Karya Mahasiswi Desain Produk UPH Yang Tembus Pasar Internasional Hadir di Pameran INDDEX - Viral - www.indonesiana.id
x

Rosse Hutapea

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Agustus 2019

Selasa, 13 Agustus 2019 18:29 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Karya Mahasiswi Desain Produk UPH Yang Tembus Pasar Internasional Hadir di Pameran INDDEX

    Dibaca : 1.497 kali

    Beberapa hasil karya mahasiswi Program Studi Desain Produk School of Design Universitas Pelita Harapan (SoD UPH) yang sudah berhasil menembus pasar internasional, hadir di pameran ajang kreativitas International Degree Design Exchange (INDDEX) yang digelar pada 1 Agustus 2019 lalu, di Bintaro Jaya X-change. Agnesia Cahaya, salah satu mahasiswi dari UPH memamerkan koleksi tas perempuan dengan menggunakan material ramah lingkungan dan organik. Koleksi tas perempuan ini telah berhasil menembus pasar Internasional karena telah dijual di Bali hingga Amerika Serikat. Hasil karya yang dipamerkan ini juga karya merupakan tugas akhir para mahasiswa,. Nilai bisnis dari karya ini juga menjadi poin terpenting dalam penilaian tugas akhir para mahasiswa.

    Saat ditemui di ajang INDDEX, Agnesia mengatakan bahwa koleksi tas ini terbuat dari kain yang diwarnai dengan tanaman indigo dan tanaman nila yang dikenal untuk dicampur dengan material rotan dan menjadi salah satu material yang dibanggakan Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa koleksi tas yang ia miliki merupakan tas berbentuk bulat yang telah menjadi tren dari tahun kemarin hingga saat ini.

    “Tas saya ini mempunyai tipe yang medium, yang microbag ukuran 15x20 cm, bucket bag yang sedang trend banget dengan ukuran 18x25 cm. Ini memang koleksi handbag. Tas ini punya unsur etnik dan moderen yang jadi satu,” ungkap Agnesia sambil menunjukkan salah satu karyanya.

    Berbeda dari koleksi tas pada umumnya, koleksi tas Agnesia sangat unik karena mengkombinasikan bahan denim dengan rotan. Bahan denim yang digunakan pun bukan berasal dari pabrik, melainkan berasal dari white denim yang diwarnai dengan tanaman indigo sehingga warna denim dapat ditentukan sesuai dengan keinginan.

    Ajang INDDEX ini digelar oleh Universitas Pembangunan Jaya dan UPH, yang juga berkolaborasi dengan Universitas Teknolgi Mara dari cabang Malaka Malaysia, Universitas Teknolgi Mara dari cabang Shah Alam Malaysia, dan Universitas Teknolgi Mara dari cabang Sri Iskandar Perak Malaysia.

    Agnesia pun mengakui bahwa ajang Inddex ini sangat berguna baginya karena menambah wawasan tentang proses belajar dari perguruan tinggi Malaysia. Selain itu, dengan mengikutin ajang ini ia menjadi tahu tentang tugas-tugas akhir dari Negara lain dan dapat mempelajari produk yang dihasilkan oleh mereka.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.119 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).