Mengembangkan Kreativitas Anak-Anak - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sumber Foto: firstdiscoverers.co.uk

Suko Waspodo

... an ordinary man ...
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 8 November 2019 00:17 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mengembangkan Kreativitas Anak-Anak

    Dibaca : 812 kali

    Pasti akan gagal mengembangkan kreativitas anak-anak apabila usaha itu hanya terbatas pada pemberian nasihat-nasihat: “Jadilah anak baik, kreatif, inovatif!”

    Usaha serius untuk membantu kreativitas anak-anak adalah hidup produktif dan efektif serta memberikan dorongan-dorongan yang berupa:

    Ide, gagasan, (idea): Membiarkan anak-anak mengetahui pandangan dan sikap orang tua tentang hidup, pekerjaan, perkawinan, politik, moral, agama. Agar mereka tahu. Serta yang diketahui itu terbatas dari orang tua. Selanjutnya anak-anak sendiri masih perlu melengkapi dan menyempurnakan dengan pandangan-pandangan orang lain, lewat pertemuan atau membaca buku-buku, atau karangan-karangan bermutu.

    Hadiah yang merangsang (stimulating gifts): Hadiah untuk anak-anak sebaiknya tidak sekedar untuk menuruti kesenangan mereka, dan menyenangkan mereka untuk sementara, namun yang menyenangkan, berguna dan mengembangkan mereka. Daripada makanan, pakaian, kendaraan atau uang, berilah mereka alat-alat keterampilan kayu, besi, elektronika, dan memberi tugas untuk membuat sesuatu. Bawalah ke lembaga penelitian pertanian, berilah bibit-bibit dan anjurkan mereka untuk menanamnya. Berilah buku dan anjurkan mereka untuk membuat resensi. Ajaklah mereka menonton pertunjukan-pertunjukan seni yang bermutu. Hadiah-hadiah semacam itu tidak akan sia-sia bagi hidup anak-anak selanjutnya.

    Perkenalan dengan orang-orang inovatif (innovative adults): Membawa anak-anak ke tempat kenalan-kenalan yang berprestasi, teman sekerja yang produktif, tokoh-tokoh yang bervisi serta berkreasi dan memperkenalkan anak-anak kepada mereka. Biarkan anak-anak berbicara, bertanya, berdiskusi dengan orang-orang itu. Jika dalam perjumpaan itu anak-anak diperlakukan dengan baik, mereka akan mendapat dorongan untuk mencontoh orang-orang yang menarik itu.

    Petualangan (travel): Membiarkan anak-anak pergi ke luar rumah, bergaul dengan teman-teman, dan berpetualang ke alam sekeliling secara sehat, bepergian jauh. Petualangan itu akan membantu pengembangan kreativitas mereka, sebab di alam terbuka mereka harus bersikap dan bertindak lain daripada di rumah dan memenuhi kebutuhan hidup dengan peralatan minimal. Di tempat jauh mereka harus mandiri.

    Mengembangkan fantasi (develop their fantasy): Mendorong anak-anak menemukan cara lain untuk mengerjakan sesuatu yang sudah biasa, membayangkan kemungkinan lain “Bagaimana kalau …..”, dan mengamati hasil kreasi baru: lukisan, patung, gedung, jalan dan lain-lain.

    Melatih sikap positif (positive attitude): Bila menjumpai ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, hal baru, anak dilatih tidak hanya untuk menemukan segi-segi positif dan segi-segi negatifnya, melainkan lebih-lebih segi menariknya. Kemudian anak diajak untuk membahas apa yang dapat dibuat dengan segi-segi menarik dari ide, gagasan, dan lain-lain itu.

    Selanjutnya setelah itu santai saja. Jangan ingin segera melihat hasil usaha itu. Yang dilakukan hanya menanam benih. Berbuah atau tidak masih banyak faktor lain yang ikut menentukan.

    Selamat menjadi orang tua yang memahami kebutuhan untuk mengembangkan kreativitas anak-anak.

