Radikalisme Hantui Jokowi, Dulu Tjokro Jadikan Islam Sebagai Pencerah - Analisa - www.indonesiana.id
x

Diskusi Pemikiran Tjokroaminoto

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 24 Oktober 2019 01:33 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Radikalisme Hantui Jokowi, Dulu Tjokro Jadikan Islam Sebagai Pencerah

    Dibaca : 2.605 kali

    Kini isu radikalisme bagaikan menghantui pemerintah. Presiden Joko Widodo tampak  serius memeranginya. Ia sampai menitipkan urusan ini ke  menteri baru seperti Menteri  Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud Md.

    Jokowi pun mengangkat  mantan Kapolri, Tito Karnavian, --figur yang amat berpengalaman memerangi terorisme--  menjadi Menteri  Dalam Negeri.  Presidan bahkan menempatkan mantan Wakil Panglima TNI Fachrul Razi  untuk menjaga pos Kementerian Agama.

    Keadaan ini sungguh ironis  jika kita menengok sejarah bangsa ini, satu abad silam. Kala itu bendera Islam dikibarkan oleh  Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto justru untuk membebaskan bangsa dari  penindasan Belanda.   Melalui organiasi Sarekat Islam yang dipimpinnya,  Islam menjadi inspirasi yang mencerahkan rakyat untuk menuntut hak-haknya.

    HOS Tjokroaminoto pun berhasil membesarkan Sarekat Islam yang berdiri sejak 1912. Menurut sejarahwan Bonnie Triyana,  keunggulan Tjokro adalah sikapnya yang egaliter. Dia tak memandang usia, status, atau jabatan. Yang terpenting para anggota beragama sama. Ini membuat banyak orang bergabung dengan Sarekat. Sejak awal, anggaran dasar yang disusun Tjokro tak hanya berupaya melindungi kaum pribumi dalam perdagangan. “Ada kepentingan memajukan kesejahteraan dan pendidikan umat Islam. Kepentingannya lebih luas,” kata Bonnie dalam edisi khusus Tempo, 15 Agustus 2011

    Guru para tokoh nasional
    HOS Tjokroaminoto  lahir di Desa Bakur, Sawahan, Madiun,  Jawa Timur pada  16 Agustus 1882. Ia pernah menjadi  juru tulis  di Ngawi, lalu pindah ke Semarang menjadi  kuli  pelabuhan  sebelum akhirnya hijrah ke Surabaya. Di kota  ini aktivitas politik Tjokro amat tinggi.  Ia juga pernah tinggal di Yogyakarta hingga meninggal  pada 17 Desember 1934, saat berusia  52 tahun.

    Pengaruh  pemikiran HOS Tjokroaminoto  sungguh luar biasa di zaman pergerakan nasional. Dengan pidato-pidatonya, Tjokro menumbuhkan semangat kebangsaan, juga harapan. Rakyat jelata menganggapnya ”Ratu Adil”. Pemerintah Belanda menjulukinya ”Raja tanpa Mahkota”.

    Perjuangan menuntut  hak-hak rakyat dan kesetaraan itu terlihat jelas dalam pidato dan tulisan-tulisan Tjokro. Pada 1914, di koran Doenia Bergerak, ia pernah  menulis sajak:

    • Lelap terus, dan kau pun dipuji seba-gai bangsa terlembut di dunia.
      Darahmu dihisap dan dagingmu dila-hap sehingga hanya kulit tersisa.
      Siapa pula tak memuji sapi dan ker-bau?
      Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya.
      Tapi kalau mereka tahu hak- haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas.

    • Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula.
      Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain mene-gurmu dalam bahasa ngoko.
      Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar.

     

    Tjokro juga dikenal sebagai guru para tokoh nasional. Rumahnya di Surabaya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimbah ilmu padanya, yaitu Semaoen, Alimin, Muso, Soekarno, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, bahkan Tan Malaka pernah berguru padanya.

    Relevansi pemikiran Tjokro
    Ketika Sarekat Islam mulai pecah,  Tjokro  meresponsnya dengan menulis buku Islam dan Sosialisme (1924)   Menurut sejarawan Bonnie Triyana, buku ini  menyiratkan hasil perenungannya terhadap Islam dan buah pemikiran reflektif menanggapi apa yang terjadi selama dia memimpin Sarekat Islam. “Ia menyuguhkan cara pandang sosialisme yang bertopang pada Islam: perikemanusiaan, persaudaraan, persamaan, dan kemerdekaan berdasarkan kekuasaan Allah,”  tulis Bonnie  dalam edisi khusus Tempo,

    Lalu apa relevansi  sejak terjang dan pemikiran Tjokro  untuk Indonesia saat ini? Pembaca bisa mengambil inspirasi  sendiri dari pemikiran tokoh ini. Yang jelas, Islam sebagai ideologi  mengalami banyak pergeseran sesuai perubahan zaman.  Di zaman pergerakan nasional,  Islam harus menghadapi  ideologi sosialisme dan komunisme yang sedang populer di dunia. Di era sekarang,  tentu lain lagi persoalannya.

    Diskusi Pemikiran Tjokroaminoto


    Universitas Cokroaminoto  Yogyakarta  bersama Indonesiana.id juga akan mengadakan diskusi untuk membedah sejak terjang dan pemikiran tokoh  besar ini pada Sabtu, 26 Oktober 2019 pukul 09.00 sampai 11.30 WIB. Tempat di Auditorium Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.  Pembicara : Bonnie Triyana  (Sejarahwan),  Abdul Wahid ( Sejarahwan), dan  N Robbi Sepang ( Cicit Tjokroaminoto, dosen UAI).  Dalam diskusi ini kita akan melihat lebih jauh pemikiran Tjokro tentang Islam, politik dan negara. ***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.