Anugerah Sastra VOI RRI; Tegaknya Sastra Migran dan Budaya Literasi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Sabtu, 28 September 2019 17:16 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Anugerah Sastra VOI RRI; Tegaknya Sastra Migran dan Budaya Literasi

    Dibaca : 121 kali

    Kampanyekan Budaya Literasi, Pemenang Anugerah Sastra VOI RRI Kunjungi Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak

     

    Sebagai bentuk kepedulian untuk mengkampanyekan budaya literasi di kalangan anak-anak dan masyarakat kampung, pemenang lomba cerpen Anugerah Sastra “Guratan Pena 2019” VOI RRI mengunjungi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor, Sabtu 28 September 2019.

    https://www.facebook.com/syarif.yunus/videos/10214678696820469/

    Didampingi Pak Asep dan Ibu Rita dari VOI RRI, pemenang Anugerah Sastra VOI RRI 2019, yaitu: 1) Daud Farma (mahasiswa Al Azhar University, Kairo, Mesir yang berasal dari Aceh) dengan Cerpen berjudul "Pedas Manis" dan 2) Ahla Jenan (Pekerja Migran Indonesia di Hongkong) dengan Cerpen berjudul "Jejak Cinta Asmaradhana” berbagi pengalaman dan motivasi akan pentingnya tradisi baca dan budaya literasi. Sebagai warga negara Indonesia yang bermukin di luar negeri, keduanya mengisahkan kebiasaan menulis cerpen di tengah kesibukan kuliah dan dan bekerja sebagai cerminan budaya literasi.

    TBM Lentera Pustaka merupakan taman bacaan yang didirikan oleh Syarifudin Yunus, pegiat literasi Indonesia dan dosen Universitas Indraprasta PGRI. Dia adalah salah satu juri Anugerah Sastra “Guratan Pena” VOI RRI 2019 bersama Irwan Kelana (redaktur senior Harian Republika, cerpenis dan novelis) dan Pipiet Senja (cerpenis, novelis, "teroris" dunia kepenulisan).

    Pemenang Anugerah Sastra 2019 VOI RRI pun berbagi kisah kegigihan dalam menulis cerpen sehingga terpilih menjadi pemenang dengan skor tertinggi. Hal ini layak menjadi inspirasi bagi 40-an anak-anak TBM Lentera Pustaka yang hadir, di samping bagi para penulis muda dan calon penulis.

    “Kami senang dapat berkunjung ke taman bacaan Lentera Pustaka dan menyaksikan sendiri semangat anak-anak Indonesia yang gemar membaca. Manusia itu bukan dilihat dari kaya-nya atau sukses-nya. Tapi dari ilmu-nya, seberapa manfaat buat orang lain. Maka, adik-adik harus terus membaca di taman baca" kata Ahla Jenan yang menjadi buruh migran dan bermukim di Hongkong sejak 2006.

    “Subhanallah, saya senang sekali melihat semangat anak-anak di sini dalam membaca. Apalagi bisa mencapai 5-10 buku per minggu. Sepertinya ini sudah kehendak Allah, saya diingatkan untuk rajin membaca. Semoga kalian bisa lebih baik di masa depan, ya” ujar Daud Farma, mahasiswa Al Azhar Kairo Mesir saat berbagi pengalaman di TBM Lentera Pustaka.

    Penyerahan hadiah pemenang Anugerah Sastra VOI RRI 2019 telah dilaksanakan di Gedung RRI Pusat, Jakarta pada Kamis, 26/9/2019. Penghargaan yang telah memasuki tahun ke-10 dari VOI RRI ini menjadi bukti komitmen RRI dalam memotivasi kaum diaspora atau buruh migran untuk tetap menulis dan karyanya dibacakan di acara rutin di VOI RRI seminggu sekali. Dari cerpen-cerpen yang telah dibacakan itulah, kemudian dilombakan dan dipilih pemenang Anugerah Sastra VOI RRI.

    “VOI RRI sangat senang bisa menyelenggarakan Anugerah Sastra Guratan Pena setiap tahun. Hal ini sebagai komitmen VOI RRI dalam menyediakan acara yang bermakna bagi warga negara Indonesia di luar negeri, di samping kepedulian terhadap kebangkitan sastra migran di Indonesia” ujar Pak Asep di sela acara.

    Maka dari itu, kata dia, sebagai antisipasi terhadap era digital dan revolusi industri, aktivitas budaya literasi dan tradisi baca seperti yang dijalankan TBM Lentera Pustaka patut didukung oleh semua pihak. Salah satu caranya adalah dengan mengkampanyekan terus budaya literasi di tengah masyarakat Indonesia. "Itulah pesan pentingnya."

     “Melalui penghargaan Anugerah Sastra, hal ini menjadi bukti kepedulian VOI RRI terhadap budaya literasi anak-anak Indonesia. Seperti sastra, budaya literasi pun menegaskan sifatnya yang universal tanpa mengenal batas ras, bangsa, ataupun negara. Seperti warga Indonesia di luar negeri yang tetap mau membaca dan menulis sekalipun sibuk” ujar Syarifudin Yunus.

    Pesan moralnya, kata dia, kampanyekan terus budaya literasi dan tradisi baca bagi anak-anak Indonesia. "Karena tanpa baca, kita merana. Tebarkan terus virus membaca, dan ekspresikan pengalaman melalui anugerah sastra VOI RRI."

    Salam Literasi #TBMLenteraPustaka #VOIRRI #AnugerahSastraVOIRRI2019


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.