Menyoroti Paradigma Karakter Kaum Milenial - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Muhammad Itsbatun Najih

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 6 November 2019 08:41 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Menyoroti Paradigma Karakter Kaum Milenial

    Dibaca : 156 kali

    Mari sejenak membaca kolom komentar di akun media sosial sejumlah pesohor; ada kategorisasi yang didapat. Pertama, disebut lover, alias penggemar. Dan kedua, hater atau tukang nyinyir menjurus benci.

    Kedua kelompok tersebut adu jari berbalas ejek dan caci. Tak sungkan gunakan kata kotor. Tiada lagi tata krama berkomunikasi. Narasi kesopanan, hilang. Rupanya, hampir-hampir mereka adalah kaum muda –yang boleh dikata generasi milenial.

    Kategorisasi serupa juga dijumpa lewat fenomena penyebutan binatang gara-gara berbeda pilihan politik. Pelabelan seperti itu terang berdampak buruk. Keakraban antarwarga negara mengelupas. Celakanya, hal itu menjalar di laku keseharian. Tiada lagi rasa canggung, sungkan, dan pakewuh. Rupanya, aksi-aksi nirmoral tersebut juga diperankan generasi X dan Z. Kesamaannya, keduanya berada di era milenial/generasi Y.

    Term milenial disebut-sebut hingga menjadi kosakata populer lantaran sememangnya saat ini, merekalah mayoritas usia produktif. Bisa disebut pemegang kendali sekaligus aktor-aktor. Karl Mannheim (1923) dengan teori generasi-nya (generation theory), mencetuskan istilah milenial sebagai generasi yang lahir pada rasio tahun 1980 sampai tahun 2000. Pada 2015, sebanyak 50,36 persen dari jumlah usia produktif merupakan generasi milenial (hlm: 21).

    Tak pelak, penggerak roda perekonomian hingga penghuni jagat maya, didominasi peran milenial. Imbasnya, mau tidak mau, kalangan tua atau generasi X dan generasi alpha/Z, turut serta menyesuaikan gaya hidup dan cara berelasi. Ada asumsi generasi milenial menggaransi potensi keunggulan bangsa lantaran disorong generasi yang dikenal cekatan dan kreatif. Ditambah kelincahannya berteknologi, milenial seakan menciptakan ekosistem baru, termasuk standar moralitas.

    Komunikasi yang terbuka, pengguna media sosial yang fanatik, sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi, lebih terbuka terhadap pandangan politik-ekonomi, reaktif terhadap perubahan sosial, seakan menjadikan milenial leluasa mendobrak pakem yang masih dipegang erat generasi X. Walhasil, tak ada sekat atau penjarakan kepada yang lebih tua. Relasi bertitel kesetaraan lantas dipraktikkan tanpa basa-basi. Hubungan antara siswa dan guru, misalnya, layaknya mitra belajar. Begitu pun kepada orang tua, kala dianggap laiknya sahabat.

    Perubahan paradigma tentang relasi semacam itu kerap memunculkan fenomena sosial amat miris. Buku ini memuat daftar panjang kasus kekerasan di sekolah, belakangan ini. Bukan cerita guru menjewer peserta didik yang nakal. Melainkan sebaliknya: siswa memukul, menendang, mengeroyok sang guru sebagai bentuk balasan atau sekadar keisengan. Kekerasan fisik maupun verbal juga kini sering mengalamatkan orang tua selaku teraniaya arogansi anak.

    Menurut Hendarman, ada tiga pemicu fenomena pilu tersebut. Pertama, disfungsi keluarga. Anak minim kasih sayang. Orang tua gagal berperan sebagai teladan. Anak cukup dijejal pemenuhan kebutuhan materiil. Seturut kondisi di sekolah: guru sebatas mengajar, bukan lagi mendidik. Pun, sekolah terasa tidak lebih tempat komersialisasi pendidikan ketimbang candradimuka budi pekerti.

    Kedua, sikap permisif masyarakat. Era milenial kian menegaskan penajaman laku-laku individualistis. Selama tidak merugikan dirinya, laku-laku kurang pantas di lingkungannya, disikapi sebagai tanggung jawab personal. Ketiga, generasi milenial bebas mengakses aneka informasi tanpa filter. Celakanya, konten-konten negatif praktis ikut merasuk dan sedikit-banyak membentuk karakter.  Simaklah ketika sebagian milenial tanpa malu-malu membuat vlog (video blog) dengan menguar ketidakpantasan demi duit dan atensi publik.

    Buku ini tidak mengajak kaum milenial kembali ke tatanan lama sebuah kesantunan primordial (baca: feodalisme?). Berupaya memaknai ulang soal standardisasi moral secara proporsional. Sehingga keakraban kepada guru dan orang tua tetap terlingkupi sikap hormat dan ketakziman. Buku ini memuat 44 penyikapan ideal terhadap problem sosial-keseharian.

    Harapannya, keunggulan pribadi milenial seperti melek teknologi, kreatif-inovatif, cergas, tetap bisa berbanding lurus dengan habitus kebersahajaan, karakter asketik, jiwa kepedulian, senantiasa respek. Adagium untuk penggambaran intisari buku ini: Berotak Jerman, Berhati Mekah atau Stay Hungry, Stay Foolish. Selamat membaca!

     

    Data buku:
    Judul: Pendidikan Karakter Era Milenial
    Penulis: Hendarman, Ph.D
    Penerbit: Rosda, Bandung
    Cetakan: Agustus, 2019
    Tebal: 224 halaman
    ISBN: 978-602-446-365-6


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.