makhluk yang mulia, yang berharga.

Menurut saya ini adalah hakikat dari kreativitas, yaitu mula-mula menyadari bahwa kita adalah makhluk yang terbatas, lalu menyadari bahwa kita diberi akal untuk mengatasi keterbatasan itu, memuliakan kemakhlukan diri kita sendiri, dan dengan demikian sekaligus mengagungkan Allah yang Maha-Pencipta itu.

Saya percaya manusia sekarang hanya bisa bertahan dengan kreativitas. Saya menafsirkan bahwa apa yang dirumuskan sebagai "survival of the fittest" oleh dua orang proponennya yaitu Charles Darwin dan Herbert Spencer, berkaitan dengan kreativitas. Untuk menjadi individu yang paling pantas untuk bertahan yang diperlukan adalah daya kreatif.

Seleksi alam adalah tangan Tuhan yang bekerja secara gaib. Alam berubah, ini adalah sunatullah. Alam menyeleksi makhluk-makhluk mana yang paling layak untuk bertahan. Dinosaurus punah bukan karena bencana alam dahsyat. Tapi karena hewan yang berbobot 50 kali gajah itu hanya memiliki otak sebesar kotak korek api. Daya pikir dinosaurus tak memungkinkan mereka untuk menjadi makhluk yang kreatif untuk bertahan.

Tetapi apakah volume otak manusia yang membuat kita bertahan? Tidak, ikan paus hidup dengan volume otak yang sangat besar, 9 kilogram dengan 200 miliar sel syaraf. Kita manusia rata-rata punya otak hanya seberat 1,25 hingga 1,45 kologram dengan 85 miliar sel syaraf. Dan kita tahu, kita manusia lebih cerdas dari ikan paus. Jadi, bukan volume otak yang menjadi ukuran kecerdasan makhluk hidup.

Lalu apa? Mungkin rasio tubuh dan otak ikan paus kecil? Tidak juga. Rasio berat otak dan tubuh yang paling tinggi ada pada tupai. Jadi, manusia pun tak bisa sombong dengan keunggulan rasio berat otak dan tubuhnya. Karena lagi-lagi bukan itu yang menentukan kecerdasan dan nilai manusia.

Dengan kapasitas otaknya, ikan paus, tupai, juga binatang lain, bisa bertahan hidup. Ada perubahan-perubahan kecil yang membuat mereka bisa bertahan, menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan hidup mereka, tapi peradapannya tidak berkembang. Itu yang membedakan kita manusia dengan mereka para binatang.

Ya, kita hidup di alam yang berubah, dan terus-menerus menguji kita. Kita hidup, bertahan, dan menyesuaikan dengan perubahan alam itu. Kita harus berubah. Kita dipaksa untuk berubah. Atau bisa juga kita yang merancang perubahan pada diri dan hidup kita.

Tuhan memerintahkan manusia untuk merancang perubahan hidupnya sendiri. Ada sebuah ayat yang sangat masyhur berkaitan dengan hal ini yaitu QS Surat Ar-Ra'd (XIII) ayat ke-11: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah.

Apa artinya? Artinya, Allah mengingatkan bahwa perubahan itu adalah kerja kolektif. Bukan kerja individu. Kalaupun ikhtiar perubahan itu diandalkan pada kerja individu, tapi perubahan yang berharga itu dampaknya meluas, terasa pada komunitasnya, pada kaumnya.

Perintah untuk mengorganisasi diri, menyusun kekuatan, merapatkan barisan, ambil bagian dalam kerja besar merancang perubahan ke arah yang yang lebih baik harusnya kita dengar sebagai gelegar, sebagai guruh, sebagaimana Ar-Ra’d, nama ayat itu, yang berarti “guruh”, suara gelagar nun dari langit sana itu.

Daya kreatif, kata penyair besar kita W.S. Rendra, adalah kemampuan untuk beraksi dan beraksi secara unik, penuh kepribadian, tidak sekadar berdasarkan kebiasaan yang umum.

Kenapa kita harus kreatif? Karena manusia punya daya yang terbatas, tetapi Tuhan memberi alam yang membentangkan kemungkinan yang tidak terbatas. Kreativitaslah yang membuat manusia bisa melampaui keterbatasannya dan mempertemukan dengan kemungkinan yang tak terbatas tersebut.

Ya, manusia, kata Rendra, adalah gabungan dari kemungkinan dan keterbatasan. Ada batas untuk cita-cita dan perencanaan manusia. Ada batas kenyataan alam yang harus diperhatikan.

"Manusia yang kreatif justru memperhatikan keterbatasan dan kemungkinan yang ada di dalam dan di luar dirinya," kata Rendra. Berkat kemauan dan kemampuannya, mereka berusaha agar kemungkinan itu bisa ada.

Gairah usaha sangat menentukan dalam dalam mengolah keterbatasan menjadi kemungkinan. "Mempertahankan kepribadian adalah mengolah kemampuan berusaha untuk menjawab tantangan hidup," ujar Rendra.

Kita hidup di dunia dengan banyak hal yang dulu dianggap tidak mungkin ada. Dulu, tak terbayangkan hidup dengan begitu mudahnya kita berpindah tempat. Satu hari saya pernah berada di empat kota: Balikpapan, Jakarta, Batam, dan Kualalumpur. Pesawat yang bisa membawa manusia terbang, dulu hanyalah ada dalam mimpi besar umat manusia berabad-abad, sampai kemudian Wright Bersaudara, Wilbur dan Oliver mengimajinasikannya, dan menciptakan model pesawat pertama.

Saya mengetik naskah ini di MacBook Air. Laptop canggih ini, di awal abad ini, tak terbayang akan ada. Komputer tak terbayang akan jadi produk massal seperti sekarang. Bahkan seorang Chairman IBM, dulu, di tahun 1943, pernah berkata, “Saya kira pasar dunia komputer mungkin kira-kira lima komputer!”

Seorang yang kreatif adalah seorang yang bukan hanya mampu melihat masalah saat ini. Tapi juga mampu melihat masalah apa yang akan dihadapi manusia kelak dan mencarikan jalan keluarnya sekarang. Kita bisa melihat sosok itu pada diri Bill Gates. Ketika memulai Microsoft dia dan mitra pendirinya punya mimpi besar: menghadirkan komputer di setiap meja, di setiap rumah. Dia melawan apa yang diyakini oleh chairman IBM, dan Gates benar.

Saya memulai tulisan ini dengan mengutip George Bernard Shaw. Imajinasi kata pemikir besar itu, adalah awal dari penciptaan, creation. Tapi imajinasi tak berhenti di situ. Ia harus diwujudkan. Secara sederhana, dengan kutipan itu, saya ingin katakan bahwa menjadi kreatif itu itu mudah. Hanya perlu memulai dengan imajinasi. Dan itu dimiliki oleh semua orang. Berimajinasilah. Kreatiflah!

Image by Arek Socha from Pixabay

  • tulisankreatif

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.