Sekelumit Tentang Livi Zheng, Sutradara Muda Kontroversial - Viral - www.indonesiana.id
x

Livi Zheng saat memberi pelatihan singkat di Jakarta pada 11/11/2017

Dewa Made

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 3 September 2019 23:15 WIB

  • Viral
  • Berita Utama
  • Sekelumit Tentang Livi Zheng, Sutradara Muda Kontroversial

    Waktu akan menunjukkan apakah karya-karya Livi Zheng memang berkualitas atau sekadar bualan hasil branding marketing semata. Dan lewat "Bali: Beats of Paradise", kamu bisa menerkanya.

    Dibaca : 1.744 kali

    11 November 2017, perusahaan tempat saya bekerja mengadakan sharing session yang diisi Livi Zheng, sutradara muda yang belakangan kontroversi. Kala itu, saya kebetulan diminta menghadiri acara tersebut bersama rekan lainnya. Tentu saja saya belum kenal Livi, tapi mengingat dia sampai diundang sebagai pemateri, saya berasumsi Livi punya pengalaman bagus untuk diceritakan. Topiknya kurang lebih berbagi insight tentang produksi video.

    Saat pembawa acara masih basa-basi membuka sesi dan menunggu peserta lain, Livi berkali-kali nyelonong ke arah meja hidangan, mengambil permen Kopiko. "Sorry, saya sangat suka Kopiko. Ini yang saya rindukan saat ke Indonesia". Dia pun kemudian bercerita, layaknya pemberi seminar pada umumnya. Dia berkisah pengalamannya dalam memproduksi video, termasuk saat bekerjasama dengan orang-orang di industri kreatif di Amerika. Livi juga tidak lupa menampilkan potongan video beserta foto-foto di belakang layar saat dia memproduksi video. Namun selama pelatihan itu, saya mengira Livi bukan sutradara film, melainkan sutradara iklan. Melihat kiprahnya di usia muda, tentu saja saya kagum.

    Tidak banyak ilmu yang bisa saya serap, karena pada dasarnya produksi yang dijelaskan Livi melibatkan tim besar. Sementara saya belum pernah terlibat dalam produksi besar. Dan perusahaan juga belum siap memproduksi dengan biaya dan tim yang besar. Dia pun mengamini bahwa sebuah produksi kreatif tidaklah dihasilkan secara instan. Butuh persiapan yang mendalam. Satu-satunya tips yang saya ingat adalah, cara mengakali transisi antara musik latar dan kutipan audio wawancara agar terdengar lebih halus.

    Tidak ada informasi berlebihan yang kala itu ia sampaikan, selain soal pengalaman-pengalamannya dalam memproduksi video. Bagi saya, walaupun si pemateri sangat narsis, ya tidak masalah kan asalkan yang diucapkan itu adalah fakta. Jadi narsisnya sudah sesuai pada tempatnya. Karena itu adalah panggungnya kala itu.

    Setelahnya usai diskusi, kita pun berswafoto. Dia juga tidak segan membagikan nomor Whatsappnya. Untuk orang yang mengaku kerja di Hollywood, Livi mudah diajak berkomunikasi. Saat itu dia tidak terkesan membangun batas ketika berbincang dengan peserta sharing.

    Lama tidak terdengar, pada September 2018 muncul sebuah video klip yang menit awalnya memunculkan tulisan "LIVI ZHENG PRESENTS". Namanya juga vulgar tertulis di judul videonya, "Judith Hill - Queen of the Hill - Directed by Livi Zheng". Video ini diunggah di Youtube lewat akun Sun and Moon Films. "Wah…ini toh karya Livi terbaru. Namanya sampai tercantum di video klip, logikanya, penyanyinya pasti merasa bangga bekerjasama dengan Livi”, pikir saya. Setelah menonton, terus terang, videonya kurang berhasil menghipnotis saya. Saya berasumsi, mungkin karena saya juga tidak terlalu menikmati lagunya. Kemasan videonya juga kurang memanfaatkan suara natural dari gamelannya. Setiap ketukan yang digambarkan, terkesan hampa. Layaknya menonton pertunjukan tari yang audionya disenyapkan. Semua kemudian berlalu, tanpa memberi saya kesan kuat terhadap karyanya.

    Hingga kemudian dia makin rajin muncul di Indonesia. Mata saya semakin ramah mengenali artikel atau wajahnya di televisi. Mengapa dia sering muncul? Apa sedang banyak proyek di Indonesia? Atau dia sedang garap iklan perusahaan Indonesia? Ya saya kurang tahu itu. Saya tidak sedekat itu untuk Whatsapp-an sesuka hati.

