Bagaimana Para Ahli Memprediksi Harga Minyak? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Hanson Semesta Berjangka

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2019

Kamis, 21 November 2019 13:57 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bagaimana Para Ahli Memprediksi Harga Minyak?

    Dibaca : 1.027 kali

    Para ekonom kesulitan memperkirakan harga minyak karena volatilitas minyak dipengaruhi banyak faktor. Para ahli mengandalkan berbagai instrumen untuk memprediksi harga minyak dan bergantung konfimasi waktu atau membalikan perkiraan mereka.

    Lima model yang paling umum digunakan adalah lima model yang paling umum digunakan adalah harga futures minyak, model struktur regresi, analisis deret waktu, model autoregresif Bayesian, dan grafik keseimbangan umum stokastik dinamis. Karena para ekonom belum menentukan model mana yang paling dapat diandalkan, mereka menggunakan kombinasi pertimbangan dari model-model ini untuk mendapatkan jawaban yang paling akurat. 

    Harga futures minyak

    barel minyak bumi

    Bank Sentral dan Dana Moneter Internasional sering menggunakan harga futures minyak ketika menilai harga minyak. Harga futures adalah harga di mana penjual setuju untuk menjual sejumlah minyak kepada pembeli pada harga tertentu pada waktu tertentu di masa depan.

    Pedagang memperkirakan harga minyak futures berdasarkan dua faktor, yaitu faktor penawaran dan permintaan dan sentimen pasar. Hubungan antara penawaran dan permintaan mengacu pada penilaian pedagang terhadap pasokan minyak dan permintaan pasar di masa depan. Sentimen pasar mengacu pada penilaian pedagang atas naik atau turunnya harga minyak di masa depan. Efek perkiraan harga futures minyak sangat terbatas karena biasanya mereka menambahkan terlalu banyak variabel pada harga minyak saat ini. 

    Model regresi struktural

    Program komputer statistik menghitung kemungkinan perubahan harga minyak. Misalnya, matematikawan dapat mempertimbangkan pengaruh OPEC, tingkat stok minyak, biaya produksi, atau dampak produksi dan konsumsi minyak. Model regresi struktural ini memiliki kekuatan prediksi yang kuat, tetapi para ilmuwan mungkin kehilangan satu atau faktor lainnya yang menyebabkan kegagalan prediksi. 

    Model analisis deret waktu

    Beberapa ekonom menggunakan model deret waktu seperti model perataan eksponensial dan model autoregresif untuk mengoreksi batas harga minyak berjangka. Model-model ini menganalisis sejarah minyak pada berbagai titik waktu untuk mengekstraksi data yang bermakna dan memprediksi harga di masa depan berdasarkan pengamatan sebelumnya.

    Analisis deret waktu terkadang dapat menyebabkan kesalahan, tetapi dapat memberikan hasil yang lebih akurat dalam jangka waktu yang lebih pendek. 

    Model autoregresif vektor Bayesian

    Program komputer statistik yang menggunakan model Bayesian menghitung dampak peristiwa yang diprediksi tertentu pada minyak. Para ilmuwan menggunakan model regresi standar dan berusaha mencoba dengan meningkatkan perhitungan variabel yang mungkin mempengaruhi peristiwa.

    Sebagian besar ilmuwan kontemporer suka menggunakan model autoregresif vektor Bayesian untuk memprediksi harga minyak. Laporan kerja IMF 2015 menunjukkan bahwa model ini berkinerja terbaik selama periode 18 bulan. Model autoregresif vektor Bayesian secara akurat memprediksi harga minyak antara 2008 dan 2009 dan antara 2014 dan 2015. 

    Model keseimbangan umum stokastik dinamis

    Model keseimbangan umum stokastik dinamis menggunakan prinsip-prinsip ekonomi makro untuk menjelaskan fenomena ekonomi yang kompleks, dalam harga minyak futures ini. Model keseimbangan umum stokastik dinamis kadang-kadang efektif, tetapi keberhasilannya bergantung pada peristiwa dan kebijakan untuk tetap valid, karena perhitungan model keseimbangan umum stokastik dinamis didasarkan pada pengamatan historis. 

    Kombinasi model-model ini

    Ketika para ahli ingin memprediksi harga minyak mentah, mereka menggunakan kombinasi pertimbangan dari semua model diatas karena tidak ada model tunggal yang dapat memberikan prediksi yang akurat. Sebagai contoh, pada tahun 2014, Bank Sentral Eropa menggunakan kombinasi empat model untuk memprediksi harga minyak, menghasilkan hasil yang cukup akurat. Tentu saja, ECB juga menggunakan lebih sedikit atau lebih banyak model untuk mendapatkan hasil terbaik.

