Kisah Hidup Oei Hui Lan - Dari Semarang menuju Politik Internasional - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover Buku Oei Hui Lan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 2 Oktober 2019 09:16 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Kisah Hidup Oei Hui Lan - Dari Semarang menuju Politik Internasional

    Dibaca : 131 kali

    Judul: Kisah Tragis Oei Hui Lan Putri Orang Terkaya di Indonesia

    Penulis: Agnes Davonar

    Tahun Terbit: 2013 (edisi keduabelas)

    Penerbit: AD Publisher

    Tebal: 310

    ISBN: 978-602-95752-0-0

    Terlepas dari kontroversi yang melanda buku ini, saya mendapatkan banyak cerita yang selama ini tidak saya ketahui. Buku ini terbit dalam berbagai versi dan berbagai penerbit. Konon ada versi yang ditarik dari peredaran karena beberapa pertimbangan oleh penulisnya. Salah satu pertimbangan yang saya dengar buku ini ditarik oleh penulisnya karena adanya peringatan gugatan dari keturunan Oei Tiong Ham dengan Lucy Ho yang saat ini tinggal di Thailand.

    Keluarga Lucy Ho keberatan karena dalam buku ini disinggung masalah kematian Oei Tiong Ham yang disangka dibunuh oleh Lucy Ho, sang istri di Singapura. Kontroversi kedua adalah Agnes Davonar dianggap menjiplak atau setidaknya mengadaptasi buku yang ditulis oleh Oei Hui Lan sendiri “No Feast Last Forever.” Apalagi pilihan gaya yang dipilih Agnes Davonar dalam buku ini menggunakan tuturan orang pertama, seperti gaya “No Feast Last Forever.” Entah benar entah tidak kontrovesi tersebut, saya tak hendak membahasnya dalam kesempatan ini. Saya ingin fokus kepada hal-hal menarik tentang sosok Oei Hui Lan yang dipaparkan dalam buku ini.

    Oei Hui Lan adalah anak kedua dari taipan terkaya se-Asia Tenggara di Jaman Hindia Belanda – Oei Tiong Ham. Hui Lan lahir dari istri pertama dan satu-satunya istri sah Sang Raja Gula, yang bernama Goei Bing Nio. Kakak perempuang Hui Lan bernama Oei Tjong Lan. Seperti Tjong Lan, Hui Lan juga lahir di Semarang, tepatnya di Jalan Gergaji, di istana milik ayahnya yang luasnya 9,2 hektar. Istana Oei Tiong Ham di Semarang memiliki lebih dari 200 kamar, ada kolam renang dan kebun binatang kecil.

    Oei Hui Lan adalah anak kesayangan dari Oei Ting Ham. Hui Lan selalu mendapatkan apa yang dia mau dari ayahnya. Saat ia berada di Eropa, ayahnya selalu mengirimkan uang saku yang berlimpah. Bahkan saat sudah menikah dengan Wellington Koo, Oei Tiong Ham membangunkan istana di Singapore dan di Beijing. Istana yang sangat mewah.

    Masa kecil Hui Lan cukup kesepian. Ia lebih banyak diasuh oleh pembantu dan guru-guru pribadi yang berasal dari Eropa dan Australia. Selain kegiatan belajar, Hui Lan lebih banyak bermain dengan tiga binatang kesayangannya, yaitu seekor kanguru (Mina), seekor monyet (Mojo) dan seekor anjing bulldog (Moni). Hui Lan tidak terlalu dekat dengan ibunya tetapi sangat disayang oleh ayahnya.

    Hubungannya dengan kakak perempuannya juga tidak terlalu akrab. Ayahnya sangat mendorong Hui Lan untuk belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Eropa lainnya (Perancis dan Belanda).

