Diversitas Gender dan Kebudayaan Nusantara - Analisa - www.indonesiana.id
x

Fariany M Inglesjz

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Agustus 2019

Kamis, 29 Agustus 2019 18:15 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Diversitas Gender dan Kebudayaan Nusantara

    Dibaca : 376 kali

    Berbicara tentang diversitas gender sesungguhnya adalah bagian dari budaya asli kita, bukan semata-mata pengaruh asing atau gaya hidup liberal. Bukan pula gaya hidup komunis yang juga acapkali disimplifikasi sebagai ideologi tak bertuhan, yang masyarakat kita anggap sebagai gaya hidup bangsa barat yang terlampau modern. Diversitas gender ada sejak dahulu di sini, menembus budaya atau konsep tradisional dan modern. Menyatu dengan adat istiadat karena gender dan variasi seksualitas sebenarnya hal paling alamiah. Seksualitas juga erat kaitannya dengan hal-hal yang saat ini dianggap tabu.

    Budaya nusantara sejatinya merangkul segala norma yang dewasa ini oleh sebagian kaum dicap sebagai budaya barat. Mulai dari diversitas gender, keterbukaan, hingga kesenian erotis. Situs-situs dan literatur peninggalan sejarah yang merupakan pusaka bangsa, melegitimasi bagaimana masyarakat timur menerima dan sesungguhnya melahirkan sendiri norma-norma tersebut. Contohnya bagaimana masyarakat Jawa menggambarkan kehidupan seks mereka, sebagaimana terpahat dalam relief Candi Borodur di Jawa Tengah. Candi Borobudur memiliki 1460 panel relief dan 504 stupa. Dari panel relief tersebut, banyak digambarkan adegan seks dalam berbagai posisi. Panel-panel yang terletak di bagian paling bawah, yang disebut "Kamadhatu", yang sekaligus dijadikan sebagai pondasi candi. Panel relief yang tersembunyi ini menggambarkan adegan Surta Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat kehidupan, yakni gambaran perbuatan yang mengikuti hawa nafsu seperti bergosip, membunuh, menyiksa dan memperkosa. Candi Borobudur sendiri telah ada sejak abad ke-9.

    Tidak lupa juga dengan kitab sastra Jawa karya Pangeran Adipati Anom yang pengerjaannya dibantu oleh Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I), dan Raden Ngabehi Sastradipura.  Kitab tersebut bernama serat Centhini yang disebut-sebut lebih dahsyat dari kitab Kamasutra yang termahsyur akan kiat-kiat bercinta nya. Serat Centhini berisi ratusan tembang jawa yang di antaranya mengandung ajaran, nasihat, dan kisah erotika bercampur mistisme.

    Dalam karya sastra yang ditulis di abad ke-19 itupun menceritakan sebuah kisah tentang hubungan seksual sesama laki-laki yang dijelaskan cukup gamblang. Belum lagi fenomena budaya relasi sensual dan mistis antara warok dan gemblak di Ponorogo. Warok merupakan sebutan penari laki-laki di kesenian reog yang dipercayai memiliki ilmu dan berperan penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Sementara gemblak merupakan sebutan untuk penari laki-laki berusia belia yang dipelihara oleh warok. Ketika warok meminang seseorang menjadi gemblak, gemblak pun harus hidup dan tinggal bersama dengan warok. Warok biasanya bertanggung jawab atas kebutuhan sang gemblak. Bisa juga dengan memberikannya seekor sapi atau membayarnya mahal sesuai dengan perjanjian. Kesenian ini diciptakan oleh petinggi Kerajaan Majapahit bernama Ki Ageng Kutu. Banyak pakar menyepakati seni pertunjukan reyog lahir selama kurun 1482-1486 Masehi.

    Namun lucunya, banyak orang berbondong-bondong membuat petisi penolakan sebuah karya film yang secara garis besar mengangkat kisah seorang lelaki bernama Juno--seorang homoseksual--yang menjalani kehidupan berkeseni-budayaan, menari dan berdandan bak gadis. Mereka menganggap Garin Nugroho, sang sutradara, telah menyalahi kultur keindonesiaan hanya berdasarkan kegagalan mereka memahami dan merangkul eksistensi diversitas kultur nusantara. Justru dalam film ini terasa kental unsur kesenian dan kebudayaan lokal. Budaya dan seni lintas gender terutama tari Lengger Lanang ini sudah ada bahkan sejak abad ke-18, jauh sebelum kakek nenek kita lahir. Jauh sebelum Didik Ninik Thowok mempopulerkan kesenian lintas gender.

    Sebuah kisah yang lebih dari sekadar nyata, yang terjadi di bumi pertiwi. Hendaknya kisah dalam film tersebut menjadi pembuka cakrawala terhadap pandangan masyarakat yang masih tak acuh, menjadi eliksir terhadap butanya keingintahuan dan rasa hormat pada sejarah budaya bangsa, dan menjadi penambah kebijaksanaan. Bukan justru membawa negeri ini kembali menjadi arena peperangan atas apa-apa yang berbeda.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.