Saatnya Timnas Senior Ditangani dan Dibentuk Berdasarkan Filosofi Sepak Bola Indonesia - Analisa - www.indonesiana.id
x

Filosofi Sepak bola Indonesia

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 21 November 2019 12:10 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Saatnya Timnas Senior Ditangani dan Dibentuk Berdasarkan Filosofi Sepak Bola Indonesia

    Dibaca : 581 kali


    Sampai kapan pun, bila cara-cara pembentukan Timnas Senior selalu mengacu pada pengambilan pemain dari klub kasta tertinggi alias Liga 1, maka Timnas Senior tidak akan pernah bangkit.

    Pertanyaan publik sepak bola nasional yang selalu mengungakap mengapa Timnas Sepak bola kelompok umur lebih banyak berprestasi ketimbang Timnas Senior, juga termyata ada siginifikasinya.

    Banyak yang dapat menjadi jawaban mengapa Timnas Senior selalu terpuruk dan Timnas kelompok umur lebih berprestasi.

    Di antara jawabannya adalah, pertama ciri khas permainan Timnas kelompok umur sudah sangat identik dengan kecepatan, permainan satu-dua sentuhan, yang pada akhirnya, Timnas kelompok umur wajib diisi oleh talenta pemain yang benar-benar berkualitas dan memenuhi standar Teknik, Intelgensi, Personaliti, dan Speed (TIPS).

    Kedua, cara bermain Timnas kelompok umur juga seiring sejalan dengan Kurikulum Filanesia yang juga diterapkan di Sekolah Sepak bola maupun Akademi Sepak Bola.

    Ketiga, pemain Liga 1 sudah tak seiring sejalan dengan pondasi dan kurikulum filanesia, sebab pelatihnya juga lebih banyak asing.

    Keempat, sangat kentara, pemain-pemain yang usianya sudah di atas 23 tahun, banyak yang mengatakan sudah kadaluarsa, dan sudah bukan lagi generasi Timnas yang dapat diandalkan.

    Pemain-pemain ini tak cukup terdidik dalam persoalan intelgensi dan personaliti. Pemain generasi ini lebih banyak dipilih karena hanya dilihat dari persoalan teknik, dan persoalan speedpun sudah tercecer.

    Bila disumpulkan, maka generasi pemain Indonesia yang usianya sudah di atas 23 tahun, adalah generasi yang sudah tidak produktif karena miskin intelgensi dan personaliti, plus speed, ditambah kebiasaan bermain di klub pun sudah tidak dengan pondasi Kurikulum Filanesia.

    Permainan cerdas, umpan satu dua dan mengandalkan kecepatan, kini secara terstruktur sudah dimiliki oleh Timnas U-22, Timnas U-19, dan Timnas U-16.

    Selain itu, ketiga Timnas yang memberikan prasarat mutlak atas standar pemain berkualitas dengan TIPS di atas rata-rata, menggaransi tim diisi oleh pemain yang memang diharapkan.

    Karenanya, dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia, stop menggunakan jasa pemain senior yang jauh dari harapan kualitas dan standar TIPS pemain, dan jauh pula dari pondasi Kurikulum Filanesia yang sudah jelas ditakuti oleh semua lawan di Timnas kelompok umur, karena mwngandalkan sentuhan satu dua, kecepatan, dan standar kecerdasan TIPS seluruh pemain.

    Lebih menarik, yang fasih dan paham gaya Kurikulum Filanesia ini justru Bima Sakti dan Tim (U-16), Fakhri Husaini dan Tim (U-19), dan Indra Sjafri dan Tim (U-22).

    Jadi, bila mau nyambung, pelatih Timnas Senior juga produk lokal yang memahami Kurikulum Filanesia seperti Bima, Fakhri, dan Indra.

    Bila mau gaya-gayaan pakai jasa pelatih asing, namun pemain yang direkrut juga tak standar TIPS dan tak standar Kurikulum Filanesia, maka kita akan terus disuguhi permainan Timnas Senior yang menerapkan taktik bertahan dan tak pernah berpikir menang, karena sudah takut akan kalah terlebih dulu.

