Kehujanan di JPO Terbuka, Warga Disarankan Pemerintah DKI Berteduh di Halte - Viral - www.indonesiana.id
x

Pejalan kaki melintas di jembatan penyeberangan orang (JPO) tidak beratap di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu, 6 November 2019. Pencopotan atap JPO tersebut bertujuan agar pejalan kaki tidak hanya menyeberang, tapi juga dapat menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit di sepanjang kawasan Jalan Jenderal Sudirman. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 8 November 2019 09:11 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Kehujanan di JPO Terbuka, Warga Disarankan Pemerintah DKI Berteduh di Halte

    Dibaca : 1.349 kali

    Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho punya jawaban pendek soal keluhan warga yang merasa kepanasan dan kehujanan saat melintas di Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) tak beratap. "Trotoar juga terbuka. Kalau masalah hujan, pejalan kaki kan bisa berteduh di halte," kata dia di Jakarta, Rabu, 6 November.

    Sejak pekan lalu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang membongkar atap JPO yang berdekatan dengan Stasiun MRT Sudirman. Pencopotan dilakukan agar pejalan kaki dapat melihat pemandangan gedung bertingkat Jakarta dan menjadi titik swafoto baru. Hal ini merupakan ide Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

    "Konsepnya terbuka. Kenapa terbuka? Satu, melihat kondisi selain jadi tempat nyeberang pejalan kaki, juga sebagai tempat pengalaman baru bagi penyeberang jalan," kata Hari.

    Hari menuturkan pejalan kaki yang melewati jembatan bisa melihat pemandangan gedung-gedung menjulang di kawasan Jenderal Sudirman - M.H. Thamrin. Pemerintah nantinya bakal menambah hiasan lampu warna warni seperti JPO di kawasan Senayan.  "Tapi, kalau JPO yang menghubungkan Transjakarta tetap diberikan atap."

    Benarkah warga gembira ria dengan pembukaan atap JPO tersebut?

    Tempo.co mewawancari beberapa orang yang kerap melintas di sana. Ari Wicaksono, karyawan perusahaan swasta di Prudential Tower, Jalan Jenderal Sudirman, menyatakan kurang nyaman dengan JPO tanpa atap. Pasalnya, pejalan kaki langsung terpapar matahari. "Kalau sekarang ini saja panas, terus kalau hujan gimana? Ga (jadi) nyeberang saya," kata dia.

    Ari tak menampik pemandangan Jalan Sudirman menjadi lebih terlihat tanpa adanya atap. Namun, ia lebih memilih JPO beratap agar nyaman saat melintas.

    Ardi Fadilah, pegawai di Indofood Tower, juga mengeluhkan hal sama. Ia mengatakan JPO menjadi panas dan sulit digunakan saat hujan. "Ga ngerti lagi saya sama kebijakannya," ujar Ardi.

    Tetapi ada juga yang sepakat dengan pelepasan atap JPO itu. Budi Darsono, misalnya, menyambut antusias program yang ia nilai sebagai inovasi itu. "Buat saya sih jadi oke. Kayak jadi terbuka gitu pandangan kita. Mungkin karena saya suka foto, (jadi) kalau malam jadi dapat pencahayaan lebih banyak," kata dia.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 604 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).