Lokakarya Kompetensi Komponis LKP3N: Menjaga Harmoni dan Kesatuan Bangsa melalui Seni - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Valentino Barus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 9 September 2019 22:56 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Lokakarya Kompetensi Komponis LKP3N: Menjaga Harmoni dan Kesatuan Bangsa melalui Seni

    Dibaca : 1.121 kali

    Peran seni dalam memajukan peradaban manusia telah banyak dibuktikan melalui berbagai kajian ilmiah. Negara-negara multi-etnis seperti Indonesia kemudian juga makin menyadari peran seni dalam menjaga harmoni dan kesatuan. Karena itu kini muncul berbagai gerakan untuk melestarikan sekaligus mengapresiasi kekayaan seni Nusantara. Semangat ini juga yang mendorong Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katholik Nasional (LP3KN) melakukan Lokakarya Kompetensi Komponis yang berhasil melahirkan 23 lagu bernuansa etnik.

    "Penggalian kekayaan seni budaya nusantara berkontribusi bagi harmoni dan persatuan bangsa" kata Prof. Adrianus Meliala, Ketua LP3KN, pada penutupan Lokakarya yang berlangsung di Jakarta (8/9) tersebut. Semangat dan upaya penggalian seni budaya daerah, khususnya seni musik dan lagu daerah dapat dipandang sebagai upaya dan gerakan penyadaran akan kekayaan dan keragaman budaya nusantara. "Kita wajib terus merawat dan memelihara warisan leluhur di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi akhir-akhir ini", tegas anggota Komisioner Ombudsman itu.

    Panitia dan Peserta Lokakarya Kompetensi Komponis

    Lokakarya Kompetensi Komponis LP3K ini berlangsung selama tiga hari dan dihadiri oleh peserta dari 23 provinsi di Indonesia. Sejak pembukaannya pada Jumat 6 September,  acara diisi dengan berbagai ceramah, diskusi dan masukan dari para narasumber yang kompeten, diantaranya Budi Santoso.

    Ketua Bidang Lomba, Ernest mengatakan bahwa musik dan lagu  senantiasa mempunyai komposisi dan hukumnya sendiri di dalam menjaga harmoni dan iramanya agar pesannya tersampaikan dan tetap enak didengar. "... nusantara memiliki komposisi lagu dan nada yang beragam, dari yang kaya dengan vokal a...a...a...atau o...o...o... yang meriah hingga bunyi em.em.em yang mistis sehingga mampu mempengaruhi bukan hanya penyanyi dan pendengarnya tetapi juga atmosfir sekitar", terang Ernest.

    Langgam dan warna daerah serta nuansa etnik yang ditampilkan dalam lagu-lagu tersebut diharapkan semakin memperkaya khasanah lagu umat dan mampu semakin membangun suasana khusuk dalam menjalankan ritualnya.

    Acara penutupan didahului dengan misa, menghadirkan koor yang meriah dari Universitas Parahiyangan. Dari 23 lagu bernuansa etnik yang dihasilkan melalui lokakarya tersebut, 3 lagu berhasil ditampilkan panitia setelah melalui persiapan singkat yakni lagu Betawi, Banjar dan Dayak. Kiranya para peserta mampu menularkan semangat  musik liturgi bernuansa etnik ini, dengan tetap dalam semangat berkontribusi demi persatuan nasional. Semoga.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.