    Lalu muncullah video berjudul Vibrant Jakarta, berdekatan dengan ulang tahun Jakarta ke-492. Tujuan videonya tentu mempromosikan Jakarta. Dalam video tersebut, satu-satunya yang mencuri perhatian saya adalah thumbnail videonya, dengan payung warna-warni. Entahlah, komposisinya terasa pas. Tapi kalau soal isi video, terdapat ketimpangan kualitas footage satu dengan yang lainnya, mungkin karena berasal dari potongan beberapa footage. Dan Livi juga muncul dalam video, apakah ini memang narsis?. Sayangnya, video ini masih kalah greget dibanding video promosi wisata berjudul Wonderful Indonesia: The Journey to a Wonderful World yang sudah muncul di Youtube sejak 2016. Lagi-lagi, karyanya belum meninggalkan kesan bagi saya.

    Paling tidak dengan munculnya video Vibrant Jakarta, saya berasumsi, "Oh sekarang Livi mulai banyak main dengan proyek-proyek humas pemerintahan". Balik lagi, dibayangan saya dia adalah orang production house (PH). Bukan sedang sibuk memproduksi film. Dengan masuknya Livi ke ceruk pemerintahan, saya kasihan dengan media atau kreator lokal. Ceruk kehumasan di pemerintahan mungkin saja bakal dilibas habis oleh Livi. Apalagi dengan membawa embel-embel Hollywood-nya.

    Pada akhir Agustus 2019, deretan artikel Tirto muncul secara mengejutkan. Artikelnya menyudutkan Livi habis-habisan. Saya tidak menyangka artikelnya sampai mengorek-orek kehidupan pribadinya. Saat keluarga Livi juga dilibatkan dalam artikel, saya pikir ini akan berkaitan dengan temuan penyalahgunaan anggaran negara. Tapi ternyata isi artikelnya bukan demikian. Sajiannya sepintas seperti mengkritik para jurnalis media nasional yang menelan mentah-mentah pernyataan narasumber. Mudah terhipnotis dengan embel-embel ‘internasional’.

    Terlepas dari latar belakang keluarganya, saya lebih setuju kalau Livi dianggap sebagai hasil produk branding. Produk branding yang sukses menghipnotis para pejabat pemerintah untuk bekerja sama dengannya. Karena karyanya memang belum terlalu banyak, namun informasi positif tentangnya melimpah di internet. Dia anteng bekerjasama dengan pemerintah dengan pernyataan andalan, “Mempromosikan Indonesia di mata dunia”. Dari Luhut Pandjaitan, Tito Karnavian, Anies Baswedan, dan tokoh lainnya telah mendukung Livi Zheng. Pendekatan Livi ini cenderung kurang lazim dilakukan seniman Indonesia. Hal ini bertujuan agar karyanya lebih merdeka dan independen.

    Di tengah kontroversi klaim-klaim Livi, saya kira Livi akan tenggelam. Namun kelanjutan kontroversinya tetap ditanggapi dengan penuh percaya diri. Dalam acara Q&A Metro TV, dia sangat percaya diri menjawab pertanyaan panelis termasuk dari sutradara ternama sekelas Joko Anwar. Dia menunjukkan debat yang sehat. Saya apresiasi dengan caranya menerima kritik para panelis. Hm…mungkin inilah mental orang yang sudah kuliah di luar negeri. Sudah terbiasa berdebat. Meskipun tanggapan Livi terkesan penuh percaya diri yang mengarah ke jemawa. Tetapi itulah Dia.

    Yah, meskipun seandainya benar adanya bahwa Livi adalah hasil produk branding yang sukses, saya tidak terlalu terpengaruh dengan itu. Saya tetap memilih untuk menilai seseorang lewat karyanya. Dalam setiap proses kreatif, selalu ada kerja keras tim. Dan bukan hanya berujung pada satu orang. Film juga masalah selera. Kalau saya memang tidak suka menonton suatu film, ya tidak suka saja, tidak perlu menanti para pesohor berkomentar untuk mendukung komentar saya. Inilah nikmatnya kebebasan berpendapat. Lalu perkara bahwa dulu banyak media yang puja puji Livi, dan belakangan disadari ada yang ganjil dalam karyanya. Ya memang waktulah yang membuktikan. Waktu akan menunjukkan apakah karya Livi memang berkualitas atau sekadar bualan hasil branding semata. Dan beruntung film besutan terbarunya, "Bali: Beats of Paradise" tayang di bioskop Indonesia, jadi kalian bisa langsung memberikan penilaian atas karyanya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Gadis Desa

    Rabu, 30 September 2020 05:55 WIB

    Apakah Pemerintah Serius Tangani Wabah Covid-19?

    Dibaca : 1.495 kali