Ngeng, Legasi Djaduk Ferianto untuk Dunia Musik Tanah Air - Viral - www.indonesiana.id
x

Djaduk Ferianto. dok.TEMPO

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 13 November 2019 11:54 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Ngeng, Legasi Djaduk Ferianto untuk Dunia Musik Tanah Air

    Dibaca : 784 kali

    Gregorius Djaduk Ferianto punya konsep bermusik yang unik dan subyektif. Dia menyebutnya “Ngeng”.  Bagi adik kandung Butet Kertaredjasa itu, ngeng tak terdefinisikan. "Ngeng itu muatannya pada rasa," kata Djaduk kepada Majalah Tempo, pada 2014 silam. Saat itu Djaduk usai menggelar konser bertajuk Gending Djaduk: 50 Tahun Djaduk Ferianto, di TIM, Jakarta.

    Djaduk Ferianto berpulang Rabu, 13 November, dini hari, dalam usia 55 tahun (ia lahir pada 19 Juli 1964). Darah seninya ia warisi dari sang ayah, Bagong Kussudiardja, seorang penari dan pelukis pendiri Padepokan Seni Bagong K.

    Di sanalah Djaduk kecil mulai akrab dengan kesenian. Pada usia enam tahun, ia aktif menari di Pusat Latihan Tari Bagong K. Djaduk juga pernah menjadi cantrik (murid) dan pembina di padepokan ayahnya.

    Penjelajahan musikalnya sudah ia mulai sejak duduk di sekolah menengah atas, pada 1978, dengan membentuk grup musik bernama RHEZE. Bersama Sembilan temannya, di kelompok ini Djaduk memainkan instrumen dari perkakas harian, seperti tampah padi, butiran jagung, klakson angin towet-towet, dan beberapa gentong tanah liat yang ditutup kertas sak semen pada lubang-lubangnya.

    Saat pentas mereka memproduksi bebunyian dari jagung di dalam tampah yang dilempar-lempar. Aksi ini menimbulkan bunyi esrek-esrek. Gentong ditabuh seumpama gendang. Klakson dipencet berkali-kali mengeluarkan bunyi klakson.

    Kelihatannya seperti main-main, tetapi cara bermusik ini mendapat penghargaan tertinggi dalam Kejuaraan Musik Humor Nasional. RHEZR mengalahkan banyak peserta lain, di antaranya Iwan Fals dan Tom Slepe.

    RHEZE bubar, Djaduk kemudian membuat grup bernama Wathathitha dan mementaskan Unen-unen pada 1980-1983. Lalu pada 1985, ia bergabung dengan Teater Gandrik dan di sana belajar membangun sebuah pertunjukan. Dia berkesimpulan bahwa bermusik tak ubahnya pertunjukan teater, ketika seorang aktor mempunyai tugas menghidupkan naskah. "Dalam musik pun seperti itu. Pemain bertugas menghidupkan musik yang ia mainkan."

    Djaduk juga mengeksplorasi musik keroncong melalui grup Orkes Ngamen Sinten Remen, yang dibentuk pada 1997. Di grup ini, ia memainkan keroncong dengan bahasa kekinian tanpa meninggalkan aspek teatrikal dan melawaknya yang khas.

    Sedangkan bersama kelompok Kua Etnika ia banyak mengeksplorasi musik asli Nusantara. Saat pentas, rupa-rupa instrumen ditata di atas panggung, dari suling Bali, gamelan, bonang, renong, kendang Sunda, beduk, ceng-ceng, gong Cina, pamade, sampai klentongan sapi, dan dibaurkan dengan instrumen elektrik, seperti gitar, bas lima senar, dan keyboard, serta drum. Mereka konsisten mengeksplorasi bebunyian instrumen akustik Nusantara, dan menyampaikannya dengan bahasa kekinian menggunakan dialek yang berbeda-beda.

    Djaduk, yang lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mengaku mempelajari banyak teori soal musik. Tetapi ketika bermusik, teori-teori itu ia tinggalkan. "Teori membelenggu saya dalam berkarya," ujarnya. Sebagai gantinya, ia menetapkan ngeng sebagai patokan. "Opo jenis musik yang dimainkan, saya ndak dhuong (enggak ngerti). Yang lebih penting adalah adanya ngeng itu," kata Djaduk

    Ngeng kini jadi legasi Djaduk untuk jagat seni musik Indonesia setelah kepergiannya yang mendadak itu. Sebuah konsep yang masih sangat terbuka untuk dijelajahi siapa pun—utamanya musisi. Jejak Djaduk tertancap sangat dalam dalam dunia kesenian tanah air.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.