Nasib Bawang Putih Tak Seberuntung Bawang Merah - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dhofirur Ramadhan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2019

Selasa, 19 November 2019 12:05 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Nasib Bawang Putih Tak Seberuntung Bawang Merah

    Dibaca : 240 kali

    Bawang putih merupakan salah satu tanaman hortikultura yang umunya dibutuhkan hampir setiap waktu terutama sebagai bumbu masak. Selain itu bawang putih juga dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan. Oleh karena itu komoditi ini hendaknya harus mendapat perhatian khusus, baik dari segi ketersediaan lahan, kualitas dan kuantitas panen.

    Namun data menunjukkan bahwa produksi bawang putih nasional sangat memprihatinkan. Pada tahun 2018 produksi bawang putih hanya berkisar 39,302 ribu ton per tahun sedangkan kebutuhan nasional mencapai 503,644 ribu ton. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan produksi bawang merah yang notabene sama-sama komoditas holtikultura. Pada tahun 2018 produksi bawang merah mencapai 1503,438 ribu ton per tahun sedangkan kebutuhan nasional hanya berkisar 745,488 ribu ton.

    Kondisi Produksi Bawang Putih VS Bawang Merah

    Produksi bawang putih cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Meskipun pada 1 tahun terakhir mengalami kenaikan yang cukup drastis yaitu pada tahun 2017 ke 2018 dengan produksi sebesar 19,51 ribu ton menjadi 39,302 ribu ton, namun kondisi ini tetap masih berada jauh dari kebutuhan nasional. Oleh sebab itu, pemerintah gencar melakukan impor bawang putih. Data terakhir tahun 2018 menunjukkan bahwa impor bawang putih mencapat 583 ribu ton.

    Perbedaan yang sangat signifikan terlihat jika memperhatikan produksi bawang merah nasional. Berikut adalah gambaran produksi bawang merah nasional kurun waktu tahun 2000-2018. Produksi bawang merah nasional memiliki kecenderungan meningkat pada tiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2018 merupakan puncak produksi bawang merah tertinggi yaitu sebesar 1503,308 ribu ton. Produksi tersebut berada jauh diatas kebutuhan nasional sehingga negara gencar untuk melakukan ekspor bawang merah.

    Keadaan produksi bawang merah memang berada jauh diatas bawang putih. Dalam hal ini, bawang putih perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk setidaknya dapat mengurangi ketergantungan impor bawang putih dari negara lain.

    Kondisi Luas Panen Bawang Putih yang Minim

    Produksi bawang putih nasional yang mengkhawatirkan tersebut pastinya tidak lepas dari ketersediaan luas panen yang ada. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa pada tahun 2014-2017 luas panen bawang putih masih terbilang rendah yaitu berkisar 1900-2000 Ha sedangkan pada tahun 2018 luas panen meningkat secara drastis mencapai angka 5013 Ha. Peningkatan luas panen tersebut sejalan dengan meningkatnya produksi bawang putih di tahun 2018.

    Hal ini menjadi kabar baik bagi pemerintah untuk terus menggalangkan penanaman bawang putih dan pemanfaatan lahan untuk menunjang produksi bawang putih nasional. Penambahan luas lahan ternyata efektif untuk meningkatkan produksi bawang putih, hal itulah yang terjadi di tahun 2018.

    Ketersediaan Lahan di Berbagai Provinsi di Indonesia

    Hal yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut yaitu bahwa tidak semua wilayah di Indonesia dapat memproduksi bawang putih. Ketersediaan lahan yang terbatas pada tiap-tiap daerah juga menjadi kendala dalam mengatasi masalah ini. Provinsi Jawa Tengah (2575 Ha), Nusa Tenggara Barat (1206 Ha) dan Jawa Timur (717 Ha) menjadi tiga wilayah dengan luas panen yang bisa diandalkan sampai saat ini.

    Namun, jika melihat produktivitas di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur masih tergolong kecil yaitu 40-70 Ku/Ha jika dibandingkan dengan Jawa Barat dan Bali yang hanya memiliki luas lahan panen yang lebih sedikit dengan produktivitas mencapai 80-100 Ku/Ha. Hal ini tentu harus menjadi perhatian bagi pemerintah setempat untuk menggencarkan penanaman bawang putih di dua provinsi ini (Jawa Tengah dan Jawa Timur) mengingat potensi lahan yang sangat besar namun produktivitasnya masih lemah.

    Harapan Bangkitnya Produksi Bawang Putih

    Kedepan diharapkan pemerintah bisa lebih fokus membaca peluang peningkatan produksi bawang putih di wilayah-wilayah yang memiliki lahan yang potensial. Karena pada dasarnya pemerataan dalam kepemilikan luas panen untuk bawang putih sulit untuk direalisasikan. Oleh karena itu, wilayah yang memiliki luas lahan yang besar sebaiknya dijadikan intrumen untuk meningkatkan produksi bawang putih dengan meningkatkan produktivitasnya. Dengan begitu kebutuhan bawang putih nasional akan bisa dikurangi dari ketergantungan impor dari luar negeri.

     

    Referensi :

    Badan Pusat Statistik RI

    Kementrian Pertanian-Direktorat Jendral Holtikultura


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Salsabila Zulfani

    2 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 142 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.