Instrumentatif Produksi dalam Pandangan Islam di Era Modern - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mahasiswa/I Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi

fadillah aulia fenika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Oktober 2019

Senin, 7 Oktober 2019 20:50 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Instrumentatif Produksi dalam Pandangan Islam di Era Modern

    Dibaca : 133 kali

    Teknologi sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-sehari, termasuk kegiatan
    produksi. Pada saat ini, kemajuan teknologi berkembang semakin pesat sehingga banyak produsen yang memanfaatkan teknologi untuk mempermudah proses produksi agar lebih efektif dan efisien. Maka dari itu para produsen berlomba-lomba ingin berpenghasilan dari produk yang telah mereka produksi dan sesuai target pasar.
     
    Di era modern saat ini banyak produsen yang memanfaatkan perkembangan Iptek untuk menghasilkan produk dengan cara – cara yang praktis, seperti contohnya sebuah perusahaan yang memproduksi daging beku, dimana dalam proses pembuatannya menggunakan mesin dan itu sangat bertolak belakang dengan syariat Islam. Rasulullah saw. bersabda :
     

    “(alat) apa saja yang dapat mengalihkan darah dan disebut nama allah (pada saat menyembelih) maka makanlah (sembelihan itu) asalkan tidaak menggunakan kuku dan gigi, adapun kuku adalah pisaunya orang habasyah sedangkan gigi merupakan tulang. “

     
    Jadi dapat kita simpulkan bahwa penting sekali para produsen dalam memproduksi suatu produk hendaklah memerhatikan alat yang sesuai syariat islam. nah, bagaimana kegiatan produksi dalam pandang islam yang sebenarnya?
     
    Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. Kegiatan
    produksi lah yang menghasilkan barang dan jasa, kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Namun ada beberapa ahli menyatakan yakni Suwiknyo (2010) mengatakan bahwa produksi merupakan aktivitas mengelola dan mengombinasikan beberapa faktor produksi sehingga menghasilkan sebuah output, namun menurut Hidayat (2010) produksi suatu proses atau siklus kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang ataujasa tertentu dengan memanfaatkan sektor-sektor produksi dalam waktu tertentu.Jadi produksi merupakan aktivitas mengelola dan mengombinasikan beberapa faktor produksi untuk menghasilkan barang atau jasa . Machmud (2017) menyatakan proses produksi terdapat beberapa prinsip yaitu kegiatan produksi harus dilandasi dengan nilai islam dan proses produksi harus sesuai dengan kebutuhan serta mengelola SDA secara optimal.
     
    Amir (2017) menyatakan Ada beberapa yang harus diperhatikan seorang produsen
    muslim dalam memproduksi barang dan jasa yaitu :
    1. Dalam memproduksi barang kebutuhan sekunder dan tersier disesuaikan dengan
      permintaan pasar
    2. Produsen hendaklah tetap melakukan kontrol (mempertimbangkan sepenuhnya)
      permintaan pasar
    3. Dalam proses produksi dan pemasaran, produsen harus mempertimbangkan aspek
      ekonomi misalnya tidak melakukan kegiatan produksi dalam biaya tinggi
    4. Tidak melakukan penimbunan barang dengan maksud untuk meraih keuntungan yang
      besar terutama utk barang kebutuhan pokok
    Dalam kegiatan produksi seorang produsen tidak saja kegiatan produksi tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri tapi juga harus sebagian harta yang dimiliki nya untuk orang lain. Karena pada harta tersebut melekat hak orang miskin baik yang meminta maupun yang tidak meminta. Lalu setelah kita membahas tentang produksi terhadap pandangan islam, tentu kita juga harus tahu mengenai apa saja yang dibolehkan dan yang tidak bolehkan dalam produksi. Machmud (2017) menyatakan produksi yang boleh dilakukan yakni bekerja dan melakukan kegiatan ekonomi dalam produksi tersebut menjadi ibadah dan jihad, dan bahan yang digunakan tentunya merupakan bahan-bahan yang halal. Sedangkan, produksi yang tidak dibolehkan yaitu produksi yang dilakukan dengan cara yang tidak baik dan berbahan dasar yang tidak halal, sumber modal yang digunakan tidak halal, serta produk yang dihasilkan tidak memberikan manfaat.
     
    Semua produsen seharusnya memperhatikan target pasar yang tuju terutama negara yang mayoritas penduduknya umat muslim, karena kegiatan produksi terikat pada tataran nilai moral dan teknikal islami. Konsep produksi tidak hanya semata hanya ingin memaksimalkan keuntungan didunia saja akan tetapi yang lebih penting lagi adalah untuk mencapai maksimalisasi keuntungan diakhirat.
    Artikel ini ditulis Salsabilla Icwhan, Fadillah Aulia Fenika, Suci Ameliya, Andi Megawati, dan Rifaldi
    Agung Pratama dari Mahasiswa Akuntansi , Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jambi


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    Minggu, 31 Mei 2020 10:05 WIB

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.177 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).