Memuliakan Pengasuhan Generasi Penerus - Viral - www.indonesiana.id
x

Muhammad Itsbatun Najih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 12 Agustus 2019 17:41 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Memuliakan Pengasuhan Generasi Penerus

    Dibaca : 376 kali

    Bagaimana pemuliaan terhadap anak? Pemuliaan mengandung artian tidak sekadar mengasuh, merawat. Mengasihi dan menyayangi tidak bisa dicukupkan dengan pemenuhankebutuhan lahiriah. Anak pun perlu penanaman mental ketegasan dari orangtua dan lingkungan; mengikis sikap manja yang bisa berdampak buruk kelak dewasa.

    Buku ini mengurai renik-renik tumbuh kembang anak semenjak masa prenatal hingga memasuki sekolah PAUD. Membubuhkan pembahasan rinci dengan menandaskan kepada orangtua berkait pola pertumbuhan ragawi-jasadi. Banyak anak terlahir normal, tapi di masa perkembangan, mengalamikelainan fisik atau mental. Banyak sebab yang melatarbelakangi. Karena itu, orangtua mesti jeli-seksama mengetahui sebab-musababnya yang menurut penulis buku, ternyata bisa dideteksi sejak dini untuk kemudian bisa dicegah.

    Fenomena sosial mutakhir membabarkan tidak sedikit orangtua menyerahkan pengasuhan anak kepadababy sitter (pengasuh anak) --berusia remaja yang kini eksistensinya banyak dijumpa di masyarakat perkotaan. Sedangkan masing-masing orangtua keluar rumah pagi-pagi sekali hingga larut malam berdalih mengejar karier. Sayangnya, tidak sedikit baby sitter kurang literasi-kurang cakap perihal pengasuhan. Fakta sosial ini seakan menegaskan anak kurang mendapatkan pemuliaan pengasuhan. Konsekuensinya, tumbuh kembang si anak tidak optimal dan bisa berimbas negatif ke depannya.

    Secara tersurat, buku ini bisa menjadi semacam buku saku/panduan bagi orangtua (baca: keluarga/pasangan muda) dan baby sitter dalam mencermati tiap gerak si anak secara berkala. Polah si anak --dan bayi-- butuh diarahkan, dirangsang, dan dilatih. Selain bertujuan memastikan tumbuh kembangnya berlangsung normal, juga untuk mengetahui pada aspek lain: kemampuan bersosialisasi, kemandirian, berbicara-berbahasa. Semisal, pada bayi usia lima belas bulan, apakah untuk menunjukkan benda yang diinginkannya, dengan cara merengek, menangis, atau menunjuk-tunjuk (hlm: 115). Kesemuanya mempunyai artian dan penyikapan berbeda.

    Ada babaran menarik tentang relasi ideal pengasuhan antara Ayah dan Ibu. Yakni, keduanya tidak bisa dipertentangkan. Melainkan untuk saling melengkapi. Lantaran baik pengasuhan model Ayah (fathering) atau ala Ibu (mothering), masing-masing mempunyai karateristik untuk saling menunjang. Jadi, tidak bisa kemudian pengasuhan anak hanya dibebankan kepada salah satu orangtua. Meskipun, di sisi lain, pengasuhan mothering lebih membawa pengaruh (keterkesanan) terhadap tumbuh kembang anak (hlm: 54).

    Relasi antara fathering dan mothering yang bersifat saling menunjang adalah perihal urusan menyusui. Oeh ahli parenting, idealnya dan mestinya, menyusui bukanlah semata tugas Ibu. Melainkan juga butuh peran-serta Ayah untuk mendukung kesuksesan menyusui. Kala menyusui yang tentunya mengeluarkan banyak energi sehingga sebabkan rasa lapar maupun haus, di sinilah kontribusi Ayah untuk sekadar menghidangkan makanan cemilan dan membawakan minuman segar. Ayah juga bisa membantu membawa si buah hati yang tengah lapar ke ibunya seraya membantu menempatkan si bayi dalam dekapan untuk disusui. 

    Kehadiran fisik orangtua merupakan bagian yang tidak boleh dinihilkan. Interaksi komunikasi dengan menggunakan ponsel, misalnya, terbilang belum cukup.  Meski orangtua membersamai anak dalam menonton televisi --dalam rentang berjam-jam-- atau bermain dalam ruang maya (virtual world), teranggap justru bakal perburuk perkembangan si kecil (hlm: 55). Anak dan orangtua dipacu untuk bermain bersama di luar rumah, tanpa embel-embel menggunakan perangkat gawai –yang kurang baik untuk kesehatan fisik dan mental. Di sanalah anak terstimulus pada pembelajaran akan realitas dan imajinasi secara hakiki. Tempo interaksi fisik anak-orangtua bisa tiap pagi-tiap jelang tidur atau di akhir pekan: Sabtu dan Ahad (weekend).

    Kompleksitas zaman senyatanya mengandaikan aneka perubahan pola asuh anak. Butuh kearifan sekaligus kritisisme untuk menggaransi tumbuh kembang para generasi penerus tetap berada di jalur (on the track), tidak sampaioff side. Pesan implisit buku ini cukup menarik: bahwa pengasuhan ideal era masyarakat berbasis 4.0 seperti hari ini, bukanlah berdasar hitam-putih, bermuara salah-benar. Fenomena anak mengakrabi gawai dan maraknya baby sitter perlu pandangan yang bijak, bukan  penghakiman. Kiranya terus diperlukan rumusan ulang dan inovasi untuk bisa diformulasikan mencari model ideal pengasuhan anak era kini.   

     

    Data buku:

    Judul: Tumbuh Kembang Anak

    Penulis: Dr. Tri Sunarsih

    Penerbit: Rosda, Bandung

    Cetakan: Agustus, 2018

    Tebal: 176 halaman

    ISBN: 978-602-446-250-5


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.