Benarkah Tujuan Utama Menaikkan Cukai Rokok untuk Meningkatkan Penerimaan Negara ? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Widha Arum

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Oktober 2019

Rabu, 23 Oktober 2019 08:05 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Benarkah Tujuan Utama Menaikkan Cukai Rokok untuk Meningkatkan Penerimaan Negara ?

    Dibaca : 107 kali

    18 Oktober 2019, 12.45 WIB
    Oleh: Wida Arum A R

    Pemerintah secara resmi akan menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen dengan harga jual eceran (HJE) sebesar 35 persen mulai Januari 2020 mendatang. Besaran cukai rokok yang mengalami kenaikan secara drastis ini akan berdampak terhadap kemiskinan. Sebab, rokok menjadi kontributor terbesar kedua setelah beras.

    Seorang Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendi Manilet menilai, kontribusi rokok dalam rumah tangga miskin di pedesaan sebesar 11,36 persen, dan 12,2 persen di daerah kota. Rokok juga menjadi satu kelompok pengeluaran yang paling besar pada masyarakat miskin.

    Oleh karena itu, kenaikan cukai rokok yang cukup drastis ini akan membebankan konsumsi masyarakat yang juga memberikan pengaruh terhadap tingkat daya beli, terutama pada masyarakat kelas menengah kebawah. Karena masyarakat akan berpikir berkali-kali untuk membeli rokok dengan harga yang sudah melambung tinggi dibandingkan saat sebelum cukai rokok naik.

    Namun kenaikan cukai rokok tidak terus memberikan dampak negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif. Dalam hasil penelitian menyatakan bahwa para perokok muda di dominasi oleh masyarakat yang berusia 10-18 tahun yang terus mengalami peningkatan pada tahun 2013-2018. Dalam hal ini, maka kebijakan pemerintah dalam menaikkan cukai rokok dapat memberikan pengaruh yang baik, yaitu dapat mengurangi tingkat perokok muda yang dari tahun ke tahunnya selalu bertambah.

    Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa setidaknya terdapat tiga hal yang menyebabkan pemerintah memutuskan untuk menaikkan cukai rokok. “Satu, tahun lalu tidak naik. Sehingga ya naiknya wajar kalau lebih banyak, lebih besar." ujar di Jakarta Convention Center, Sabtu (14/9/2019).

    "Kedua, cukai itu kan (alasan) objektifnya ada beberapa. Satu adalah urusan menurunkan konsumsi, ya karena untuk kesehatan,” kata dia. Ketiga, terkait urusan penerimaan negara. Pemerintah meyakaini bahwa kenaikan cukai rokok akan mendongkrak penerimaan negara.

    Faktanya, isu kesehatan dan usia perokok wanita dan pria bukan menjadi alasan utama naiknya cukai rokok. Namun kebijakan pemerintah ini tidak lepas dari naiknya target penerimaan negara tahun depan. Target penerimaan cukai yang disepakati mencapai Rp180,5 triliun pada tahun 2020 mendatang. Target itu lebih besar dari usulan awal sebesar Rp179,2 triliun pada Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2020.

    Target tersebut juga lebih tinggi dari target pada tahun 2019 yang hanya sebesar Rp165,5 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dengan kenaikan cukai rokok yang drastis ini, maka harga jual rokok eceran (HJE) juga otomatis akan naik sebesar 35 persen. Kenaikan cukai rokok dan harga jual eceran rokok ini berdasarkan tiga pertimbangan, yakni untuk mengurangi konsumsi rokok yang sangat tinggi, mengatur industri rokok, dan meningkatkan penerimaan negara.

    Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan bahwa kebijakan kenaikan cukai rokok ini semata-mata bukan untuk mencari sumber aternatif dalam menambah sumber penerimaan negara, namun tujuannya adalah untuk mengendalikan tingkat konsumsi rokok di masyarakat.

    Berdasarkan data dari Riskesdas perokok mudah rentang usia 10-18 tahun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 203 sebesar 7,2 persen, kemudian pada tahun 2016 naik menjadi 8,8 persen, hingga pada tahun 2018 menunjukkan bahwa jumlah perokok sudah mencapai 9,1 persen. Dan untuk perokok di atas usia 15 tahun berjumlah 33,18%. Piter mengatakan meskipun kemudian kenaikan cukai rokok ini meningkatkan penerimaan negara, hal itu bukan menjadi tujuan utama dari naiknya cukai rokok yang ditetapkan pemerintah.

    Seorang peneliti dari Universitas Padjajaran Satriya Wibawa menilai rencana kenaikan cukai rokok yang ditetapkan pemerintah justru akan menyebabkan pendapatan negara menjadi berkurang atau menurun. Menurutnya, dampak negatif dari naiknya cukai rokok tersebut akan menyebabkan beberapa jenis rokok mengalami kenaikan harga dan penjualan rokok akan menurun secara otomatis. Pada akhirnya, para pengguna akan beralih ke rokok lain yang harganya lebih murah.

    Berdasarkan data MUC Tax Research yang dikutip CNBC Indonesia, Senin (16/9/2019), Jokowi tercatat telah menaikkan tarif cukai rokok hingga 50% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Menurut Direktur Eksekutif MUC Tax Research Institut Wahyu Nuryanto, pemerintah menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam setiap kebijakan kenaikan cukai rokok. Sementara itu, kerugian terbesar dari adanya kebijakan kenaikan cukai rokok ini dialami oleh konsumen dan para pekerja di industri rokok.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 813 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).