Jabat Mendikbud Terlalu Berat bagi Nadiem Makarim - Analisa - www.indonesiana.id
x

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 23 Oktober 2019 11:55 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Jabat Mendikbud Terlalu Berat bagi Nadiem Makarim

    Dibaca : 3.545 kali

    Jabatan Mendikbud dibutuhkan sosok yang berpengalaman, bukan orang baru.

    Pendiri GoJek Indonesia Nadiem Makarim, pagi ini, Rabu (23/10/2019) resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Jilid II.

    Sontak pengumuman ini menjadikan pertanyaan hebat para netizen. Banyak pendapat yang mengungkapkan bahwa latar belakang Nadiem yang seorang pengusaha, dinilai tidak cocok duduk menjadi orang nomor satu di Kementerian Pendidikan.

    Bahkan, sebelum di sebut menjadi Mendikbud oleh Jokowi, Nadiem juga di demonstrasi oleh pasukan GoJeknya yang memberikan fakta bahwa Nadiem belum dapat mensejahterakan pasukanya di bawah.

    Kompleksitas dunia pendidikan di Indonesia yang dari tahun ke tahun bertambah pelik, sangat mustahil dipimpin oleh individu yang jauh dari pemahaman dunia pendidikan dan dunia kebudayaan yang setiap tahun tak henti menuai kontroversi akibat kebijakan-kebijakan yang prematur.

    Bila pada faktnya hari ini, Jokowi menunjuk Nadiem menduduki pos Mendikbud, apa alasannya?

    Yang pasti, pos ini bukan pakemnya Nadiem. Nadiem hanya berbasic pengusaha. Pengusaha itu hanya berpikir untung dan rugi. Lalu, usaha Nadiem pun hanya dalam bisnis transportasi. Di mana letak nyambungnya?Bila Jokowi termyata memaksakan Nadiem duduk di pos ini hanya karena masalah milenial dan terobosan agar segala sesuatu dalam birokrasi terjadi dengan cepat, salah besar.

    Dunia pendidikan bukan sekadar mengoperasikan laptop yang sudah tersistem. Yang siapapun dapat mengopersikannya. Butuh sentuhan pedagogis (kognisi, afektif, dan psikomotor) yang wajib menjadikan manusia benar-benar menjadi manusia sesuai karakter bangsa Indonesia. Bukan menjadikan manusia menjadi robot, namun yang susah tetap manusia yang bernama rakyat jelata.

    Berangkat dari pengalaman dan fakta yang terjadi, menjadi seorang menteri di bidang pendidikan yang wajib membangun sumber daya manusia, tidak cukup hanya sekedar injeksi pengetahuan. Karena ada yang justru secara mendasar perlu di bangun, yaitu karakter.

    Hemat saya, Mendikbud Kabinet Jilid I masih sangat layak meneruskan di periode kedua. Masih dapat menuntaskan persoalan zonasi sekolah yang sangat "riweh" praktiknya di lapangan. Lalu masalah ketersediaan guru profesional yang terus menjadi wacana, sebab meski sudah ada sertifikasi guru pun, masalah guru tetap menjadi keprihatinan dalam pendidikan nasional.

    Yang pasti anggaran pendidikan yang besar, harus tetap dikelola oleh Menteri yang memang pada bidangnya, pada pakemnya.

    Kita lihat, apa yang akan dilakukan Nadiem. Bila Presiden sudah mempercayakan kedudukan ada di pundak Nadiem. Namun, sayang sekali, kasihan Nadiem, masih terlalu hijau di berikan tanggungjawab yang terlalu berat.

    Banyak tokoh yang lebih pantas dan lebih tepat di Republik ini. Tidak kekurangan. Mengapa harus orang baru dan masih hijau?

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.