    Meski masa kecilnya berlimpah harta, namun Hui Lan tidak terlalu bahagia. Ia selalu mendapatkan pakaian yang mahal dan mode terbaru dari ibunya. Ibunya juga suka mendandani Hui Lan dengan permata-permata, yang kadang ukurannya terlalu besar sehingga Hui Lan merasa tidak nyaman. Permata bagi keluarga Hui Lan tak lebih dari mainan saja.

    Sebelum berlanjut membahas Oei Hui Lan, ada baiknya kita mengenal serba sedikit siapa Oei Tiong Ham, ayah Oei Hui Lan. Buku ini memuat barang sedikit informasi tentang siapa si Raja Gula asal Semarang ini. Oei Tiong Ham adalah anak dari Oei Tjien Sien, seorang buronan dari Amoy. Tjien Sien melarikan diri ke Jawa (Semarang) dan berhasil menjadi suadagar beras yang lumayan sukses. Tjie Sien mendirikan perusahaan bernama Kian Gwan.

    Keberhasilan Tiong Ham bukanlah berasal dari Tjien Sien. Ia berani mengambi risiko dari modal yang diberikan oleh seorang pengusaha perkebunan Jerman yang menginginkan tanah yang akan diwariskan oleh Tjien Sien kepadanya. Dengan modal dari pengusaha Jerman tersebut Tiong Ham memulai bisnis gula. Ia berhasil mengembangkan usahanya sehingga menjadi jauh lebih kaya dari ayahnya. Usahanya tidak hanya ada di Jawa tetapi menyebar di banyak tempat, termasuk perkebunan kelapa di Malaysia.

    Selain menikah secara resmi dengan Goei Bing Nio, Oei Tiong Ham juga mempunyai banyak istri yang oleh Oei Tiong Ham disebut sebagai selir. Termasuk salah satunya adalah Lucy Ho yang sebenarnya adalah keponakan dari Goei Bing Nio. Oei Tiong Ham memiliki banyak anak dari para selirnya tersebut.

    Pernihakan Oei Tiong Ham dengan Goei Bing Nio tidak bahagia. Meski mereka sering bertengkar, keduanya tidak berkeinginan untuk bercerai. Tiong Ham menganggap Bing Nio adalah istri yang membawa keberhasilan, sedangkan Bing Nio tidak mau bercerai karena sangat menikmati kekayaan Tiong Ham.

    Tjong Lan menikah dengan seorang dokter di London. Mereka tinggal di London dan diserahi untuk mengelola perusahaan Oei Tiong Ham yang ada di Eropa. Setelah Oei Tiong Ham menikah dengan Lucy Ho, ibu Hiu Lan memutuskan untuk tinggal di London bersama dengan Tjong Lan. Melalui ajakan ibunyalah akhirnya Hui Lan ikut ke Eropa.

    Di Eropa Hui Lan dibangun imagenya oleh ibunya sebagai bagian dari para jetset. Hui Lan hidup mewah dan sering berpesta dengan para pesohor Eropa. Diantara pesohor Eropa yang pernah dijumpainya adalah Putri Alice dari Monaco.

    Saat di Eropa inilah dia dikenalkan kepada Wellington Koo oleh ibu dan kakaknya. Wellington Koo adalah pejabat tinggi dari China yang sedang berupaya untuk melobi negara-negara Eropa supaya mendukung pengembalian wilayah Shantung dari Jepang kepada China. Pada tahun 1921 mereka menikah. Mereka dikaruniai 2 orang anak ditambah dengan 2 anak Wellington dari istri sebelumnya yang meningga dunia.

    Setelah menikah dengan Wellington Koo, pergaulan Hui Lan tidak hanya dengan kalangan jetset, tetapi juga dengan kalangan para pejabat negara.

    Hui Lan tidak bisa hidup dengan standar suaminya. Itulah sebabnya dengan uangnya sendiri ia sering melakukan renovasi rumah dinas, membeli mobil yang lebih baik dari yang bisa didapat oleh suaminya. Ia tidak peduli dengan pengeluarannya asal dia bisa tetap hidup senang dengan harta yang dimilikinya.

