Menteri Fachrul Razi ‘Diserang’ di DPR: Disuruh Belajar Agama hingga Buang Budaya Militer - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Menteri Agama Jenderal TNI (Purnawirawan) Fachrul Razi saat ditemui usai melaksanakan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Jumat, 1 November 2019. TEMPO/Dewi Nurita

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 7 November 2019 17:12 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Menteri Fachrul Razi ‘Diserang’ di DPR: Disuruh Belajar Agama hingga Buang Budaya Militer

    Dibaca : 17.134 kali

    Menteri Agama  Jenderal Purn. Fachrul Razi mendapat serangan  bertubi-tubi dalam  rapat di  Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat,  Senayan, 7 November 2019. Ia  seperti diceramahi  banyak hal, terutama menyangkut pernyataannya belakangan ini soal celana cingkrang.

    Sebelumnya Fachrul  mengkritik pakaian yang digunakan para pegawai negeri seperti celana cingkrang. "Masalah celana cingkrang itu tidak bisa dilarang dari aspek agama. Tapi dari aturan pegawai bisa, misal ditempat ditegur celana kok tinggi gitu? Kamu enggak lihat aturan negara gimana? kalau enggak bisa ikuti, keluar kamu,"  katanya di gedung Keementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kamis 31 Oktober 2019.

    Berikut ini berbagai penyataan keras anggoa DPR dalam rapat itu.

    1.Tinggalkan Budaya Militer  
    Anggota  DPR   Ali Taher berceramah panjang lebar mengingatkan tugas Menteri Agama kepada Jenderal TNI Purnawirawan Fachrul Razi. Bekas Ketua Komisi VIII ini meminta Fachrul meninggalkan budaya militernya dan mulai beradaptasi sebagai Menteri Agama yang mengedepankan kedamaian.

    "Saya berpesan kepada Bapak Menteri, jenderal tinggal jenderal, tapi jenderal yang tidak menapakkan kaki di bumi, kehilangan makna kejenderalannya," ujar pria asal Flores ini, saat rapat bersama Menteri Agama di Kompleks Parlemen, Senayan pada Kamis, 7 November 2019.

    Ali  mengisahkan  kepemimpinan dua Menteri Agama berlatar belakang militer yang pernah menjabat di era orde baru. Mereka adalah Alamsyah Ratu Perwiranegara dan Tarmizi Taher. "Alamsyah jenderal yang melakukan perombakan, Tarmizi Taher jenderal yang sangat sufi. Sekarang, saya kepingin Menteri Agama yang jenderal tetapi juga sufi," ujar  ujar politikus PAN  itu.

    Urusan agama, ujar dia, bicara soal fungsi, anggaran, pendidikan agama, kerukunan antaragama, dan hubungan antarumat beragama. "Tetapi begitu bicara soal salat, zakat, dan lain sebagainya itu adalah iman. Anda tidak boleh masuk wilayah itu," ujar Ali.

    "Kata radikalisme adalah akar dari sebuah persoalan teologis. Yang keliru adalah menggunakan radikalisme pada konteks politik yang menghancurkan agama. Nah oleh karena itu menurut pandangan saya, jika radikalisme digunakan untuk membangun peradaban dan melakukan perjumpaan peradaban, itu kita setuju,"  kata Ali.

    "Oleh karena itu, belajarlah tentang apa itu agama, Pak Menteri, dan apa itu faith, dan apa itu religion. Agama, Pasal 29  (UUD 1945)  adalah organisasi, mengatur, buka faith, faith itu iman, jangan diganggu,"  ujar anggota Komivisi VIII itu.

    2.Jangan Masuk Penafsiran Agama
    Anggota Komisi VIII Fraksi PKS, Ihsan Qolba meminta Menteri Agama berenti mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang membuat gaduh masyarakat. Mulai dari larangan cadar dan celana cingkrang hingga menyisipkan bahasa Indonesia dalam doa.

    "Stop pernyataan kontroversi, Menteri Agama jangan masuk terlalu dalam, dalam penafsiran beragama. Biarkan penafsiran itu beragam," ujarnya  

    3.Celana Cingkrang dan Radikalisme
    Anggota Komisi VIII dari Fraksi PKB, Maman Imanulhaq mengatakan  tidak ada kaitan antara  radikalisme dengan  cadar dan celana cingkrang."Ide partikuler sebaiknya tidak dilontarkan seorang Menag. Isu radikalisme misalnya, tidak ada kaitannya dengan cadar dan cingkrang. Kalaupun ada, itu oknum. Saya minta komunikasi politik itu diperbaiki," kata Maman.

    Satu-satunya yang mendukung pernyataan Fachrul adalah anggota Komisi VIII Fraksi PDIP, Samsu Niang. Menurut Samsu, Fachrul hanya bermaksud meramaikan diskusi terkait radikalisme. "Kami mendukung statement Pak Menteri sebagai bentuk peringatan bahaya radikalisme. Jangan main-main tentang radikalisme," ujar Samsu.

    Jawaban Fachrul Razi
    Menteri Agama Fachrul Razi  mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melarang orang-orang memakai cadar dan celana cingkrang dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, ujar Fachrul, dirinya juga kerap memakai cingkrang saat ke masjid.

    "Saya kalau ke masjid juga pakai celana cingkrang, karena masjid tempat saya di Bambu Apus itu banyak tangga, susah kalau saya pakai sarung," kata Fachrul .

    Dalam kehidupan sehari-hari, ujar Fachrul, semua orang bebas berpakaian. Namun, ujar dia, kalau aparatur sipil negara (ASN) tentu memiliki aturan yang berbeda sesuai dengan ketentuan institusi masing-masing. "Jadi, mohon itu digarisbawahi. Saya tidak pernah melarang. Apa juga kewenangan saya melarang itu?," ujar Fachrul Razi.

    Terkait cadar, ujar Fachrul, juga sama halnya. "Silakan pakai, saya tidak pernah melarang. Tapi, bagaimana keputusan instansi, itu urusan masing-masing," kata Fachrul.****

    Baca juga:
    Disindir Jokowi, Inilah Sederet Manuver Surya Paloh yang Mengejutkan

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 606 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).













    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 606 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).