Ilmu Pengetahuan Kunci Transformasi untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Penampakan Stasiun LRT Harjamukti Cibubur yang tengah dibangun untuk melayani penumpang koridor Cibubur-Cawang. Proyek pembangunan prasarana LRT Cibubur-Cawang kini telah mencapai 85,7 persen. TEMPO/Francisca Christy Rosana

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 15 Oktober 2019 21:02 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ilmu Pengetahuan Kunci Transformasi untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

    Dibaca : 116 kali

    Oleh: Endah Murniningtyas

    Empat tahun sudah pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang di Deklarasikan Kantor Pusat PBB bulan September 2015 di New York. Namun demikian, Laporan Spesial Perkembangan Pencapaian TPB yang disusun Sekretaris Jenderal PBB bulan Juli 2019[1] baru-baru ini menyatakan bahwa meskipun terdapat kemajuan di beberapa tujuan seperti penurunan kemiskinan ekstrim dan kematian anak, akses listrik di negara-negara miskin, maupun kesetaraan jender serta produktivitas tenaga kerja, namun secara umum pencapaian TPB secara global memburuk sejak tahun 2015.  Di Asia Pasifik[2] meskipun pencapaian TPB juga terjadi, namun tidak secepat yang diinginkan.  Langkah urjen diperlukan untuk memperkuat perlindungan lingkungan hidup. Negara-negara Asia dan Pasifik membuat perkembangan yang sangat berbeda-beda.  Ketersediaan data juga menjadi tantangan untuk pelaksanaan dan pencapaian TPB.

    Gambaran capaian tersebut di atas juga didukung oleh laporan dari Tim Independen Global Scientist/Expert yang berisi wakil dari 15 negara yang dipilih oleh PBB berdasarkan usulan negara anggota.  Laporan disusun dengan mengadakan assessment dari berbagai riset para ilmuwan yang ada.  Dengan langkah-langkah saat ini, dengan kecepatan dan cara yang biasa dilakukan saat ini, serta cara pelaksanaan yang hanya memperhatikan tercapainya satu per satu tujuan dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, maka dipastikan tujuan yang dituangkan dalam Agenda TPB tidak akan tercapai pada tahun 2030 nanti.

    Diperlukan cara pandang dan pelaksanaan secara sistem: melaksanakan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan secara sistem dan memilih kebijakan dan langkah yang memiliki “co-benefit” bukan yang memiliki trade-off.

    Berbeda dengan MDG yang hanya memiliki 8 tujuan dan menitik beratkan pada pembangunan manusia, maka TPB difokuskan pada tujuan membangun kemajuan kesejahteraan sosial, kesejahteraan ekonomi, dengan tetap melestarikan lingkungan hidup dengan 17 Tujuan dan 169 target yang terukur.  Dalam laporan GSDR tersebut dinyatakan bahwa antar 17 Tujuan dan 169 Target ini saling memiliki trade-off namun terdapat pula co-benefit.  Dengan demikian, apabila pelaksanaan TPB tidak dilihat sebagai satu sistem dan memperhatikan adanya trade-off, maka kemajuan pelaksanaan target yang satu akan dapat meniadakan atau menghilangkan kemajuan target yang lainnya.  Hasil pelaksanaan pembangunan berkelanjutan selama ini, peningkatan kesejahteraan ekonomi ternyata diikuti dengan memburuknya kondisi lingkungan hidup.  Hasil assessment menunjukkan bahwa tanpa memperhatikan interkoneksi antartujuan dan target, maka capaian TPB tidak akan dilakukan tepat waktu. 

    Untuk itu, diperlukan “perubahan cara pandang dan cara pelaksanaan yang transformatif”: memandang seluruh 17 Tujuan dan 169 Target ini sebagai satu sistem; melihat interkoneksi antara Target dan Tujuan, dan kemudian memilih kebijakan dan langkah-langkah yang bersifat saling menguntungkan (co-benefit) dan menghindari kebijakan dan langkah-langkah-langkah yang akan menimbulkan trade-off.   Dalam laporan diinformasikan bahwa ilmu pengetahuan (science) telah membantu meng”assess” Tujuan dan Target mana saja yang berpotensi memiliki hubungan saling menguntungkan (co-benefit) dan tujuan dan target mana yang saling bertentangan dan memiliki trade-off.

