Kabinet Indonesia Maju=Kafilah yang Berlalu - Analisa - www.indonesiana.id
x

Rezim Jokowi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 26 November 2019 03:36 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kabinet Indonesia Maju=Kafilah yang Berlalu

    Dibaca : 390 kali


    Teriakan rakyat dalam bentuk kritik, pro dan kontra, hingga demonstrasi turun ke jalan yang akibatkan jatuh korban karena berbagai persoalan dan keputusan digelindingkan sesuka hati dan meresahkan, nyatanya tetap "dicueki" dan "tak dipedulikan" oleh pemimpin dan pemerintah kita.

    Kondisi ini, tak pelak sangat mirip dengan pepatah "anjing menggonggong, kafilah berlalu." Mengapa?

    Anjing menggonggong, lebih santun saya ganti menjadi rakyat berteriak, menjerit. Lalu, kafilah berlalu adalah pemimpin dan pemerintah yang cuek dan tak peduli.

    Di mana suri teladan? Di mana budi pekerti dan etika? Semua terkesan sirna atau ditiadakan, demi kepentingan politik dan golongannya. Tidak ada lagi rasa "sungkan, ewuh-pekewuh," apalagi rasa "malu."

    Kabinet Indonesia Kerja yang di periode kedua diganti menjadi Kabinet Indonesia Maju, kini lebih terkesan di sutradarai secara arogan dan keras kepala.

    Mumpung kekuasaan sedang digenggaman, maka tak ada lagi teriakan dan jeritan rakyat yang perlu didengar, yang penting siapa yang perlu disejahterakan, siapa yang harus dikorbankan.

    Siapa yang kini dibagi-bagi kursi dan bahagia di atas penderitaan rakyat. Siapa yang kini dibagi-bagi uang rakyat tanpa perly bersusah payah, karena telah menjadi bagian dari pendukung yang telah memenangkan.

    Inilah "Rezim Sesuka Hati" karena sedang menguasai negeri ini. Mumpung ada hak perogratif. Mumpung semua stakeholder adalah bagian dari pemerintah dan diupah oleh pemerintah meski memeras rakyat.

    Tak patuh dan tak menurut, maka diancam dan ditakuti. Bahkan disuruh ke luar dari negeri ini.

    Semua kritik dianggap remeh-temeh hingga disebut "memang dia siapa?"

    Sejatinya, rezim ini sedang merencana apa? Lupa pada rakyat yang telah membikin mereka duduk di singgasana. Namun, setelah duduk, berbuat sekehendak hatinya.

    Siapa yang benar, maka akan dilindungi. Siapa yang salah, maka akan jatuh dan terperosak ke dalam lubang yang digalinya sendiri.

    Hentilah berteriak, rakyat. Percuma hanya bikin suara serak. Nikmati saja penderitaan yang sementara di dunia. Diam dan lihatlah para kafilah itu. Biarkan mereka mau bikin apa. Sebab, harta dan kekuasaan tak akan dibawa mati!

    Ayo kita nikmati "Rezim Sesuka Hati" ini, sambil minum kopi. Stop berteriak, stop menjerit rakyat! Biarlah pemimpin dan pemerintah ini berlalu. Hanya 5 tahun kok. (Meski sedang ada upaya nambah 5 tahun lagi).

     

     

     

     

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.