Takjub Bila Benar Prabowo Menjadi Pembantu Jokowi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 22 Oktober 2019 23:05 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Takjub Bila Benar Prabowo Menjadi Pembantu Jokowi

    Dibaca : 2.820 kali


    Satu kata yang saya pilih saat melihat fakta bahwa Prabowo Subianto akan masuk ke Kabinet Kerja Joko Widodo-Ma'ruf Amin, yaitu: "Takjub"

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti takjub adalah kagum dan heran.

    Jadi, dengan masuknya Prabowo Subianto yang telah menjadi lawan sangat tangguh bagi Joko Widodo dalam Pilpres 2019, hingga membuat kedua pendukungnya berseteru tiada habisnya sampai berkorban waktu, pikirian, uang, tenaga, hingga nyawa, ternyata Prabowo dengan legowo, boleh dikatakan bertekuk lutut menerima kekalahan hingga pada akhirnya siap menjadi pembantu Jokowi.

    Prabowo benar-benar rela meletakkan reputasinya yang bahkan juga dapat menghancurkan partai yang dikuasainya, demi bersatu dengan Jokowi, kendati hanya menjadi pembantu demi persatuan dan kesatuan bangsa.

    Bisa jadi Prabowo tak pernah lupa dan tak aka pernah melupakan usaha dan dukungan partai-partai serta rakyat yang mencintainya, namun Prabowo tetap berjalan dengan kehendak hatinya bergabung dengan lawan politiknya, meski hanya duduk sebagai seorang menteri.

    Itulah makna takjub yang berarti kagum atas sikap pribadi dan keputusannya meski langkah Prabowo jelas telah menciderai hati dan pikirian para pendukungnya yang selama ini bahu-membahu setia mendukung dan membelanya demi menjadi Presiden Indonesia.

    Atas sikap Prabowo yang secara pribadi siap membantu Jokowi, maka ada kata takjub yang bermakna heran.

    Mengapa? Ya. Jangankan pendukung Prabowo di Pilpres, pendukung Jokowi saja heran, kok bisa-bisanya Prabowo malah dengan rela hati mau jadi pembantu Jokowi?

    Pendukung Jokowi pun bukannya kagum, tapi malah nyinyir dan curiga. Ada maksud apa, hingga Prabowo mau hanya duduk sekadar menjadi pembantu Jokowi, padahal dialah satu-satunya seteru politiknya sebelum akhirnya "dikalahkan" Jokowi.

    Sementara pendukung Prabowo banyak yang berpikir, andai partai Prabowo tetap mau berkoalisi, bukan beroposisi dengan Jokowi (Pemerintah) sebagai pemimpin partai, sebagai calon presiden, mengapa Prabowo sendiri yang harus turun dan merendahkan diri menjadi pembantu Jokowi?

    Bisa saja, Prabowo.menyebut nama dan menugaskan kader partainya yang menjadi menterinya Jokowi bila mau berkoalisi. Mengapa harus Prabowo?
    Kasihan pendukung Prabowo yang selama ini telah membelanya, ternyata Prabowo tidak pernah memikirkan perasaan dan hati pendukungnya, tapi hanya berpikir atas kepentingan pribadinya sendiri, bukan kepentingan partai atau pedukungnya.

    Jika Jokowi meminta Prabowo masuk dalam jajaran kabinetnya, kan Prabowo tetap saja bisa menerima, namun bukan dia yang langsung turun.

    Benar kata orang, politik itu selalu abu-abu. Tapi kepentingan rakyat selalu hitam-putih. Pendukung Jokowi dan Prabowo tidak pernah abu-abu, namun hitam putih, karena terbukti dalam perseteruan yang tak kunjung selesai.

    Namun Jokowi dan Prabowo selalu abu-abu. Bisa hitam, bisa putih, bisa warna lain, sesuai kepentingannya sendiri ataupun kepentingan partai dan golongannya.

    Bila akhirnya, Prabowo benar-benar ada dalam barisan meneteri kabinet Jokowi, takjub.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.