    Malah pernah suatu waktu, sebuah penerbitan mewartakan bahwa saat rakyat China sedang menderita, istri Wellington Koo malah melakukan pemborosan dengan memberi makan anjing-anjingnya secara mewah. Namun Hui Lan menjelaskan bahwa ia tidak menggunakan uang dari pemerintah untuk memberi makan anjing-anjingnya.

    Saat berkesempatan ke Asia, Hui Lan bertemu dengan ayahnya yang sudah pindah dari Semarang ke Singapore. Hui Lan begitu terkejut dengan cara hidup ayahnya yang amat sangat sederhana. Tetapi ayahnya merasa bahagia hidup dengan cara barunya bersama dengan Lucy Ho.

    Sejak pertemuan terakhirnya di Singapore, Hui Lan tidak berjumpa lagi dengan ayahnya. Hui Lan mendapat khabar bahwa awayhnya meninggal karena serangan jantung. Namun Hui Lan tidak yakin akan hal tersebut. Ia berupaya supaya jenasah ayahnya diotopsi. Namun hanya ibunya yang boleh mengajukan usulan otopsi. Ibunya menolak, sehingga akhirnya upaya untuk mencari tahu penyebab kematian ayahnya tidak jadi dilakukan.

    Kematian Oei Tiong Ham menimbulkan sengketa bagi keluarganya. Sebab tidak semua anak Oei Tiong Ham mendapat warisan. Anak-anak Oei Tiong Ham yang tidak mendapatkan warisan melakukan gugatan di pengadilan.

    Kemalangan usaha Oei Tiong Ham tidak hanya terjadi karena sengketa keluarga. Meski salah satu anak Oei Tiong Ham ikut mendukung upaya kemerdekaan Indonesia, namun akhirnya usaha Oei Tiong Ham ini disita oleh Sukarno. Oei Tjong Hauw menjadi ketua Chung Hwa Hui terpilih menjadi anggota BPUPKI.

    Masa tua Oei Hui Lan tidak bahagia. Satu per satu orang-orang dekatnya meninggal. Ibunya meninggal pada tahun 1947. Hubungannya dengan Wellington menjadi semakin dingin. Mereka sudah tidak pernah saling berjumpa. Anak lelakinya mempunyai gundik, hal yang sangat dia tentang dalam hidupnya. Oei Hui Lan sangat tidak suka lelaki yang tidak setia kepada satu istri. Hal ini dipelajarinya dari ayahnya yang pernikahannya dengan banyak perempuan menimbulkan masalah yang rumit. Saat ia tinggal di apartemen kecil, ia dirampok. Perhiasan yang tidak seberapa jumlahnya terpaksa harus diserahkan kepada para perampok tersebut.

    Oei Hui Lan meninggal pada usia 103 pada tahun 1992.

    Oei Hui Lan adalah seorang perempuan yang kuat dalam kemauan. Ia ingin selalu menjadi yang nomor satu. Meski kehidupannya dilimpahi harta, kemewahan dan pergaulan dengan kalangan atas, namun ia tidak mendapatkan kebahagiaan dari semua itu. Ia justru mendapatkan kebahagiaan karena ia belajar dari hidup itu sendiri.

    Berikut adalah ucapannya di masa tua: “Berkenalan dengan kaum ningrat dan orang-orang berduit tidaklah penting, otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan tetapi bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus … Orang-orang yang pernah hadir dalam hidup saya telah mengajarkan banyak hal kepada saya untuk lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Umur panjang patut saya syukuri di masa tua saya. Saya berharap keluarga saya dapat menjadi inspirasi bagi siapa pun sehingga pada akhirnya mereka tahu kalau tidak ada pesta yang tidak berakhir seperti kutipan sebuah pepatah asal China yang sangat menyedihkan.”

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.