    Setiap model matematik sensitif terhadap waktu. Faktor-faktor yang tidak terduga seperti ketidakstabilan politik, biaya produksi, atau bencana alam akan memengaruhi perhitungan. Karena faktor inilah beberapa model lebih efektif daripada yang lain untuk periode waktu tertentu.

    Prediksi harga minyak

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: sapar doang

    8 jam lalu

    Pilkada Era New Normal

    Dibaca : 19 kali

    Setelah beberapa kali melaksanakan pilkada lansung mulai tahun 2005 dan pilkada serentak dimulai 2015,2017, 2018 dan 2020 di tengah pandemi covid-19, tenyata kita belum cukup berhasil untuk membuktikan bahwa pilkada lansung adalah jalan demokrasi lokal terbaik untuk menghasilkan pemimpin daerah yang sepenuhnya kompeten dan beritegritas. Bahkan, pilkada lansung tidak jarang terjadi ironi karena hanya menghasilkan kepala daerah korupsi.tidak hanya itu, proses pilkada lansung sering juga kali menjadi ajang politik idententitas dan politik uang. pemerintah akhirnya memutuskan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah(Pilkada) serentak 2020 dimundurkan, akibat pandemi virus corona yang melanda indonesia, yang mulanya akan diselenggarakan pada 23 September 2020 menjadi 9 Desember 2020, lewat peraturan pemerintah penganti undang-undang nomor 2 tahun 2020 tentang perubahan ketiga atas undang-undang nomor 1 tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah penganti undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota menjadi undang-undang (Perpu Pilkada), pemerintah berasumsi tahapan penyelenggaran pilkada bisa dilaksanakan dengan berakhirnya pandemi virus corona pada juni 2020. Sebelum Perpu nomor 2 tahun 2020 terbit, terdapat beberapa opsi skenario tentang penundaan pilkada serentak 2020 akibat pandemi virus corona, Opsi A pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada hari Rabu 9 Desember 2020, Opsi B. pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada hari Rabu 17 Maret 2021, Opsi C. pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada Rabu 29 September 2021.dan opsi yang pertama yang dipilih oleh pemerintah dinilai sangat berisiko luas terhadap penyelenggaran pilkada secara luas, sebab kemunggkinan tahapan akan dimulai di awal Juni 2020 dan virus corona di indonesia masih menunjukkan angka meningkatan. Sebanyak 270 daerah akan meneruskan tahapan lanjutan pemilihan pada tanggal 15 juni 2020, dengan syarat seluruh tahapan pilkada harus dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan Gugus tugas Covid-19 serta tetap berpedoman pada prinsip-prinsip demokrasi. Kebijakan itu akan membuat tahapan pilkada dimulai 15 juni. Nah, salah satu yang menjadi kekawatiran banyak pihak soal pilkada kali ini, karena kemungkinan berbarengan dengan masih banyak covid-19. Tentu bisa saja covid-19 tuntas sesegera mungkin. Sehingga, pada desember 2020 sudah tak ada lagi pandemi covid-19. Jika pandemi tuntas, pilkada tak akan memiliki masalah dengan faktor kesehatan masyarakat. Pemilu atau pemilihan era New normal menjadi keniscayaan seperti yang dilaksanakan disejumlah negara. Semua yang menyelenggarakan pemilu menerapkan protokol new normal untuk mencegah penyebaran virus corona, pen ggunaan masker, penyedian sanitasi untuk cuci tangan serta physical distancing sudah menjadi keharusan. Pemerintah tentu sudah mempertimbangkan potensi resiko dan mengusulkan langkah- langkah dalam melanjutkan tahapan pemilihan ditengah pandemi, sebagai contoh pemberlakuan protokol kesehatan yang diusulkan pemerintah dalam melanjutkan tahapan pilkada serentak 9 desember 2020. Kita bisa belajar dan mencontoh negara yang telah berhasil melaksanakan pemilu di masa pandemi covid-19. Melakukan tahapan pemilihan dengan memamfaatkan media teknologi imformasi untuk menghindari kerumunan. Bahkan demi menjamin keselamatan warganya. Ada negara yang menyediakan TPS khusus bagi pemilih 60 tahun