Belajar Memaknai Toleransi dan Kewaspadaan Dari Peristiwa Papua - Analisa - www.indonesiana.id
x

Jokowi

Alfin Riki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 5 September 2019 15:27 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Belajar Memaknai Toleransi dan Kewaspadaan Dari Peristiwa Papua

    Dibaca : 251 kali

     

    Oleh : Fajrin Hakim (Wakil Koordinator Nasional Forum Pegiat Media Sosial Independen)

    Negara ini dibangun atas dasar perbedaan. Menghargai perbedaan merupakan kunci tercitpanya perdamaian. Sejarah mencatat bahwa tegaknya negara ini karena menghargai perbedaan suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA). Tanpa pondasi tersebut, niscaya bangsa ini belum bisa lepas dari jeratan penjajahan. Maka, menjadi sangat ironi apabila perbedaan masih menjadi pemantik api kemarahan dan permusuhan antar sesama anak bangsa.

    Rangkaian kericuhan yang terjadi di Papua sejak pertengahan Agustus lalu, sebenarnya dipicu oleh persoalan ujaran kebencian yang menyinggung perasaan masyarakat asli Papua.
    Diakui atau tidak, ujaran kebencian itu memicu persoalan lama yang dirasakan masyarakat Papua hingga menginginkan untuk memisahkan diri dari Indonesia apalagi provokasi pihak ke tiga baik dari luar maupun dalam terus dilakukan dengan agenda politiknya sendiri yaitu membuat instabilitas Papua.

    Disisi lain kerusuhan yang terjadi Papua selama ini tak terlepas dari beredarnya informasi hoaks di media. Banyak kabar sesat yang mengiringi isu Papua saat ini. Menteri Kominfo Rudiantara menyebutkan ada sekitar 500 ribu URL atau alamat situs yang terdeteksi menyebar hoaks.
    Kabar sesat itu diduga untuk memperkeruh kondisi di Papua dan Papua Barat saat ini. Karena kontennya tidak hanya berita bohong, tapi juga menghasut dan mengadu domba. Disinilah dibutuhkan kewaspadaan dan kebersamaan dalam melawan berita berita hoax dan ujaran kebencian tersebut.

    Tentu saja kita sangat prihatin atas kejadian tersebut. Ternyata sumbu-sumbu kebencian masih menjadi penyakit akut di republik ini. Tokoh bangsa yang selalu menyerukan perdamaian, ternyata hanya sampai di telinga saja. Namun tidak bisa diinternalisasikan melalui laku dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak sampai hati menyaksikan apabila bangsa yang penuh dengan kekayaan suku, ras ini bercerai-berai.

    Kita patut mengapresiasi kepala daerah yang menyerukan perdamaian. Gubernur Jawa Timur, Khoffah Indar Parawansa dan Walikota Surabaya menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Cara-cara seperti itu tentu menjadi suri tauladan bagi kita semua, bahwa kita harus menjadi bangsa yang lebar tangan. Artinya, sikap tenggang rasa menjadi hal yang diutamakan ketimbang mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Sebab dengan permintaan maaf, diharapkan mampu meredam emosi. Namun pertanyaaannya sekarang, mengapa warga dengan mudahnya melontarkan kalimat rasis berbasis SARA kepada Papua?

    Untuk menjawab hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu dijabarkan.

    Pertama, hilangnya sikap tenggang rasa di tengah-tengah kerukunan berbangsa dan bernegara. Di tengah corak keberagaman dan multi-religius, ternyata tidak diimbangi oleh sikap tenggang rasa yang tinggi. Sikap tenggang rasa hanya menjadi semboyan tanpa terpateri dengan baik melalui perilaku sehari-hari. Mari kita kembali pada jati diri kita yaitu falsafah kita PANCASILA.

    Kedua, gagalnya memahami warisan leluhur kita yang disimbolkan dengan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika”. Justru yang ditonjolkan saat ini di ruang publik adalah sikap keangkuhan dan mengedepankan selera, saya, kamu, dan mereka. Sementara “kita adalah saudara” belum mampu menjadi jalan hidup demi terciptanya kerukunan berbangsa dan bernegara.

    Jika para pewaris dan founding father kita masih hidup, tentu saja mereka akan menangis menyaksikan bangsanya sendiri tidak saling menghormati. Apa yang mereka wariskan ternyata belum mampu ditonjolkan dengan baik melalui perilaku dan sikap toleran.

    Masyarakat Papua Adalah Saudara Kita , menjaga saudara kita, sama seperti menjaga Kebhinekaan Indonesia, cara untuk melawan berita hoax dan propaganda adalah dengan Gerakan Posting Konten Positip huna menumbuhkan optimisme Menuju Kemajuan Bangsa.

    Oleh karena itu sudah sepatutnya masyarakat Indonesia belajar dari pengalaman untuk menjaga keharmonisan bangsa dan selslau waspada akan upaya provokasi asing dan kelompok-kelompok yang ingin memecah belsh bangsa,. Kita ini setara dan saudara, sehingga tak pantas saling menghina satu sama lain karena bagaimanapun Papua adalah Indonesia, Kita Semua Bersaudara, Mari Wujudkan Papua Yang Damai Tanpa Hoax. Mari kita lawan segala bentuk hoax dan propaganda asing yang menyesatkan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.