    Enam (6) “entry point” Transformasi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

    Untuk dapat mencapai tujuan dengan tepat sasaran dan waktu, laporan ini menyarankan 6 (enam) entry point untuk melakukan transformasi pembangunan berkelanjutan, yaitu: (a) Human wellbeing and capabilities; (b) Sustainable and just economies; (c) Food System and Nutrition Pattern;; (d) Energy decarbonization and universal access; (5) Urban and Peri-urban development; (6) Global Environmental Commons. 

    Hasil assessment ilmuwan tersebut menyataan bahwa terdapat 4 pengungkit (levers) untuk melakukan transformasi yaitu: (a) tata kelola; (b) ekonomi dan pendanaan; (c) perilaku dan aksi bersama serta (d) ilmu pengetahuan dan teknologi berperan penting dalam 6 entry point transformasi tersebut di atas. Berdasarkan assessment berbagai penelitian yang ada sampai saat ini, dapat dirumuskan keempat langkah-langkah pengungkit yang saling menguntungkan dan bukan yang menimbulkan trade-off untuk Tujuan dan Target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan lainnya.

    Salah satu contoh kecil dalam laporan ini misalnya dalam entry point system pangandan pola nutrisi, maka akses atas pangan untuk semua perlu dijamin dengan membuat rantai pangan yang efisien dan ramah lingkungan. Pilihan peningkatan produksi secara intensif tidak akan ada gunanya apabila tidak diiringi dengan penurunan “keborosan” di seluruh rantai pangan (paskapanen, pemasaran dan keborosan dalam menyantap makanan di meja).  Apabila produksi pangan secara intensif tetap dilakukan tanpa mengurangi keborosan rantai pangan, maka pada tahun 2030 tidak akan ada lahan pertanian yang cukup untuk memproduksi pangan yang mencukupi kebutuhan penduduk dunia yang akan mencapai 9 miliar lebih. Pada masing-masing entry point diuraikan pilihan kebijakan dan langkah-langkah yang perlu ditempuh secara sinergis.  Langkah-langkah tersebut bukan hal yang tidak bisa dilakukan, karena ada beberapa contoh kasus di berbagai negara yang sudah melakukannya. Ilmu pengetahuan selama ini sudah dapat menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan. Masalah yang dihadapi adalah terdapat perbedaan (gap) antara pengetahuan yang kita ketahui dengan yang kita laksanakan. 

    Untuk mencapai hasil di tingkat global, transformasi di atas sangat penting dilakukan di tingkat negara.  Namun, langkah transformasi yang disarankan perlu diterjemahkan oleh masing-masing negara sesuai dengan kondisi setempat. Peran ilmuwan dan para pihak, terutama pengambil keputusan, dalam menggunakan ilmu pengetahuan untuk memilih kebijakan dan langkah-langkah yang saling menguntungkan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sangat kunci.

    Disadari bahwa pengambilan keputusan yang sering kali secara cepat, tidak “sabar” untuk “menunggu” informasi dari para ilmuwan untuk menyampaikan analisa atas pilihan kebijakan dan langkah-langkah yang memiliki “co-benefit”.  Demikian pula, ilmuwan sering kali tidak antisipasif dan secara cepat dapat menyajikan analisa terbaik dengan konsekuensinya. 

    Untuk itu, kedua pihak, pengguna ilmu pengetahuan dalam hal ini terutama pemerintah, swasta dan masyarakat dan penghasil analisis yaitu ilmuwan perlu meningkatkan komunikasi dan kerjasama melaksanakan pembangunan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang terkandung dalam Agenda 2030 harus menjadi “kompas” bersama semua pihak.

    Untuk aksi bersama, laporan berjudul The Future is Now: Science for Sustainable Development memberikan 20 Call to Actions yang ditujukan tidak hanya kepada Pemerintah, dan Lembaga Internasional, namun juga kepada Pelaku Usaha, Lembaga Swadaya Masyarakat dan masyarakat pada umumnya, ilmuwan dan akademisi, terutama generasi muda, karena kita semua sebagai individu dan sebagai Lembaga, memiliki peran dan kontribusi dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. 