keatas. Andai pilkada serentak tetap lanjut di 270 daerah atau hanya di sebagian wilayah, tetap saja pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu inovasi tambahan untuk menjaga kualitas pilkada. Karena cukup potensial terjadi hambatan, baik dari segi substansi maupun teknis. Dalam kondisi normal saja politik elektoral daerah kerap menyimpan sejuta catatan kritis. Apalagi pilkada di tengah pandemi, tentu bakal dihantui begitu banyak kesulitan yang mungkin bisa merusak kredibilitas demokrasi. Banyak hal perlu inovasi baru. Pertama, soal model kampanye. Setelah kampanye akbar dilarang, tentu harus ada medium lain yang disiapkan untuk menyampaikan gagasan kandidat. Penyelenggara maupun kontestan perlu berpikir keras memeras otak. Misalnya, metode kampanye melalui media sosial diutamakan meski tak semua daerah terpapar teknologi informasi. Atau metode door to door campaign dengan meminimalisasikan risiko penularan virus melalui alat pelindung diri. Jika tak ada kreativitas merekayasa model kampanye, bisa dipastikan kualitas demokrasi buruk karena visi-misi kandidat tak akan sampai kepada pemilih. Lalu apa yang akan menjadi preferensi pilihan politik jika pemilih tak kenal visi besar kandidat. Tentu semua pihak tak mau pilkada sebatas seremonial. Ritus tak bermakna. Kering substansi karena yang terjadi sebatas mobilisasi artifisial bukan partisipasi politik yang sehat. Kedua, memperbanyak tempat pemungutan suara (TPS) untuk mengurangi penumpukan massa. Jika selama ini ada opsi maksimal satu TPS berkapasitas 500 orang, di pilkada nanti setiap TPS maksimal 250 hingga 300 orang. Atau berupaya memperpanjang waktu pencoblosan mulai dari pagi hingga jelang petang menghindari kerumunan. Rekayasa semacam ini penting untuk mengamputasi sebaran korana yang kian agresif. Tak mudah memang, tapi inovasi baru perlu dilakukan jika pilkada tetap diselenggarakan di era new normal yang pandemi koronanya belum usai. Jangan pernah melakukan perjudian. Karena menyangkut nyawa dan keselamatan warga. Jangan cuma karena urusan politik elektoral. protokol kesehatan pemilih diabaikan. Apa pun harus dilakukan untuk memangkas sebaran korona. Masih banyak inovasi lain yang masih bisa dilakukan demi merawat kualitas pilkada serta menjaga kesehatan pemilih. Misalnya, masa kampanye diringkus menjadi 30 atau 40 hari saja, yang penting bisa menggairahkan pemilih. Di tengah kesulitan pasti terselip sebuah harapan. Menyelenggarakan pilkada di tengah pandemi bukan perkara mudah. Butuh tekad, keseriusan, dan ‘manuver tak biasa’ untuk tetap menjaga keadaban berdemokrasi. Inilah ujian sesungguhnya bangsa saat ini. Segala daya upaya ditantang untuk bisa mewujudkan perhelatan pilkada berkualitas di masa wabah korona. Kekuatan intelektual serta kreativitas ilmu pengetahuan dipaksa melahirkan inovasi baru dalam merekayasa pilkada serentak kali ini. Semua pihak paham, memaksakan pilkada serentak di tengah pandemi korona bukan sebatas regenerasi kepemimpinan daerah, tapi melainkan juga sebagai upaya menstimulasi ekonomi yang luluh lantak akibat terpaan badai korona. Roda ekonomi dipastikan kembali berdenyut saat pilkada. Kandidat, tim sukses, serta partai politik tentu mengapitalisasi segala sumber daya ekonomi mereka untuk memenangkan pertarungan meski harus berjibaku dengan wabah. Pandemi membuka peluang bagi kita untuk berkreasi dan berinovasi dalam menjalankan demokrasi. Semoga ikhtiar mengelar pilkada di era new norman memberi kemaslahatan bagi bangsa dan negara. SAPARUDDIN adalah Penggiat Demokrasi Aktif di Pemantau Pemilu menjabat sebagai Sekretaris Umum Komite Independen Pemantau Pemilu ( KIPP) Daerah Pasaman 2013-2016 dan Sebagai Ketua Umum Komite Independen Pemantau Pemilu ( KIPP) Daerah Pasaman 2016 -2019.dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pileg dan Pilpres 2019 dan tulisan Artikel telah di muat di ( Klikpositif.com, Kompassiana.com dan Indonesiana.com)