#SeninCoaching: Para Pemimpin Perlu Energi Spiritual, Agar Mampu Memenuhi Janji - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 16 September 2019 09:27 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Para Pemimpin Perlu Energi Spiritual, Agar Mampu Memenuhi Janji

    Dibaca : 1.933 kali

    #Leadership Growth: Be Courage, Humility, and Discipline is Paramount

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

    Ford Motor Company berada di tebing kebangkrutan saat Alan Mulally pada September 2006 diminta oleh Bill Ford menjadi CEO untuk melakukan perubahan. Saat itu Ford rugi US$ 12.7 milyar (billion). Tutup akhir tahun 2006, kerugian menjadi US$ 17 milyar.

    Dengan tim yang sama, tapi strategi dan perilaku yang lebih accountable, Alan Mulally berhasil mendapatkan kepercayaan kalangan perbankan di New York berupa pinjaman US$ 23 milyar untuk menjaga Ford terus beroperasi.

    Saat pensiun dari Ford 1 Juli 2014, majalah Fortune dalam rangking kepemimpinan kelas dunia menempatkan Alan Mulally pada urutan ketiga setelah Paus Francis dan Angela Merkel. Di bawah kepemimpinan Alan Mulally, Ford 2009 mulai meraih profit. Harga sahamnya bangkit kembali.

    Perubahan Ford dari nyaris bangkrut menjadi profitable dalam masa kerja sekitar tiga tahun memang sangat impresif dalam sejarah korporasi Amerika. Ford berhasil bangkit kembali tanpa sesenpun menggunakan dana bail out pemerintah, sementara raksasa otomotif lainnya di AS memanfaatkan uang pajak tersebut. Dalam proses corporate turnaround di Ford juga tidak ada pengurangan karyawan. Keberhasilan kepemimpinan Alan Mulally menjadi legenda.

    Perjalanan sukses tersebut jadi buku: “American Icon: Alan Mulally and the Fight to Save Ford Motor Company”, ditulis oleh Bryce G. Hoffman (2012). Dua pekan pensiun dari Ford, Alan Mulally pada 15 Juli 2014 diminta jadi salah seorang Board of Directors Google.

    Sukses Alan Mulally melakukan transformasi budaya korporasi Ford, menjadikan perusahaan bangkit dan profitable, telah diulas dari pelbagai perspektif bisnis. Langkah-langkah strategis penyelamatan Ford dilaksanakan Alan Mulally secara lugas, tanpa kehilangan kehangatan pribadinya dalam berinteraksi dengan semua pihak, direksi dan staf, para vendor sampai agen dan kustomer.  

    Bagaimana perilaku kepemimpinannya?

    Alan Mulally pada 2001 menjadi klien Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC). Waktu itu ia President Boeing Commercial Aircraft. Kemudian mengimplementasikan kembali prinsip-prinsip perubahan budaya kerja secara terstruktur saat memimpin Ford–dengan penyesuaian di sana-sini sesuai tantangan.

    Dimulai dengan sikap rendah hati. Dalam interview dengan McKinsey, antara lain Alan Mulally mengatakan, “Hal paling fundamental dalam memimpin adalah merasa terhormat untuk bisa mengabdi, an honor to serve. Sebesar apa pun organisasinya, profit atau nonprofit, peluang Anda untuk memimpin merupakan keistimewaan.” Lalu membuat compelling vision, tentang being the best you can be – ini lebih utama ketimbang soal angka dan memenangi kompetisi.

    Dalam kepemimpinan Alan Mulally, semua pihak dilibatkan untuk saling membantu mengatasi tantangan. Partisipasi dan kontribusi dari siapa pun dihargai. Tabiat bekerja dalam hipokrisi silo dia kikis, semua pihak dibiasakan terbuka satu sama lain agar dapat saling menolong, dimulai dari level para eksekutif senior.

    Alan Mulally menerapkan cara kerja yang sangat transparan, info di board meeting harus diterima sama oleh para pelaksana di semua lini, bahkan diupayakan dipersepsikan sama pula oleh para agen dan kustomer. Spirit kerja “One Ford” berhasil membuat semua pihak fokus pada kepentingan bersama: membangun Ford profit kembali. “It is important to create a safe environment for people to have an honest dialogue, especially when things go wrong,” kata dia.

    Hal utama dalam kepemimpinan adalah menjadi pribadi yang otentik, berpikir berdasarkan keyakinan kita dan berperilaku yang sesuai dengan itu. Di Ford, setiap team leader memiliki kartu, satu sisi berisi business plan, sisi lainnya berisi daftar perilaku-perilaku untuk mewujudkannya.

