Memupuk Semangat Kebangsaan melalui Film Bumi Manusia - Seleb - www.indonesiana.id
x

Rian Antony

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Agustus 2019

Selasa, 20 Agustus 2019 18:40 WIB
  • Seleb
  • Pilihan
  • Memupuk Semangat Kebangsaan melalui Film Bumi Manusia

    Dibaca : 1.384 kali

    Aku berharap tulisan ini bukan spolier bagi siapa saja yang belum menonton Film Bumi Manusia. Aku hanya berharap tulisan ini bisa membawamu untuk lebih menikmati setiap science dalam film ini.

    Dirgahayu Indonesia, Dirgahayu Perfilman Indonesia.

    17 Agustus merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, hari tersebut merupakan awal perjuangan bangsa Indonesia dalam bingkai kesatuan berbangsa dan bernegara. Meskipun demikian, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memperingati hari kemerdekaan. Ada yang menunggu meriahnya upacara bendera, ada juga yang menunggu ramainya bermain bola, bahkan ada juga yang menunggu bebas dari penjara. Apapun itu yang jelas hari kemerdekaan menjadi hari yang istimewa, di mana semua orang bisa saling menyapa, tertawa dan bahagia.


    Sebagai mahasiswa, aku memiliki cara yang berbeda. Kali ini aku memperingati hari kemerdekaan dengan menonton film Bumi Manusia bersama teman-temanku. Menurutku inilah salah satu cara yang harus dilakukan setelah mengikuti upacara bendera.

    Menonton film yang penuh makna tentang bumi dan persoalannya.

    Secara teori, film merupakan salah satu media komunikasi audio visual untuk menyampaikan sebuah pesan kepada sekelompok orang. Melalui film, sebuah pesan yang rumit dapat dengan mudah tersalurkan. Oleh sebab itu, film memiliki potensi yang besar dalam mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap realitas yang terjadi.

    Meskipun demikian, difilmkannya Bumi Manusia memunculkan banyak kekhawatiran dari penikmat sastra. Aku menyadari jika kehawatiran itu muncul karena mereka tidak ingin esensi sebenarnya tentang perjuangan di era kolonialisme dan perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa akan hilang. Apalagi Novel Bumi Manusia bukan sekadar perjuangan cinta semata, namun novel progresif yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme dan perjuangan dalam diri seseorang.

    Bahkan, dalam beberapa literatur, banyak kalangan yang menyebut jika masterpiece karya Pramoedya Ananta Toer ini bukan lagi sebatas novel, melainkan sudah dianggap sebagai dokumen sejarah yang menggambarkan pergulatan dan perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme.

    Anggapan itu bukan hanya sebuah imajinasi semata, namun benar-benar aku rasakan.

    Bagaimana tidak, film yang berdurasi hampir 3 jam ini telah membawaku untuk berimajinasi ketempat yang tidak pernah terpikirkan olehku. Ia telah berhasil membawaku untuk lebih memaknai tentang cinta, tanggung jawab, perjuangan, kesetaraan dan nasionalisme. Oleh sebab itu, aku sangat memaklumi jika masterpiece ini sangat berbahaya pada masa nya.

    Film besutan Hanung Bramantyo ini telah menyadarkanku tentang buruknya pemahaman dan imajinasiku terhadap kerasnya kehidupan di masa kolonialisme hingga pahitnya perjuangan para pahlawan bangsa dalam memperoleh kemerdekaan. Aku menyadari jika film ini telah membuka jendela pengetahuanku tentang sejarah bangsaku sendiri.

    Film ini berhasil membuatku marah, sedih, tertawa bahkan menangis melihat realitas ketidaksetaraan yang dirasakan oleh bangsaku, oleh nenek moyangku sendiri. Bahkan dalam media sosialku aku sempat menulis, kalau aku menjadi Minke, apakah yang akan aku lakukan? Apakah yang akan aku perjuangkan? dan Apakah yang akan aku harapkan? Akankah cinta benar-benar mampu membuatku memperjuangkan kemerdekaan di tanah leluhurku?

    Dosenku pernah mengatakan bahwa film yang baik tercermin dari adegannya yang mudah untuk diingat oleh penonton. Tercermin pula dari peranan, penggambaran dan sinematografinya. Aku pikir film ini memenuhi kriteria itu. Apalagi film ini sangat tepat baik dalam timing dan positioning nya.

    Aku teringat sebuah kata indah yang ada dalam film ini, bahwa “dengan melawan kita tidak sepenuhnya kalah”. Aku juga ingat kata-kata Minke saat berlutut dihadapan ibunda nya “duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi dan persoalannya.

    Saat ini bumi Indonesia sedang menghadapi berbagai masalah. Radikalisme, terorisme, separatisme, korupsi, narkoba, hoaks hingga pelecehan seksual. Keadaan ini tentu tidak bisa dibiarkan. Generasi muda tidak bisa apatis, generasi muda harus melawan. Melawan dengan terlibat aktif dalam berbagai diskusi publik. Melawan dengan aktif dalam berbagai gerakan literasi media. Melawan dengan memperkuat barisan untuk bersama-sama menyuarakan hak-hak masyarakat. Karena hanya dengan melawan kita bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik, maju dan sejahtera.

    Generasi muda harus menyadari jika Indonesia adalah rumah bersama. Jangan pernah kita membiarkan ibu pertiwi menangis kembali. Menangis karena sikap dan tindakan kita yang tidak menghargai jasa-jasa para pejuang. Menangis karena perbuatan kita yang semakin intoleran terhadap sesama. Akan tetapi, buatlah ia tersenyum, tersenyum karena cinta dan kebersamaan, karena prestasi dan kerja keras, karena persahabatan dan kerukunan umat beragama.

    Sebagai generasi muda, aku begitu optimis jika kita bisa membuat ibu pertiwi tersenyum bahagia jika mata yang saling terbuka, mulut yang saling menyapa, tangan yang semakin banyak menolong, hati yang semakin menyatu dan kaki yang semakin jauh melangkah. Karena dengan itu semua bumi bisa hidup tanpa memikirkan persoalannya.

    Bung Karno dalam pidatonya pernah mengatakan jika bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. Maka dari itu, generasi muda tidak boleh melupakan sejarah dan perjuangan bangsanya sendiri. Pengetahuan tentang sejarah harus terus dipupuk agar kita semakin mengerti bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah perjuangan bersama. Pejuangan semua suku, semua agama dan semua lapisan bangsa yang tergabung dalam sebuah ikatan persaudaraan dan kesetaraan.

    Pada akhirnya aku tidak ingin terlalu banyak berkomentar tentang film ini. Aku hanya berharap agar film ini bisa disambut baik oleh semua kalangan. Bukan hanya sebagai bentuk apresiasi terhadap film karya anak bangsa, namun juga sebagai tempat untuk memupuk rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap kesetaraan.

    Selamat ulang tahun bangsaku, semoga semangat nasionalisme kian membara dalam diri bangsamu.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.