ICS Cultural Week UPH Kenalkan Keunikan Festival Budaya Empat Negara - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Aurelia Natasya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Juli 2019

Rabu, 25 September 2019 16:37 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • ICS Cultural Week UPH Kenalkan Keunikan Festival Budaya Empat Negara

    Dibaca : 1.450 kali

    Sebagai kampus yang memiliki komunitasi internasional,  Universitas Pelita Harapan (UPH) menyediakan wadah untuk mempersatukan beragam budaya dari berbagai negara. Hal itu dilakukan melalui komunitas mahasiswa internasional atau International of Community Students (ICS). Saat ini mahasiswa asing UPH ada dari 20 negara diantaranya Korea, Myanmar, Brazil, Jepang, Filipina, Mongol, dan lainnya.

    Setiap tahunnya komunitas ini menggelar Cultural Week untuk memperkenalkan budaya dari negara asal mahasiswa internasional UPH. Tahun ini memasuki tahun ke-5, ICS Cultural Week mengangkat tema ‘Celebration Wonders’, pada 23-28 September 2019, di Kampus UPH Lippo Village.

    Opening Cultural Week UPH 2019

    Phoebe Hartono, mahasiswa Hubungan Internasional UPH 2017 yang menjadi ketua acara Cultural Week 2019, menjelaskan acara Cultural Week tahun ini  menampilkan festival budaya dari 4 negara, antara lain Holi Festival dari India, Rio Festival dari Brazil, The Carnival Of Venice dari Italia, dan So-ngkran Water Festival dari Thailand. Keempat festival itu merupakan event besar yang banyak menarik minat wisatawan dari berbagai dunia. 

    Konsep Cultural Week dengan tema ‘Celebration Wonders’ menampilkan serangkaian kegiatan yang melibatkan mahasiswa internasional dan mahasiswa lokal. Tujuannya tidak lain untuk mengakrabkan para mahasiswa dan membangun rasa saling menghargai keunikan dari setiap negara.

    Phoebe mengatakan bebagai kegiatan yang digelar, diantaranya, Cultural Parade yang belum pernah diadakan di tahun-tahun sebelumnya. Cultural parade adalah acara fashion show yang digelar bersamaan dengan flag parade di taman UPH. Dalam acara ini para model akan menggunakan kostum sesuai tema festival bersamaan dengan parade bendera-bendera dari beragam negara.

    Walaupun konsep acara Cultural Week kali ini adalah perayaan, menurut Phoebe, panitia tetap memberikan acara yang informatif seperti Exhibition Booth. "Dalam Exhibition booth ini diharapakan mahasiswa mendapatkan beragam informasi dan kekayaan budaya dari festival yang diangkat. Exhibition ini juga dilengkapi dengan games interaktif,” kata dia.

    Suasana Cultural Week UPH 2019

    Phobe menjelaskan perayaan Cultural Week 2019 akan ditutup dengan meriah di Summarecon Mall Serpong (SMS) pada 28, September 2019. Beragam penampilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UPH hadir meramaikan suasana, seperti Hana Union, penampilan tarian dari mahasiswa ITC, juga performance dari Abraham Ewaldo, mahasiswa Conservatory of Music UPH yang juga Finalis The Voice Indonesia season 3.

    Melalui kegiatan ini diharapkan dapat membuat mahasiswa dari Indonesia dan internasional saling berinteraksi satu sama lain sehingga dapat berbagi kekayaan budaya antar negara dan memperluas wawasan para mahasiswa.  (na)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    Minggu, 31 Mei 2020 10:05 WIB

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.180 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).