Angan-Angan Kosong (Suatu Ilusi Dunia) - Analisa - www.indonesiana.id
x

danar dono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Juli 2019

Sabtu, 31 Agustus 2019 10:57 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Angan-Angan Kosong (Suatu Ilusi Dunia)

    Dibaca : 349 kali

    “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Al Hijr : 39 – 40)

    Sudah menajadi kodrat Iblis untuk menyesatkan manusia, salah satunya melalui angan-angan kosong (fantasi). Berlalu beribu-ribu abad (wallahu’alam) sejak Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga, bapak-ibu kita dikeluarkan dari sana tiada lain kerena angan-angan kosong atas kemakmuran hidup abadi hingga terperdaya memakan buah khuldi yang dilarang Allah SWT. Dan tak tahukah kita sebenarnya sifat ini juga diturunkan kepada kita, keturunan Adam.

    Sudah menjadi kodratnya, manusia menghendaki kebahagiaan abadi sebagai tujuan hidupnya. Namun sayangnya semenjak manusia diturunkan ke dunia, hasrat itu ‘mustahil’ terpuaskan oleh dunia. Sifat bawaan ini masih melekat pada setiap diri manusia semenjak diturunkan di Bumi. Dari sinilah tipu daya Iblis dkk bermain denga ‘membangkitkan fantasi surga dunia’, sehingga sebagian manusia memandang indah apa yang dibisikan kepadanya dan menjadi ‘manusia serakah’.

    Pernahkah terlintas dalam benak kita, kebahagiaan, sehingga kita memandang kecantikan, keturunan, kedudukan, jabatan, harta benda sebagai sesuatu yang membuat kita ‘bahagia’? Dalam kehidupan modern ini, hal semacam ini lazim ditemui. Segala macam informasi dan hiburan dari berbagai media sosial dan portal berita lebih banyak mengulas kesuksesan para milyuner daripada para ulama (orang yg pnya ilmu dan hikmah). Dari sini terlihat jelas bagaimana masyarakat mendefinisikan arti ‘kesuksesan’ dan ‘kebahagiaan’. Inilah ‘angan-angan kosong’ yang sebenar-benarnya.

    Rekonstruksi ‘wacana kesuksesan milyuner’ ini menghasilkan pola pikir, sikap, kebiasaan hingga kebudayaan masyarakat modern, sehingga terealisasilah individu-materialisme. Dan begitulah tipu daya Iblis dkk menyesatkan manusia.

    Dan tak peduli bagaimana manusia berusaha mengejar ‘kesuksesan dunia’, pada akhirnya manusia takkan pernah ‘puas’ bahagia, seakanakan memuaskan dahaga dengan meminum air laut. Sehingga tiba ajal menjemput manusia lalai dalam keadaan ‘haus’ atas dunia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.