Hakikat Kebahagiaan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi wanita bahagia. Unsplash.com

danar dono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Juli 2019

Rabu, 31 Juli 2019 10:20 WIB

Hakikat Kebahagiaan

Dibaca : 347 kali

Pengantar

Manusia adalah makhluk yang senantiasa mencari kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Sifat inilah yang menjadi salah satu sifat dasar manusia. Sifat ini mendorong manusia untuk senantiasa mengejar kebahagiaannya masing-masing. Ada manusia yang menjadikan pasangan hidup sebagai sumber bahagiaan, ada pula yang menjadikan harta sebagai sumber kebahagiaan, dan ada pula yang menjadikan kekuasaan/jabatan sebagai sumber kebahagiaan. Orang-orang menyebut sebagai harta-tahta-wanita itu kebahagiaan dunia. Pertanyaan adalah apakah ‘kebahagiaan dunia itu’ layak disebut sebagai kebahagiaan?  Jika ada yang menyebut manusia itu menginginkan kebahagiaannya, statemen ini tidaklah keliru; namun akan menjadi “keliru” jika mereka salah menempatkan sumber-sumber kebahagiaan itu sendiri – khususnya harta-tahta-pasangan – tanpa  memahami arti dari “kebahagiaan” itu sendiri? Layakkah yang mereka sebut sebagai kebahagiaan itu disebut sebagai kebahagiaan? Marilah kita diskusikan bersama!

Hakikat Kebahagiaan

Apa yang anda pahami mengenai kebahagiaan? Menurut KBBI, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Sedangkan, kebahagiaan adalah kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yg bersifat lahir batin. Kata “kebahagiaan” digunakan untuk mendefinisikan suatu “keadaan” di mana seseorang merasa tentram, damai, nyaman, dan senang hati, bebas dari rasa duka dan susah.

                Dari pengertiaan secara literal ini, kita memahami bahwa sesuatu dikatakan sebagai “kebahagiaan” jikalau memenuhi aspek-aspek: (1) dapat membawa pada perasaan senang dan (2) tenteram. Senang merupakan perasaan puas, lega, tanpa rasa susah atau kecewa. Tenteram berarti aman, damai, terbebas dari mara bahaya, atau menenangkan hati.

                Sesuatu yang tidak membawa pada kesenangan dan ketenteraman tidaklah patut dikatakan sebagai “kebahagiaan”. Kalau pun “sesuatu” membawa pada kebahagiaan, namun sering berjalannya waktu membawa kepada kesusahan, kekecewaan, kegundahan, atau bahkan bahaya; maka “sesuatu” itu tidak layak disebut sebagai “kebahagiaan” lagi. Kalau pun ia disebut sebagai “kebahagiaan” maka sesuatu itu pastilah kebahagiaan yang fana atau kebahagiaan sementara yang akan sirna, hilang, lenyap, dan tak bersisa sedikit pun kecuali kesusahan, keresahan, dan mara bahaya.

                Berdasarkan pengertian di atas, kebahagiaan itu dapat diketegorisasikan menjadi 2 macam   berdasarkan waktunya yakni:

  1. Kebahagiaan hakiki yakni kebahagiaan yang akan terus membawa pada perasaan senang dan tenteram untuk selama-lamanya kepada subjek yang dikenai keadaan bahagian ini.
  2. Kebahagiaan fana yakni kebahagiaan yang bersifat sementara, yakni kebahagiaan yang membawa pelakunya pada perasaan senang dan tenteram untuk jangka waktu tertentu, hingga akhirnya sifat bahagia itu sirna dan/atau digantikan oleh sifat kebalikkan dari kebahagiaan, seperti penderiaan, keresahan, dan mara bahaya.

Nah, selanjutnya kita perlu memahami arti dari kebahagiaan dunia itu berdasarkan standar ukuran kebahagiaan yang kita tetapkan yakni kebahagiaan itu harus membawa pada perasaan senang dan tenteram. Selanjutnya kita menilai sumber kebahagiaan itu apakah akan terus-menerus membawa pada keadaan bahagia atau tidak. Kemudian kita golongkan sumber kebahagiaan itu berdasarkan tempo/rentang waktunya, apakah hakiki atau fana. Demikianlah prosedur menilai sumber kebagiaan kebahagiaan (sesuatu yang membawa kepada keadaan senang dan tenteram disebut sebagai “sumber kebahagiaan”.

  • bahagia

Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.