    Kita tidak akan berubah menjadi lebih baik kalau tanpa struktur.

    Dalam kepemimpinannya, Alan Mulally menerapkan Business Plan Review (BPR), meeting setiap Kamis pagi pada jam dan tempat yang sama bersama 16 top executives-nya, plus semua eksekutif dari pelbagai sisi di dunia. Semua team leader wajib ikut, para eksekutif yang tengah dalam perjalanan tetap harus berpartisipasi melalui videoconference.

    Selama meeting tidak ada diskusi sampingan di luar fokus, guyonan yang melecehkan pihak lain diharamkan, presentasi tidak boleh diwakilkan ke anak buah, tidak ada interupsi, dan cellphone dilarang (kalau ada yang membuka handphone saat meeting, Alan akan menghentikan rapat dan pandangannya tertuju pada orang tersebut).

    Alan Mulally sendiri sebagai CEO saat memimpin BPR Kamis pagi selalu mempresentasikan prioritas pekerjaan dirinya pekan sebelumnya dan hasilnya bagaimana. Ia minta semua eksekutif juga melakukan hal yang sama. Semua fakta dihadirkan apa adanya, merah, kuning, atau hijau (warna indikasi tingkat capaian). Setiap team leader memiliki misi untuk membantu pihak lain, bukan menghakimi.

    Dua orang direktur yang tidak mau mengubah perilaku mereka agar menyesuaikan diri untuk saling menghormati dan menolong sebagai sesama insan Ford, mengundurkan diri. Alan mengatakan kepada mereka yang tidak mau ikut aturan meeting, “Itu pilihan Anda. Bukan berarti Anda bad person. Hanya saja tidak bisa menjadi bagian dari tim.” (Marshall Goldsmith, “Triggers”, 2015).

    Mengelola organisasi besar tentu banyak tuntutannya. Bagaimana Alan Mulally menjaga stamina mental dan fisik? Lebih dari mengelola waktu, yang juga penting adalah kemampuan mengelola energi, kata dia. Menurut Alan, ada banyak sumber energi: keluarga Anda, exercise, dan spiritual well-being.

    Kemampuan mengkombinasikan dan menyeimbangkan ketiganya sebagai energi kepepimimpinan yang selaras dengan tuntutan kerja, sebagai lifestyle dan menentukan perilaku kita sehari-hari, masih menjadi tantangan besar bagi umumnya eksekutif di organisasi bisnis, nonprofit, bahkan pemerintahan.

    Mereka umumnya masih berada di dua kuadran ekstrim: aku menentukan takdirku, aku mengatur dunia (arogansi) atau dunia/lingkungan hidupku menentukan langkah-langkahku (hanyut dalam arus). Indikasi pada yang pertama, antara lain: aku tidak perlu struktur atau bantuan siapapun untuk berubah, karena aku bisa mengatur diri (terjebak classic delusions). Indikasi pada yang kedua: sibuk luar biasa tanpa arah, belum bisa membedakan antara kesibukan dan produktivitas.

    Kesuksesan perilaku kepemimpinan Alan Mulally dalam mengubah Ford dari rugi belasan milyar dolar menjadi profitable, sesungguhnya dilandasi oleh tiga kebajikan (virtues) yang secara konsisten dijalankannya bersama tim, yaitu:  humility (rendah hati untuk mengakui kekurangan dan perlu bantuan pihak lain); berani (courage) menghadapi fakta-fakta bisnis tiap minggunya, melakukan hal-hal baru untuk menjadi lebih baik; dan disiplin melakukan follow up mengukur setiap langkah perbaikan.

    Sederhana ya? Kenyataannya masih ada golongan orang yang mengaku eksekutif profesional, tapi untuk bersikap rendah hati dan disiplin saja sulit--mereka ini umumnya mau naik gaji secara periodik, namun untuk meningkatkan kompetensi dan bekerja secara lebih efektif masih menunda-nunda.

    Bagi orang-orang yang sudah mencapai spiritual wellbeing, seperti yang dikatakan Alan Mulally itu, ketiga kebajikan (virtues) di atas mudah mereka kerjakan.

    Sebaliknya, orang-orang yang masih suka berbohong – bahkan berani memlintir firman Tuhan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya (sering terjadi di pemerintahan atau di kalangan pejabat publik)– berat untuk melaksanakan ketiga kebajikan tersebut. Pemimpin yang berbohong atau nekad menyalahgunakan agama untuk kepentingan egonya, mengindikasikan kualitas spiritualnya patut kita pertanyakan.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)    


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: iin anggryani

    3 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 555 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin