Megamendung Kembar - Mempertanyakan Prasangka Rasial Dalam Bisnis Batik Cirebon - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover Buku Megamendung Kembar

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 30 Oktober 2019 15:14 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Megamendung Kembar - Mempertanyakan Prasangka Rasial Dalam Bisnis Batik Cirebon

    Dibaca : 126 kali

    Judul: Megamendung Kembar

    Penulis: Retni SB

    Tahun Terbit: 2016

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                    

    Tebal: 360

    ISBN: 978-602-03-3230-7

    Novel ini mengambil Cirebon sebagai tempat terjadinya peristiwa. Tepatnya Desa Kalitengah dan Trusmi. Namun bukan itu yang menarik saya. Meski hanya sebagai pendamping kisah, cerita tentang pengusaha batik Cina yang tetap berani tinggal di Kalitengah sangat menarik. Retni menyampaikan pandangannya tentang peran orang Cina di bisnis batik Cirebon melalui tokoh ini.

    Supaya para pembaca tidak kecewa karena tidak mendapatkan cerita utuh tentang novel ini, baiklah saya ringkaskan kisah yang juga sangat menarik yang dituangkan oleh Retni di novel ini.

    Kisah dalam novel ini adalah tentang Sinur seorang buruh bantik dengan Den Musa, menantu pengusaha batik. Kisah cinta keduanya tentu tidak mulus dan bahkan terputus.

    Renti memakai teknik bercerita paralel, yaitu kisah Awie, cucu Sinur dan kisah Sinur masa gadis. Pada bagian pertama novel ini, dikisahkan Awie seorang production director dalam sebuah perusahaan periklanan memutuskan untuk berlibur menengok neneknya di Cirebon. Di tempat neneknya inilah Awie menemukan sebuah batik lawasan yang disimpan oleh neneknya. Namun neneknya seperti menyimpan sesuatu tentang batik tersebut.

    Saat berjalan-jalan di Trusmi, ia menemukan sebuah toko batik, showroom Puri Srengenge yang memajang batik bermotif megamendung yang sama dengan batik milik neneknya. Awie menjadi semakin penasaran tentang dua megamendung kembar tersebut.

    Bagian kedua mengisahkan masa gadis Sinur, nenek Awie. Dalam sebuah kejadian Den Musa yang istrinya sangat cantik itu malah tertarik kepada Sinur. Sinur pun sebenarnya tertarik kepada Den Musa. Namun Sinur sangat ketakutan dengan perasaannya suka kepada Den Musa.

    Kisah asmara keduanya tidak berlanjut karena saat kedua insan ini sedang membatik bersama, ketahuan oleh istri Den Musa. Selanjutnya Den Musa meminta kepada Lanang, seorang pekerja pabrik yang sangat mencintai Sinur mau melamar Sinur menjadi istrinya. Cinta antara Den Musa dan Sinur yang gagal ini dituangkan oleh mereka berdua dalam lembar batik Megamendung. Anehnya kedua megamendung yang dibuat keduanya sama-sama bergradasi 9. Gradasi 9 ini menyimpang dari pakem megamendung yang seharusnya 7.

    Bagian ketiga adalah muara dari bagian satu dan bagian dua.

    Awie lebih tertarik untuk membuat batik di Kalitengah daripada kembali ke Jakarta. Awie dipertemukan dengan teman masa kecilnya yang bernama Is. Is menjadi pemuda yang gagah dan sedang berupaya untuk membuat showroom batik di Trusmi. Is tertarik kepada Awie dan sering mengunjunginya.

    Awie yang penasaran tentang batik tersebut memberanikan diri untuk menanyakan kepada kakek pemilih showroom Puri Srengenge. Upaya Awie untuk mengungkap kisah dua batik megamendung kembar akhirnya berhasil. Memang benar bahwa megamendung yang ada di Puri Srengenge adalah karya Den Musa. Den Musa menyelesaikan batik yang sudah dimulai oleh Sinur saat keduanya tertangkap oleh Den Hayu, istri Den Musa saat berduaan membantik. Sedangkan batik yang berada di rumah neneknya adalah batik yang dibuat oleh neneknya di kain prismina yang diberikan oleh Den Musa sebagai kado pernikahannya dengan Lanang. Sinur memutuskan untuk mengisi hidupnya dengan membatik lagi. Mula-mula ia menggunakan canting dan malam yang dihadiahkan oleh Den Musa kepadanya saat pernikahannya dengan Lanang.

    Disinilah asal mulanya nenek Awie mempunyai usaha batik sendiri. Lanang cemburu karena istrinya membatik di kain hadiah dari Den Musa. Namun akhirnya Lanang dan Sinur memahami kondisi masa lalunya. Sinur meminta Lanang untuk memulai memproduksi batik sendiri. Keuletan Lanang dan kepiawaian Sinur membatik membuat usaha Lanang dan Sinur berkembang dengan baik.

    Sinur yang dalam kondisi sakit dan hampir meninggal akhirnya bisa bertemu dengan Den Musa. Mereka meninggal hampir bersamaan. Tubuh Den Musa terkulai di atas jenasah Sinur. Sebuah cinta yang dipertemukan.

    Terus apa hubungan kisah di atas dengan peran orang Cina dalam bisnis batik di Cirebon? Dalam novel ini Retni memasukkan kisah tentang pengusaha batik Cina di wilayah Trusmi, Cirebon. Pada mulanya banyak pengusaha Cina yang berusaha batik di wilayah ini. Namun pada tahun 1948 banyak yang pindah dari kawasan Trusmi ke Cirebon karena tidak tahan dengan pemerasan oleh para preman. Namun ada satu pengusaha yang tetap bertahan di sana, Babah Acong. Namun nasib Babah Acong dan pabriknya berakhir dengan tragis. Pabrik dibakar oleh para preman Karimudo dan para pemuda. Sementara Babah Acong dibunuh.

    Para preman dan pemuda ini menggunakan dalih bahwa Babah Acong adalah mata-mata Belanda sehingga harus dibunuh. Kerusuhan anti Cina selalu didasarkan kepada prasangka yang tidak diperiksa kebenarannya. Model kerusuhan semacam ini sering kali terjadi di Indonesia bukan?

    Terbunuhnya Babah Acong ini membuat usaha batik di wilayah Trusmi dan Kalitengah mandeg karena tidak ada lagi suplai bahan. Suplai bahan bahan batik biasanya berasal dari pengusaha Cina. Berpindahnya para pengusaha Cina dari Trusmi dan Kalitengah serta dibakarnya pabrik Acong telah menimbulkan pengangguran yang parah di wilayah tersebut.

    Retni menyampaikan bahwa ada tiga pelaku bisnis batik di Cirebon masa 1948. Mereka itu adalah pedagang pribumi, buruh pembatik dan orang Cina. Pedagang pribumi diwakili oleh Ki Gede Trusmi dan Pak Kadari. Kedua pedagang ini mengelola pabrik yang mempekerjakan orang-orang desa. Ki Gede Trumsi dan Pak Kadari mendapatkan suplai bahan batik dari para pedagang Cina. Orang-orang Cina juga ada yang membuka batik sendiri, seperti misalnya Babah Acong. Meski mempunyai batik sendiri, orang Cina biasanya tetap mensuplai bahan kepada pengusaha-pengusaha pribumi.

    Dengan adanya bisnis batik ini masyarakat desa mendapatkan pekerjaan. Bahkan beberapa yang berani untuk maju, ada yang akhirnya berhasil membuat pabrik sendiri. Contohnya adalah Lanang dengan Sinur. Pasangan buruh pabrik yang mau bekerja keras ini akhirnya berhasil menjadi pengusaha batik.

    Retni memosisikan para pengusaha Cina sebagai bagian dari usaha batik di Cirebon. Kemampuan modal dan mengelola perdagangan orang Cina bersambut dengan kemampuan memproduksi batik berkualitas tinggi orang-orang Trusmi dan Kalitengah. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan. Retni juga menunjukkan bahwa kemauan dan kerja keras adalah kunci untuk berhasil dalam bisnis. Bukan modal.

    Tentang prasangka kepada pengusaha kaya yang hanya mengandalkan modal, Retni tidak hanya menimpakan kepada etnis Cina. Ia juga memasukkan “tuduhan” yang sama kepada showrome besar milik pribumi. Puri Srengenge, sebuah showroom yang besar juga dicurigai sebagai pihak yang hanya mau ambil untung dari para pembatik lokal.

    Mengapa Retni memilih motif megamendung dalam kisahnya? Bukankah banyak motif batik Cirebon lainnya? Saya menduga bahwa Retni tahu bahwa megamendung adalah motif yang berasal dari Cina. Meski berasal dari Cina, motif ini telah mengalami perubahan bentuk sehingga menjadi motif khas Cirebon. Jadi megamendung memang cocok sebagai simbol tentang hubungan antara Cina dan pribumi dalam usaha batik di Cirebon.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.