    Ilmu pengetahuan: kunci untuk pembangunan berkelanjutan

    Untuk menjalankan transformasi agar dapat mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kapsitas dan peran ilmuwan perlu ditingkatkan.  Secara internal, ilmuwan perlu bertransformasi diri.  Demikian pula, pola hubungan ilmuwan dengan para pihak untuk dapat memberikan informasi pilihan kebijakan yang banyak memiliki “co-benefit” di setiap negara perlu ditingkatkan. 

    Terdapat tiga langkah dalam untuk meningkatan peran ilmu pengetahuan dalam transformasi menuju pembangunan berkelanjutan. 

    Agenda 2030: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dijadikan “kompas Bersama” untuk peningkatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Langkah ini penting karena ilmu pengetahuan merupakan “agen perubahan”.  Agenda 2030: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan “kompas” untuk mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan kesejahteraan Bersama sebagaimana di-Deklarasikan dalam the Future We Want.  Sinergi berbagai disiplin ilmu pengetahuan penting untuk Bersama-sama mencari landasan kebijakan secara multi-disiplin dan terpadu sehingga dapat memberikan saran yang memiliki “co-benefit” dan bukan yang mememiliki “trade-offs”.   Ilmu pengetahuan juga masih diperlukan untuk mengidentifikasi isu-isu pembangunan berkelanjutan yang masih belum tercakup di dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, atau sering dikenal denganistilah “beyond the goal”.

    Sustainability Science.  Pada saat ini sedang berkembang sustainability science, yang diketahui dapat membantu untuk mengelola “trade off” yang pasti akan ada dalam setiap pengambilan keputusan kebijakan publik.  Inisiatif untuk mengembangkan sustainability science perlu segera dilakukan untuk meningkatkan peran ilmu pengetahuan sesuai dengan kebutuhan pembangunan berkelanjutan.  Beberapa langkah dalam kaitan ini adalah transformasi di dalam institusi ilmu pengetahuan, agar agenda riset ditentukan bersama,  dan kemampuan ilmuwan ditingkatkan. Pada saat ini, pengetahuan kita tentang pembangunan berkelanjutan dalam setiap disiplin sudah ada.  Aset ini perlu dimanfaatkan untuk memberikan kontribusi ilmuwan dan ilmu pengetahuan untuk pembangunan berkelanjutan.  Mengingat pembangunan berkelanjutan adalah langkah jangka panjang, peran Lembaga Pendidikan dan pemahaman generasi muda atas pembangunan berkelanjutan juga perlu ditingkatkan.

    Kemitraan untuk Transformasi.  Peran Pemerintah untuk melembagakan science-policy-society dalam rangkaian proses sejak co-designing, pelaksanaan serta pemantauan pembangunan berkelanjutan untuk dapat mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tepat waktu.  Para pelaku pembangunan berkelanjutan – ilmuwan, pembuat kebijakan, pelaku usaha, masyarakat- harus memikirkan kembali bentuk kerjasama yang dapat menciptakan rangkaian kolaborasi eksperimental untuk dapat memberikan masukan-masukan baru yang teruji namun tersedia tepat waktu.  Bentuk kemitraan ini memerlukan pemahaman dan semangat transformatif semua pihak.  Pemahaman dan semangat transformatif ini sangat penting dilakukan di kalangan ilmuwan muda dan generasi muda pada umumnya, karena masa depan ada di tangan mereka. 

    Secara global, kerja sama di antar ilmuwan antarnegara perlu ditingkatkan untuk mengatasi kesenjangan kemampuan ilmiah di negara-negara sedang berkembang.  Terakhir, masyarakat juga perlu diajak berpikir ilmiah dan di pihak lain ilmu pengetahuan perlu didekatkan ke masyarakat. 

    Dengan memberi pemahaman transformatif dan penyediaaninformasi yang berbasis ilmu pengetahuan kepada masyarakat secara mudah dipahami dan mudah diakses, maka komitmen bersama untuk menjalankan Agenda 2030 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dapat dilakukan bersama, karena masa depan adalah saat ini dan ilmu pengetahuan memiliki jawaban untuk melakukan perubahan bersama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

    Endah Murniningtyas adalah Co-Chair Independent Global Scientist/Expert for Global Sustainable Development Report 2019

     

    [1]Special Edition of the Sustainable Development Goals, July 2019

    [2]Asia and the Pacific SDG Progress Report 2019, July 2019


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.