#SeninCoaching: Pemimpin Bermartabat vs Manusia Sesat - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 29 Oktober 2019 08:49 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Pemimpin Bermartabat vs Manusia Sesat

    Dibaca : 4.783 kali

    #Leadership Growth: Beware of Quadrant 4

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

    David bekerja sangat keras, sibuk luar biasa, sering pulang sangat malam. Sebagai CEO perusahaan yang sudah berkembang dengan omset milyaran dollar AS, David juga merasa harus aktif dalam sosialita di kotanya. Hampir selalu hadir di acara makan malam yang diadakan oleh gubernur, aktif juga dalam asosiasi pengusaha, serta rajin kumpul-kumpul di lapangan golf bersama para usahawan, eksekutif top, dan pejabat pemerintahan.

    Memasuki usia ke-60 David dipagut sakit maag dan terkena serangan jantung. Seiring dengan itu, usahanya belakangan nyaris kolaps pula. Kok bisa? Bukankah David kerja keras dan aktif juga dalam kegiatan lobi dengan lingkungan elite?

    David memang bekerja keras, bahkan sangat keras, tapi dia berada di quadrant yang salah. Itu yang membuat perusahaan oleng, kata Mr. Conrad, ayah David. Sejak David dirawat di rumah sakit, Mr. Conrad, yang senang dipanggil Connie, mengambil alih kepemimpinan bisnis.

    Dalam usianya yang sudah 94 tahun, Connie masih fit dan mampu berperan kembali sebagai CEO, serta masih bisa menikmati kesukaannya berlayar menikmati yacht-nya.

    Saat Perang Dunia II, Connie adalah perwira muda tentara AS pemimpin pasukan tank dalam penyerbuan Pasukan Sekutu membebaskan Eropa dari cengkeraman Nazi Jerman. Atas kegigihan dan prestasinya dalam tugas, ia memperoleh penghargaan Purple Heart dan Bronze Star Medal.

    Selama puluhan tahun merintis usaha dari sejak 1947 sebagai UKM bidang pemulihan fungsi alat-alat berat dan membangunnya jadi konsorsium 200-an bisnis bernilai lebih dari US$ 3 milyar (billion) belakangan ini, Connie mempraktikkan prinsip-prinsip hidup dan kerja berdasarkan empat kuadran.

    Tiga kuadran di antaranya bagi Connie merupakan wilayah pengabdian hidup–-sebagai rasa syukur pada Tuhan atas karunia sehat, kecerdasan, peluang bekerja dan bisnis, etc, sesuai dengan divine purpose, kehendak Pencipta Langit dan Bumi. Connie mengisi tiga kuadran tersebut dengan prinsip ini:

    1). Sacred demand (setiap kepercayaan yang diemban dilaksanakan sebagai tugas suci).

    2). Whole heart devotion. Tentukan prioritas, kerjakan sepenuh hati, fokus satu kegiatan dalam satu alokasi waktu. No man can serve two masters, kata Connie.

    3). Genesis deadline. Jika kita fokus, semua orang yang terlibat dalam proyek atau proses suatu pekerjaan bisa optimal mengerahkan perhatian dan energinya, setiap tugas organisasi umumnya dapat dikerjakan lebih cepat, bisa rampung dalam separuh atau tiga perempat dari waktu yang ditentukan.

    Connie, yang menganggap semua upaya tersebut di atas sebagai great fight of life, sudah membuktikan hasilnya.  

    Sedangkan kuadran satu lagi, yang ke-empat, bagi Connie merupakan ancaman serius dan cenderung jadi godaan besar bagi umumnya manusia, dia sebut wilayah miscellaneous. Bentuknya bisa berupa proyek-proyek baru yang menggiurkan (kendati belum ada feasibility studies-nya), gaya hidup glamour/pergaulan elite kota yang berlebihan, kumpul kelamaan dengan para VIP, etc.

    Connie menilai perilaku kepemimpinan David kurang bisa diandalkan akibat kebanyakan bergerak di wilayah kuadran miscellaneous. Sehingga tidak fokus dalam memimpin bisnis dan gagal menjalankan prinsip-prinsip sebagaimana yang tertuang di tiga kuadran lainnya. David dinilainya telah bekerja keras justru di wilayah sesat.

    Connie mengaku telah khilaf, membiarkan David memimpin bisnis dengan perilaku yang cenderung hanyut di kuadran miscellaneous. Untuk menebus penyesalannya, Connie berbagi prinsip hidup dan cara kerjanya kepada banyak orang, antara lain melalui Darren Hardy, mentor para CEO, utamanya, di AS.

    Wilayah miscellaneous yang dimaksud Connie, dalam konteks kehidupan sekarang dan dikaitkan dengan Eisenhower Matrix, berada di kuadran ke-4, di sisi kanan bawah, masuk kategori aktivitas yang harus dieliminasi (delete). Kuadran ini berisi di antaranya kegiatan web browsing, media sosial (gosip di WhatsApp group), nonton tv berjam-jam (binge watching), aktivitas semu untuk menunda atau menghindari tugas utama yang kurang nyaman, analysis paralysis, etc.

    Disebut Eisenhower Matrix karena diterapkan oleh Jenderal Dwight D. Eisenhower saat memimpin invasi Normandy (1944 – 1945) pada Perang Dunia II dan sukses membuat Nazi Jerman takluk. Saat itu Sekutu didukung 12 negara, termasuk AS, Inggris, Canada, Australia, New Zealand, dan Prancis. Ada lima ribu kapal dan 11 ribu pesawat terbang yang dikerahkan, sebagai bagian dari kekuatan gabungan mengalahkan Nazi.

    Matrik tersebut kemudian populer dan Anda mengenalnya sebagai Time Management Matrix lewat “The 7 Habits of Highly Effective People” (Stephen R. Covey).

    Bagi para eksekutif yang tengah berupaya mengejar target akhir 2019, apalagi yang sudah mengikuti pelatihan bagaimana memimpin lebih efektif, menerapkan prinsip-prinsip Connie dan Eisenhower Matrix sangat dianjurkan. Ayo konsisten untuk memimpin secara lebih bermartabat.

    Effective executives know where their time goes. They work systematically at managing the little of their time that can be brought under their control,” kata Peter Drucker.

    Bagi orang-orang yang mengakui beriman, percaya pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kalau masih berkutat di kuadran empat, mohon segera bercermin. Tengoklah diri masing-masing. Apakah perilaku yang cenderung betah di kuadran empat pantas sampeyan kerjakan? Kalangan yang relijius menganggap kuadran empat wilayah sesat.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)    

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 jam lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 20 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.