Demo dengan Jas Almamater Bodong, Apa yang Mereka Perjuangkan? - Viral - www.indonesiana.id
x

Demo Pro Revisi UU KPK di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu, 14 September 2019. Foto: Tempo/Hilman Fathurrahman

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 23 September 2019 11:03 WIB
  • Viral
  • Pilihan
  • Demo dengan Jas Almamater Bodong, Apa yang Mereka Perjuangkan?

    Dibaca : 3.526 kali

    Baru saja jagat media sosial diramaikan oleh foto-foto aksi unjuk rasa massa pro revisi UU KPK yang mengenakan jaket almamater tapi tanpa lambang/logo universitas tertentu. Peserta aksi yang rata-rata berwajah dewasa itu berjaket warna-warni tapi polos tanpa identitas perguruan tinggi. Siapakah mereka ini?

    Siapa pun pengunjuk rasa itu, tampaknya ingin memberikan kesan bahwa mereka berstatus mahasiswa, tujuannya untuk memberi bobot lebih besar pada aksi yang digelar di depan Gedung DPR, Jakarta, tersebut. Mereka berusaha menyembunyikan identitas aslinya dibalik jaket-jaket almamater KW tersebut.

    Ya, itu bisa disebut jas almamater KW. Sebab, jaket almamater tanpa lambang sebuah universitas, hanyalah identitas palsu belaka. Alias jaket almamater bodong. Kita belum tahu ada kisah apa di balik pemakaian jaket gadungan tersebut. Butuh sebuah investigasi untuk mengungkapnya. Tetapi kalau jaket-jakat almamater resmi dari berbagai universitas, kisahnya pastilah terang benderang.

    Selama ini kita tahu, warna jaket almamater tiap universitas  berbeda-beda, tatapi semua menyematkan lambang kebanggaan di bagian dada. Lambang perguruan tinggi itulah “roh” yang memberi nilai, bahwa jaket almamater bukan sekadar busana biasa saja. Berikut ini cerita di balik jaket almamater beberapa perguruan tinggi di Indonesia. 

    Civitas akademika Universitas Indonesia, misalnya, pastilah sangat berbangga dengan jaket kuning yang sangat terkenal itu. Dengan jaket almamater itu, para mahasiswa UI selalu terlibat dalam berbagai pergerakan mahasiswa yang mengubah sejarah negeri ini.

    Jaket kuning atau biasa disingkat Jakun ini memiliki lambang Universitas Indonesia yang disebut Makara di dada kiri. Jakun mewarnai aksi-akasi mahasiswa pada 1966, 1978, 1988, hingga hari-hari ini saat mereka turun ke jalanan memprotes berbagai (revisi) undang-undang yang dinilai anti demokrasi.

    Dari situs resmi UI diperoleh informasi bahwa warna Makara yang terpasang di jaket itu disesuaikan dengan warna panji fakultas masing-masing. Jas ini, selain beredar di aksi-aksi demonstrasi, juga digunakan pada acara protokoler universitas, dan dipakai oleh para petinggi universitas.

    Jas almamater Institut Teknologi Bandung (ITB) juga memasang lambang kebanggaan PT itu di bagian dada kiri. Sebuah lambang terkenal berupa Ganesha yang berada dalam lingkaran. Ganesha adalah dewa ilmu pengetahun dalam keyakinan Hindu.

    Tapi dari penelusuran lewat mesin pencari, diperoleh informasi bahwa tampaknya jas almamater ITB berwarna hijua-kebiruan itu tak begitu sering dipakai para mahasiswa. Salah seorang alumni ITB yang juga blogger, Susiawati, menceritakan bahwa selama kuliah ia hanya beberapa kali mengenakan jaket tersebut. Menurut dia, jaket tersebut lebih sering dipakai di acara-acara luar kampus, seperti saat menguikuti lomba ilmiah dan sejenisnya.

    “Menggunakan jaket almamater ini hanya pada saat acara penerimaan mahasiswa baru dan acara-acara tertentu saja,” demikan ia menulis dalam sebuah catatannya. Namun demikian, jas ini benar-benar menjadi kebanggaan para mahasiswa.

    “Keren sekali melihat kakak-kakak tersebut mengenakan jaket almamater kampus, apalagi saat mereka bersama-sama mengucapkan "Salam Ganesha". Super keren. Mungkin jaket almameter ini adalah salah satu motivasi saya masuk ITB hehe…” tulis dia.

    Bagaimana dengan jaket almamater Univeritas Gadjah Mada (UGM)? Ini yang agak unik terutama soal warna. Bagi civitas akademica-nya, dan apalagi orang lain, mereka sulit mendeskripsikan warna jas almamater UGM. “Ora cetho (tidak jelas),” demikian rata-rata jawaban mereka saat ditanya soal itu.

    Memang, sepintas warna jas warga kampus Bulaksumur itu kombinasi antara khaki, coklat muda, bercampur sedikit kekuningan, ada cream-nya, dan seterusnya, dan begitulah. Pancen ora cetho!

    Berdasar penelusuran di mesin pencari, diperoleh cerita bahwa warna jas itu disesuaikan dengan warna pakaian kebanyakan orang Indonesia di masa penjajahan Belanda dulu, yakni warna karung goni. Bahan inilah yang memang banyak digunakan untuk baju saat itu.

    Warna “karung goni” dipilih sebagai bentuk solidaritas dan rasa prihatin terhadap nasib bangsa Indonesia yang ditindas penjajahan, sehingga karung goni pun digunakan untuk pakaian sehari-hari. Namun, warna karung goni ini juga digunakan untuk seragam tentara Indonesia saat itu. Maka warga Kampus Biru pun memilih warna itu untuk jas almamater agar tidak eksklusif dan lebih membaur dengan keadaan.

    Tentu jaket ini juga dilengkapi dengan lambang UGM di saku sebelah kiri. Lambang yang terdiri dari tiga bagian, yakni lima kesatuan sinar matahari, lima songkok bewarna putih (topi kebesaran panglima), dan lima tombak bewarna kuning. Lambang tersebut ditetapkan Senat UGM tahun 1950. Secara amat ringkas, lambang UGM ini bermakna sebagai: Universitas Pancasila yang memancarkan ilmu pengetahuan, kenyataan dan kebajikan.

    Para mahasiswa UGM cukup kerap mengenakan jaket almamaternya. Mereka memakai, antara lain,  pada saat-saat penting seperti penerimaan mahasiswa baru, lalu di acara-acara kampus, hingga dalam aksi-aksi demonstrasi jalanan dalam memperjuangkan kebenaran.

    Hal serupa kurang lebih pastilah juga berlaku bagi kampus-kampus lain yang tak bisa diuraikan semuanya di sini. Bagi para mahasiswa, mengenakan jaket almamater (tentu dengan lambang universitas) adalah perwujudan kebanggaan karena bisa menuntut ilmu di sana. Tetapi lebih dari itu, dengan mengenakan jaket itu mereka juga memikul tanggung jawab besar yang melekat di setiap perguruan tinggi, yakni memperjuangkan kebenaran.

    Jadi, jika ada demonstran yang mengenakana jaket serupa jas almamater tapi tanpa lambang universitas tertentu, apakah yang tengah mereka perjuangkan sebenarnya?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.