Imbauan MUI Hindari Salam Lintas Agama, Sentilan buat Jokowi? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Hari ini, Ahad 20 Oktober 2019, MPR menggelar pelantikan Presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi dan Wakil Presiden terpilih Ma'ruf Amin. DOK BIRO PERS MEDIA ISTANA

Anas M

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Oktober 2019

Senin, 11 November 2019 19:19 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Imbauan MUI Hindari Salam Lintas Agama, Sentilan buat Jokowi?

    Dibaca : 3.958 kali

    Akhirnya Majelis Ulama Indonesia  pusat  ikut berbicara  mengenai  salam lintas agama.   Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas, setuju dengan  seruan MUI Jawa Timur  yang mengimbau agar umat Islam dan pejabat tidak menggunakan salam lintas agama.

    "Kita tidak boleh memaksakan kepercayaan dan keyakinan suatu agama serta cara beribadah dan mengucapkan salam yang ada dalam suatu agama kepada pengikut agama lain," kata Sekretaris Jenderal MUI pusat, Anwar Abbas. 11 November 2019.

    Sebelumnya UI Jawa Timur mengeluarkan surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin. Isinya  menyatakan bahwa mengucapkan salam semua agama merupakan bidah, mengandung nilai syubhat, dan patut dihindari umat Islam.

    Batasan toleransi
    Lewat imbauannya, MUI Jawa Timur menyatakan, sesuai  bahwa semboyan Bhinneka tunggal ika, perlu  adanya toleransi dalam menyikapi perbedaan. Tapi dalam mengimplementasikan toleransi, perlu ada  batasan agar tidak merusak kemurnian ajaran agama.

    MUI Jawa Timur  menyatakan bahwa prinsip toleransi pada dasarnya bukan menggabungkan, menyeragamkan atau menyamakan yang berbeda, tetapi toleransi adalah kesiapan menerima adanya perbedaan.

    Menurut  MUI Jatim, salam adalah ungkapan do'a yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu. Sebagai contoh, salam umat Islam, "Assalaamu'alaikum" yang artinya "semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian". Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia.  Salam umat Budha, "Namo buddaya artinya terpujilah Sang Budha, satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama.

    Sesuai seruan itu, salam  doa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bahkan di dalam Islam doa adalah inti dari ibadah. Pengucapan salam pembuka menurut Islam bukan sekedar basa basi tetapi do'a. Prinsipnya  tidak mencampur aduk ajaran agama.

    Sentilan buat Jokowi?
    Seruan MUI Jawa Timur yang disetujui oleh MUI pusat boleh dibilang merupakan sentilan bagi Presiden Joko Widodo. Dalam pidato kenegaraan, ia sering menggunakan salam agama lain.

    Dalam  pidato kenegaraan di depan sidang tahunan MPR, Jumat pagi,  16 Agustus 2019, misalnya,  Presiden mengawalinya sebagai berikut:

    • Bismillahirrahmanirrahim,
      Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
      Selamat Pagi,
      Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
      Om Swastiastu,
      Namo Buddhaya,
      Salam Kebajikan,
    • Yang saya hormati Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia;….

    Saat menyampaikan pidato kenegaraan di depan sidang bersama DPR dan DPD pada hari yang sama, Presiden Jokowi juga menggunakan salam lintas agama.  Begitu pula ketika Jokowi menyampaikan  pidato pertama setelah dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober lalu.  Pembukaannya sebagai berikut:

    • Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
      Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,
      Om Swastyastu,
      Namo Buddhaya,
      Salam Kebajikan.

      Yang saya hormati para Pimpinan dan seluruh anggota MPR RI;
      Yang saya hormati Bapak Prof Dr KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia;
      Yang saya hormati Ibu Hj Megawati Soekarnoputeri, Presiden ke-5 Republik Indonesia;……………

    *****

    Baca juga:
    KPK Panggil Anak Menteri Yasonna: Jejak Proyek, Kenapa Situs LPSE Medan Tiba-tiba Ngadat?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.