    ***
    Solo, Kamis, 7 November 2019. 11:31 pm
    'salam kreatif penuh cinta'
    Suko Waspodo
    suka idea
    antologi puisi suko


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    2 hari lalu

    Keadilan Agraria dan Peningkatan Produksi Pangan Melalui Konsesi Lahan Pertanian Luasan 10 –80 ha, kepada Badan Usaha Perorangan.

    Dibaca : 129 kali

    Salah satu dari 9 masalah fundamental multi dimensi bangsa Indonesia adalah “masih rendah, terbatas dan timpang pembangunan dan kesejahteraan baik antar lapisan / strata masyarakat maupun antar daerah dan pulau”. Perwujudan sila ke 5 dari Pancasila yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih jauh dari harapan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, bertajuk ‘Apa kabar Reforma Perhutanan Sosial’ Selasa 3/4/2018, Dalam paparan berjudul ‘Evolusi Kawasan Hutan, Tora dan Perhutanan Sosial, mengungkapkan: Ketimpangan pemberian lahan dan akses dari sektor kehutanan ini terdata sampai tahun 2017. Perbandingan ketimpangannya? Luas lahan di Indonesia yang yang sudah keluar ijin pengelolaanya adalah 42.253234 ha dari total 125.922.474 KH Indonesia. Dari 42.253.234 ha lahan yang diberikan ke swasta-masyarakat-kepentingan umum, 95,76 %-nya dilelola oleh swasta luas totalnya 40.463.103 ha. Perkembangan Luas Areal Kelapa Sawit, dari data peta RePPProT, pada tahun 1990 luasnya 7.662.100 ha, dari data baru tahun 2015 menjadi 11.260.277 ha, berarti kenaikan rata-rata 142.000 ha/tahun. Tahun 2016 menurun sedikit menjadi 11.201.465 ha. Tahun 2017 terhadap angka 2016 meningkat drastis 25 % lebih, menjadi sebesar 14.048.722 ha. Tahun 2018 naik menjadi 14.327.093 ha, Tahun 2019 naik menjadi 14.677.560 ha. Areal usaha perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh hanya puluhan pengusaha besar swasta. Ke depan apa yang bisa dilakukan? untuk mengurangi ketimpangan penguasaan / hak kelola Pengusaha Besar Swasta (PBS) atas tanah kawasan hutan (40.463.103 ha) dan Perkebunan kelapa sawit (14.677.560 ha), totalnya 55.140.663 ha setara 29,5 % luas daratan Idonesia 187.000.000 ha. Penulis menyarankan Solusi pengurangan ketimpangan secara bertahap, namun sekaligus bisa menangani permasalahan besar lain yaitu kemandirian pangan Indonesia yang sangat lemah / rapuh karena terkendala terbatasnya ketersediaan lahan garapan. Pada kesempatan ini diusulkan untuk Ekstensifikasi Pertanian pangan dengan membuka daerah irigasi (DI) Baru dengan Pola Pertanian Pangan UKM. Strateginya membangun Lima Pilar Pertanian Beririgasi Modern di luar P. Jawa meliputi: P1: Penyediaan air irigasi; P2: Pembangunan infrastruktur irigasi baru; P3: Pencetakan sawah baru petakan besar yang sesuai mekanisasi pertanian untuk para UKM dengan konsesi lahan 30-80 ha; P4: Mempersiapkan sistem pengelolaan irigasi; P5: Membangun sistem konsesi UKM pertanian mekanisasi padi komersial terpadu, mulai tanam, panen, sampai siap dipasarkan. Untuk keadilan agraria dan sekaligus penyediaan lahan garapan daerah irigasi baru, juga untuk lahan peternakan dan perikanan terlihat 2 kemungkinan yakni: (i) Mengatur pemberian puluhan ribu konsesi lahan luasan kecil 10 ha untuk peternakan, perikanan, hortikultur (mix farming), serta luas 30 - 80 ha untuk irigasi baru. Sebagai tahap pertama memanfaatkan cadangan areal untuk Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 4,1 juta ha, diberikan konsesi 30 tahun kepada badan usaha perorangan; dan (ii) Mengubah konsesi sawit lama yang habis masa konsesinya menjadi konsesi 30 tahun UKM sawah beririgasi 30 ha - 80 ha.