Digaji Rp 51 Juta, Inilah Kisah dan Kehebatan 7 Staf Khusus Presiden Jokowi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo alias Jokowi mengumumkan tujuh staf khususnya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 21 November 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 21 November 2019 19:29 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Digaji Rp 51 Juta, Inilah Kisah dan Kehebatan 7 Staf Khusus Presiden Jokowi

    Dibaca : 5.505 kali

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi resmi memperkenalkan tujuh orang staf khusus  pada 21 November 2019. Mereka  merupakan anak-anak muda, dari berbagai latar belakang profesi. Pengenalan tersebut dilakukan di veranda Istana Merdeka.

    Tujuh staf khusus yang diperkenalkan di depan umum, yakni

    • Putri Tanjung (CEO dan Founder Creativepreneur)
    • Adamas Belva Syah Devara (Pendiri Ruang Guru),
    • Ayu Kartika Dewi (Perumus Gerakan Sabang Merauke),
    • Angkie Yudistia - Pendiri Thisable Enterprise (Kader PKPI, difabel tuna rungu),
    • Billy Mambrasar (Pemuda asal Papua, penerima beasiswa kuliah di Oxford),
    • Aminuddin Maruf (Aktivis Kepemudaan Mahasiswa, mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII)),
    • Andri Taufan Garuda (CEO Amartha

    Mereka akan menerima hak keuangan seperti yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 144 Tahun 2015. Beleid ini mengatur hak keuangan bagi staf khusus presiden, staf khusus wakil presiden, wakil sekretaris presiden, asisten, dan pembantu asisten.

    Hak keuangan merupakan pendapatan keseluruhan yang diterima dan sudah termasuk di dalamnya gaji dasar, tunjangan kinerja, dan pajak penghasilan. Perpres Nomor 144 Tahun 2015 menyatakan  gaji staf khusus presiden sebesar Rp 51 juta.

    Baca juga:Heboh Larangan Ucapan Natal di Roti: Salah Kaprah Urusan Label Halal?

    "Ya, kan mereka bekerja satu kali 24 jam. Jadi enggak main-main lho kerjaan stafsus itu," kata juru bicara Istana Kepresidenan, Fadjroel Rachman, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 22 November 2019.

    Ketujuh  anak-anak milineal itu memiliki prestasi segudang. Berikut ini kisah dan kehebatan mereka:

    1.Putri Tanjung
    Sejak berusia 15 tahun, Putri Tanjung merintis bisnis penyelenggara acara di sekolah dengan nama El Paradiso. Baru pada  2014, Putri Tanjung mendirikan Creativepreneur Event Creator.

    Putri Tanjung bersama ayahnya, Chairul Tanjung saat liburan ke Zurich, Swiss. Instagram.com/@putri_tanjung

    Kini, perusahaan itu berkembang menjadi PT Visi Muda Kreatif, wadah untuk anak-anak muda di industri kreatif.  Selain mengelola bisnis miliknya, Putri Tanjung sering menjadi pembicara di seminar atau bincang-bincang inspiratif bagi kaum milenial.

    2.Belva Devara
    Lahir di Jakarta pada 30 Mei 1990, Belva merupakan co-founder dan CEO dari startup Ruangguru. Ia membentuk perusahaan bersama sahabatnya, Iman Usman.

    CEO Ruangguru Belva Devara. (ANTARA News/HO Ruangguru)

    Belva Devara berhasil meraih gelar ganda, yaitu MBA (Master of Business Administration) Stanford University dan Harvard University dengan jurusan Public Policy.Usai menyelesaikan studinya, pada 2016 ia kembali ke Tanah Air demi fokus membesarkan Ruangguru.

    Belva Devara masuk dalam daftar 30 pengusaha muda paling berpengaruh di Asia oleh Forbes Magazine pada 2017. "Semakin saya bergelut di Ruangguru, semakin saya jatuh cinta dengan isu-isu pendidikan dan teknologi," kata Belva  kepada Antara, Sabtu, 31 Agustus 2019.

    3.Ayu Kartika Dewi 

    Managing Director Indika Foundation, Ayu Kartika Dewi. Tempo/Mitra Tarigan
    Ayu Kartika kini menjadi managing director Indika Foundation. Ia alumnus Duke University dengan gelar MBA.  Ayu salah satu  perumus Gerakan Sabang Merauke. Gerakan itu mengajarkan anak-anak mengenai makna Bhinneka Tunggal Ika melalui program pertukaran pelajar.

