Berantas Buta Aksara via GEBER BURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Sabtu, 24 Agustus 2019 10:15 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Berantas Buta Aksara via GEBER BURA (GErakan BERantas BUta aksaRA)

    Dibaca : 453 kali

    Tanggal 8 September telah ditetapkan sebagai Hari Aksara Internasional atau Literacy Day. Poin pentingnya, jadikan Hari Aksara sebagai momentum untuk memberantas buta aksara yang tersisa. Ajak masyarakat untuk lebih gemar membaca dan menulis sebagai bagian dari upaya pencerdasan diri.  Agar terwujud masyarakat yang literat, masyarakat yang sadar ilmu dan sadar informasi. Karena masyarakat literat pula yang mampu membendung hoaks, mwnjauh dari fitnah bahkan mampu menyeleksi setiap berita. 

     

    Karena saat ini, masih ada sekitar 3,4 juta orang Indonesia yang masih dalam keadaan bita huruf. Maka di momentum Hari Aksara Internasional, sangat penting melakukan aksi nyata pemberantasan buta huruf di sekitar kita. Maka Hari Aksara Internasional, jangan lagi diperingati secara seremonial. Tapi lakukan gerakan untuk mendeteksi orang-orang di lingkungan kita, di dekat kita yang masih buta huruf untuk segera dibantu belajar baca dan tulis. Agar lebih berdaya dan memiliki martabat setara dengan yang lainnya. Jangan biarkan kaum buta huruf makin terpinggirkan di era serba teknologi kini.

     

    Memang tidak mudah membangun masyarakat yang literat. Tapi harus ada komitmen untuk memacu gerakan memberantas buta huruf. Untuk mewujudkan masyarakat yang melek huruf secara paripurna. Karena faktanya, hari ini masih ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang tidak bisa baca dan tidak tulis. Seperti yang terjadi di Kaki Gunung Salak Bogor. Jangankan baca dan tulis, mengingat tanggal kelahiran dan umur berapa sekarang pun dia tidak tahu?

     

    Berangkat dari itulah didirikan GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBER BURA) Lentera Pustaka; sebuah gerakan sosial untuk memberantas buta huruf yang dipelopori oleh Syarifudin Yunus, dosen Universitas Indraprasta PGRI Jakarta yang setiap hari Minggu siang mendedikasikan waktunya untuk mengajar kaum buta huruf di GEBER BURA.

    Dengan anggota 6 orang, GEBER BURA saat ini mengajarkan baca dan tulis para ibu-ibu. Tentu, upaya pemberantasan buta huruf ini pun diharapkan dapat diikuti oleh ibu-ibu lainnya. Tanpa rasa gengsi ataupun malu demi terbebas dari belenggu belum melek aksara.

    "GEBER BURA ini hadir atas kepedulian. Agar jangan ada lagi kaum buta huruf di dekat kita. Memang butuh trik dan cara yang pas untuk mengajar baca dan tulis pada kaum buta huruf. Harus sabar dan oenuh komitmen.  Karena bila tidak pas, terlalu mudah bagi kaum buta huruf untuk "tidak datang lagi" dan berhenti belajar baca dan tulis" ujar Syarifudin Yunus yang saat ini tengah menempuh studi S3 Manajemen Pendidikan di Pascasarjana Unpak Bogor.

     

    Melalui metode "be-nang" alias belajar dengan senang, GEBER BURA selalu memberikan tugas PR untuk melatih baca dan tulis, mengeja kata, hingga maju ke depan untuk membaca dan menulis. Dan sejak 8 bulan ini, hampir semua peserta GEBER BURA sudah mampu mengenal huruf, mengeja hingga menulis kata yang sederhana.

     

    Menariknya, belajar baca dan tulis di GEBER BURA pun setiap peserta memperoleh "oleh-oleh" tiap kali datang belajar, seperti mendapat seliter beras atau jajan bakso dan sebagainua sebagai pemancing lain agar ibu-ibu semangat dan mau datang setiap pertemuan baca tulis. Sebutlah, iming-iming agar semangat baca dan tulis.

     

    "Saya berusaha bikin belajar senang bagi kaum buta huruf. Maklum karena ibu-ibu dan relatif usia di atas 40 tahun, jadi kalau mereka datang di hari Minggu setelah selesai mengajar, saya berikan satu liter beras untuk dibawa pulang.  Terus siapa yang duluan selesai satu lembar menulis, nanti dibelikan bakso bareng-bareng atau es cincau," tambah Syarifudin Yunus yang alumni UNJ.

     

    Maka di momentum Hari Aksara, GEBER BURA Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak mengajak masyarakat saling bahu-membahu untuk memantapkan program pemberantasan buta huruf. Karena tidak perlu alasan untuk peduli berantas buta huruf. Karena di zaman yang serba modern dan serba digital seperti sekarang, jangan ada orang-oramg yang tersisih akibat tidak bisa baca dan tulis.

     

    Sungguh, pemberantasan buta huruf sekecil apapun hanya butuh kepedulian dari pihak-pihak yang mampu dan bisa. Karena tanpa kepedulian, mereka tidak akan pernah terbebas dari keadaan buta huruf yang makin membuat terpinggirkam dan tidak berdaya. Kita  bukanlah atas apa yang kita banggakan, melainkan atas apa yang kita tinggalkan. "Barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya di bumi, maka Allah menyuruh penghuni langit untuk memudahkan urusan ia di dunia dan kelak di akhirat Allah akan memudahkan urusannya". (HR. Bukhori)

     

    Berantas buta huruf, kalau bukan kita siapa lagi? #GeberBura #LenteraPustaka


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.