    Selalu tampil bertahan, andalkan serangan balik, tapi tak pernah berpikir siapa yang mau ciptakan gol, karena pemain yang diturunkan pun jauh dari cerdas intelegensi dan personaliti. Itu bukan cara bermain ala Kurikulum Filanesia.

    Timnas Senior ditangani dan dibentuk jauh dari filosofi sepak bola Indonesia.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Saufi Ginting

    2 hari lalu

    LINGLUNG

    Dibaca : 124 kali


    Oleh: medy afrika

    3 hari lalu

    Perbedaan Aset Desa dengan Inventaris Desa

    Dibaca : 143 kali

    DESA, NEWS - Secara umum, aset Desa diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (“UU Desa”) dan lebih rinci diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa (“Permendagri 1/2016”). Aset Desa  : adalah barang milik Desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Sementara itu, istilah inventaris desa tidak ditemukan dalam UU Desa maupun Permendagri 1/2016.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (“KBBI”) yang terakses dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, inventaris adalah daftar yang memuat semua barang milik kantor (sekolah, perusahaan, kapal, dan sebagainya) yang dipakai dalam melaksanakan tugas.                                                                                      Merujuk pada definisi inventaris desa di atas, maka dapat kami simpulkan bahwa inventaris desa adalah daftar barang milik desa. Meski demikian, istilah inventarisasi dapat kita temukan dalam Permendagri 1/2016. Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan aset Desa. Merujuk pada definisi inventarisasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa inventaris desa adalah hasil aset desa yang didata, dicatat, dan dilaporkan. Yang Termasuk Aset Desa : Aset Desa dapat berupa tanah kas desa, tanah ulayat, pasar desa, pasar hewan, tambatan perahu, bangunan desa, pelelangan ikan, pelelangan hasil pertanian, hutan milik desa, mata air milik desa, pemandian umum, dan aset lainnya milik desa.   Aset lainnya milik desa antara lain: a.  kekayaan desa yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (“APBDesa”); b.    kekayaan desa yang diperoleh dari hibah dan sumbangan atau yang sejenis; c.    kekayaan desa yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak dan lain-lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; d.    hasil kerja sama desa; dan e.    kekayaan desa yang berasal dari perolehan lainnya yang sah. Inventarisasi Aset Desa : sekretaris desa selaku pembantu pengelola aset desa berwenang dan bertanggungjawab: a.    meneliti rencana kebutuhan aset desa; b.    meneliti rencana kebutuhan pemeliharan aset desa ; c.    mengatur penggunaan, pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan aset desa yang telah di setujui oleh Kepala Desa; d.    melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi aset desa;dan e.     melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan aset desa.   Petugas/pengurus aset desa bertugas dan bertanggungjawab: a.    mengajukan rencana kebutuhan aset desa; b.    mengajukan permohonan penetapan penggunaan aset desa yang diperoleh dari beban APBDesa dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Desa; c.    melakukan inventarisasi aset desa; d.    mengamankan dan memelihara aset desa yang dikelolanya; dan e.    menyusun dan menyampaikan laporan aset desa.   -Aset desa yang sudah ditetapkan penggunaannya harus diinventarisir dalam buku inventaris aset desa dan diberi kodefikasi. Kodefikasi yang dimaksud diatur dalam pedoman umum mengenai kodefikasi aset desa. -Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Desa melakukan inventarisasi dan penilaian aset Desa sesuai peraturan perundang-undangan. Bisa didefenisikan, aset desa dan inventaris desa merupakan dua hal yang berhubungan. Aset desa merupakan barang milik desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Sedangkan inventaris desa adalah daftar barang milik desa, yakni hasil aset desa yang didata, dicatat, dan dilaporkan. Kegiatan inventarisasi aset desa merupakan tugas dan tanggung jawab petugas/pengurus aset desa yang berkoordinasi dengan sekretaris desa. Dasar Hukum: 1.    UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa 2.    Permendagri Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa.