Karena Euphoria Yang Menenggelamkan - Analisa - www.indonesiana.id
x

https://www.sapiens.org/culture/drug-users-demonized/

moh wafri matorang

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juli 2019

Rabu, 20 November 2019 15:26 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Karena Euphoria Yang Menenggelamkan

    Dibaca : 867 kali

    <script data-ad-client="ca-pub-4129808106006500" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

    Kau, kalian oh tidak ini tentang kami. Dan sejuta harapan manusia yang ingin keluar dalam mimpi buruk kekacauan tatanan sosial.

    Tahun 2016 adalah masa awal diri saya masuk dalam kerumunan domba, dalam ruang yang penuh dengan manusia multi dimensi.

    Bertemu dengan bermacam macam sekte. Dari sekte yang suka melakukan ritual menyembah buku, dosen, senior, sampai sekte yang  menyembah game. Manusia dengan banyak versi di ruang itu, ruang yang kita semua yakin akal sehat akan terjaga kejernihannya. Dalam dunia masyarakat terpelajar ternyata bukan hanya pemikiran cerdas dapat terjaga baik tetapi juga kebodohan terlestari.

    Budaya saring manaungi satu sama lain, punya potensi terlindas budidaya feodallitik. Sistem ini menciptakan manusia yang haus akan identitas. Pemikiran intelektual berubah menjadi subjektifitas wewenang tiap-tiap orang. Akibatnya "solidaritas sosial" hanya menjadi sekedar nama untuk pertarungan absurd.

    Siapa sebenarnya yang mempermainkan pola di dalam masyarakat kampus yang sejatinya pemikiran terlestari. Mengutip salah satu ucapan pemikir Jerman, kata nya yang "paling asik adalah memerinta dan memporak-porandakan manusia yang tidak berfikiran".

    Ruang kuliah hari ini telah bergeser menjadi ruang ambisius dan abiguitas. Manusia didalamnya mempertaruhkan nyawa  untuk menabung nilai tinggi yang sebenarnya itu adalah sesuatu yang condong tidak bernilai.

    Melakukan semua hal diluar konsep metodologi yang sifatnya non-ilmiah, hingga memberian sesajian untuk memuaskan hasrat para dosen yang haus harga diri, semua terlaksana dengan senang hati.

    Kadang saya penasaran bagaimana jika para dosen yang haus harga diri ditanyakan: Mau dihargai berapa dirinya pak ? Mungkin nasi kotak Istana Kepresidenan cukup.

    Tentu saja saya bukannya tidak suka semua dosen. Ada banyak dosen yang saya gemari terutama mereka yang terbuka dan senang menerima kritikan, serta punya karakter dan cara mengajar yang lumayan menggelitik kepala saya.

    Karena saya percaya jika ide dan konsep tidak mendahului perihal apa yang di kerjakan maka sifatnya condong primitifsisme. Orang seperti ini hanya larut dalam seremonialisasi, diam disitu dan lupa terhadap hakikat darinya, tidak mampu melampaui apa yang di cita-citakan dan ingin usahakan.

    Kondisi seperti itu persis seperti buku "Kisah Pulau Utopia" karya Thomas Moore, yang awalnya di perkenalkan oleh Karl Marx dan dipakai oleh kaum sosialis untuk melihat peta-peta masyarakat komunal pada masa transisi abat kegelapan. Agar dapat menggeser praktik idealistik tanpa nilai, tetapi hari ini yang seperti itu malah membludak ke permukaan.

    Dampak dari budaya sesajian antara mahasiswa ke dosen, lihat saja belum lama ini populernya film horor hantu dan sebangsanya. Itu menunjukkan bahwa impotensi kaum terdidik dalam merespon dekadensi kondisi sosial politik kontemporer hingga memilih sikap eskapisme intelektual.

    Belum lagi kata tentang Radikalisme yang juga tidak kalah populer salah kaprahnya di kampus. Saya pernah bertemu salah satu dosen di kampus yang keliru dalam menerjemahkan kata radikalisme, mungkin dirinya telah disusupi hantu Orde Baru, atau bagaimana?  Entahlah. Dirinya menafsirkan radikalisme sebagai paham kekerasan.

    Padahal istilah radikalisme harus dilihat sebagi substansi kedalaman setiap konsen ilmu pengetahuan, semua pakar dan ilmuwan harus radikal pada konsen keilmuan masing-masing. Jika tidak maka semua ilmu tidak akan punya identitas pembeda. Karena Bagi saya yang berbauh kekerasan itu hadir karena manusia diolah berdasarkan normalitas aktivitas sebagaimana manusia biasanya. Pada prinsip jika kebebasan itu mutlak adanya aktivitas seharusnya tidak dibatasi.

    Hidup dalam dunia "mamalia sosial" memang membingungkan, apalagi baik-buruk selalu di tafsirkan setiap orang dengan objektif. Kesalahan di pretelih habis-habisan, sampai-sampai setiap orang gagap dalam melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi kenikmatan bagi dirinya. Hidup di atur berdasarkan kesesuaiannya aktivitas manusia. Ada apa ?

    Saking baik-buruk, benar-salah, itu menaungi dan memayungi sosiokultur manusia, Tuhan jadi tidak terlihat seperti Tuhan. Hakim abadi adalah milik manusia. Bahkan Robot dan manusia adalah mahluk serupa di tengah-tengah kehidupan yang basisnya benar-salah.

    "Menurut saya kasur seharusnya bukan tempat ternyaman dan mata yang terlihat merah tidak pernah bisa melambangkan kepuasan".

    Seharusnya masyarakat kampus punya sikap yang faktual agar mampu menjaga akal dalam gonjang ganjing kepentingan, ditengah deras kepentingan pembagunan dalam masyarakat kita. Kontradiksi yang di akibatkan sosiokultural menghasilkan tidak hanya kemajuan tetapi juga ketimpangan, karena ketidakadilan dalam kondisi sosial bukan hanya fakta yang sedang diusahakan perbaikannya tetapi juga suatu keadaan yang di lestarikan menjadi suatu iklim.

    Pada kondisi semacam itu tidak hanya diperlukan penerapan teknik-praktis tetapi juga terang teori untuk membuka jalan yang mengelapkan pemikiran masyarakat yang terkait realitas sosial. Ideologi kritis di perlukan pada saat seperti itu.

    Max Horkheimer seorang guru besar Jerman pernah berucap, "Masa depan kemanusian hanya tergantung pada adanya sikap kritis dewasa ini".

    Merdeka berfikir dan bertindak.

    Penulis:Moh Wafri Matorang


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.