    Gerakan  itu didirikan lantaran Ayu percaya bahwa toleransi bukan sebuah pelajaran yang bisa dihafal di bangku sekolah, melainkan harus dirasakan dan dijalani. Dalam program tersebut, anak-anak Indonesia diajak untuk tinggal di keluarga yang berbeda, sehingga merasakan perbedaan dan bisa memaknainya.

    "Saya mendukung Sabang Merauke karena saya percaya bahwa toleransi itu tidak bisa hanya dibaca di buku PPKN. Toleransi itu harus dialami, harus dirasakan, " kata Ayu Kartika.

    4.Angkie Yustistia

    Angkie Yudistia. Instagram

    Angkie menjadi tuna rungu karena malaria dan demam tinggi. Sebagai seorang tunarungu, dulu Angkie kerap menjadi sasaran perundungan.

    "Aku kehilangan pendengaran di usia 10 tahun dan sering banget dianggap oleh masyarakat kalau aku sudah tidak bisa apa-apa lagi,"ujar Angkie  di GIA Restaurant, Jakarta Selatan, pada Selasa lalu, 14 Agustus 2018.

    Baca juga:Heboh Larangan Ucapan Natal di Roti: Salah Kaprah Urusan Label Halal?

    Meski memiliki keterbatasan, Angkie Yudistia mampu meraih gelar Master Komunikasi dari London School Public Relations. Dua pernah pula bekerja di perusahaan-perusahaan besar, seperti IBM Indonesia dan Geo Link Nusantara, hingga memutuskan mendirikan Thisable Enterprise.

    Pengalaman pribadi Angkie  mendorongnya membangun Thisable Enterprise. "Kalau tadinya orang disabilitas jalan menunduk, sekarang mereka bisa lebih bangga," ucap Angkie Yudistia.

    5.Billy Mambrasar
    Gracia Billy Yosaphat Y. Mambrasar atau Billy Mambrasar   30 tahun,   sedang dalam proses penyelesaian tesis studi gelar Magister (MSc) dalam bidang bisnis di Universitas Oxford, Inggris. Gelar tersebut merupakan gelar keduanya, setelah menyelesaikan studi di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015.

    Dalam waktu dekat, ia juga akan melanjutkan pendidikan doktoralnya dengan Beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serika. Ia berasal dari keluarga kurang mampu di Serui, Kepulauan Yapen, Papua.

    Sehari-hari, ibunya berjualan kue dan makanan di pasar untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya seorang guru. Tak jarang, ia membantu ibunya berjualan kue. "Subuh ibu bikin kue, paginya ibu pergi ke pasar jualan, kami ke sekolah sambil bawa kue untuk dijual," ujar  kepada Antaranews  beberapa waktu lalu.

    6.Aminuddin Ma'ruf
    Dia  merupakan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII).  Ia dianggap berhasil merangkul tokoh-tokoh millenial di tanah air. Aminuddin merupakan penggagas terbentuknya Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April lalu.

    Di dalam Samawi  ada  figur-figur millenial dari berbagai organisasi. Seperti mantan Ketua Umum PB HMI, Mantan Ketua Umum IMM dan lainnya.

    7.Andi Taufan Garuda
    Lelaki 30 tahun ini  adalah lulusan School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung.  Ia juga menyelesaikan pendidikan Public Adminstration, Harvard University. Kini Taufan sukses menjadi CEO & Founder Amartha.

    Andi Taufan Garuda Putra, Pendiri Amartha, fintech peer to peer (p2p) lending. Blog.amartha.com

    Taufan mula-mulai bekerja di IBM, perusahaan Teknologi Informasi (TI) berbasis di New York, Amerika Serikat dan merupakan perusahaan multinasional. Perusahaan IBM sendiri merupakan perusahaan yang menjadi dambaan banyak anak muda di dunia.

    Pada tahun 2009, dia memilih mundur dari IBM, dan kemudian  membuka Lembaga Keuangan Mikro dengan misi menghubungkan pelaku usaha di pedesaan yang kesulitan mendapat modal usaha. Dia memulainya dengan memberikan pinjaman ke pedesaan. ****
    Baca juga:Heboh Larangan Ucapan Natal di Roti: Salah Kaprah Urusan Label Halal?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.