Hilangnya Rasa Malu, Tanda Omong Kosong Dimulai - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 29 Agustus 2019 15:30 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Hilangnya Rasa Malu, Tanda Omong Kosong Dimulai

    Dibaca : 819 kali

    Tiba-tiba saja, siang ini ada telpon penerbit langganan saya.

    “Pak, naskah buku menulis ilmiah sudah selesai belum. Biar kami segera cetak” ujarnya. Saya pun meminta maaf. “Maaf belum kelar, Mas. Insya Allah segera saya selesaikan ya”. Sementara jadwal perkuliahan 2 minggu lagi sudah dimulai. Dan naskah buku “menulis ilmiah” yang sudah 70% dari tahun 2018 pun. Hingga kini belum selesai.

    Saya malu. Menulis buku kok, gak kelar-kelar. Saya malu, malu, malu sekali. Lebih baik malu-malu menatap matanya dari depan. Daripada terlalu mahir membicarakannya di belakang. Apalagi diam-diam tanpa malu.

     

    Saya malu. Ini sebuah pengakuan. Lebih baik mengaku malu daripada tidak sama sekali. Lebih baik malu-malu menatap matanya dari depan. Daripada terlalu mahir membicarakannya di belakang. Apalagi diam-diam tanpa malu.

     

    Saya malu. Ya, malu. Sebagi sikap dan respon atas keteledoran saya. Karena gagal menyelesaikan naskah buku, dari setahun lalu pun belum kelar. Tinggal 30% alias 60-an halaman, kok belum rampung juga. Sekali lagi, malu saya.

     

    Saya malu. Itu manusiawi lagi lumrah. Seperti salah pun manusia. Asal disadari. Daripada kehilangan rasa malu, lebih baik mengaku malu. Maka saya, sama sekali tidak malu mengakui kebodohan saya terhadap apa yang saya tidak ketahui. Agar saya, jangan merasa tidak malu pada apa-apa yang banyak saya tuturkan padahal saya hanya tahu sedikit saja.

     

    Saya malu. Tidak apa-apa. Asal jujur, tanpa gengsi dan tanpa perlu merasa harga diri jatuh. Tidak sama sekali. Siapapun pantas malu, bila tahu alasannya. Malu itu memang ada tempatnya. Saat kapan harus malu, saat kapan tidak perlu malu. Karena malu; ada yang benar, ada yang salah.

     

    Malu itu benar.

    Bila saya tahu dan sadar diri. Malu tidak mampu menyelesaikan naskah buku pada waktunya. Persis sama benarnya bila malu saat mencuri, korupsi atau bertindak kriminal. Malu-lah saya bila mencontek, bila tidak mampu memberi contoh baik. Apalagi memarkir kendaraan di tempat yang dilarang atau memakai gelar sarjana palsu, pasti malu saya. Malu bila pinjam uang tidak dikembalikan, malu ngomongin orang keburukan orang sementara saya sendiri tidak ada prestasinya. Naik kereta apai tidak bayar pun harus malu. Dan saya paling malu, bila beragama tapi tidak mau ibadah. Hanya bernasehat tanpa mau berbuat, itu pasti saya malu. Malu yang benar…

     

    Sementara malu itu salah.

    Bila saya tidak tahu dan tidak sadar diri. Malu untuk meminta maaf, itu salah. Malu mengakui kebodohan dan kekurangan. Malu karena kalah dalam pilpres atau pilkada, malu membeli barang kreditan. Mengakui membuat keputusan salah pun, termasuk malu yang salah. Malu pakai baju lama saat lebaran, malu bertanya akhirnya sesat di jalan. Malu pakai baju adat saat nikah. Atau malu hidup sederhana padahal semua yang diperoleh caranya halal. Malu mengakui hanya bisa mencari belum bisa memberi. Ahh, semua itu, malu yang salah.

     

      

    Malu itu lumrah, tentu bukan hanya di seminar saja. Malu itu perbuatan; asal tahu mana malu yang benar dan mana malu yang salah. Jangan karena gengsi, harga diri, kurang cerdas, atau tidak jujur akhirnya kita tidak mau mengaku “malu”.

     

    Bahkan saya lebih malu. Bila mencari pengakuan sosial yang lebih tinggi dari status saya yang sebenarnya. Lebih baik saya malu, karena belum menyelesaikan naskah buku yang seharusnya segera diterbitkan. Saya malu.

     

    Sebab hilangnya rasa malu adalah tanda pertama sebuah omong kosong… #TGS #MenulisIlmiah


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.