Dugaan Suap Rp 6 M ke Bos PKB: Malangnya Musa Si Pembongar dan KPK, Hebatnya Muhaimin? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Terdakwa Musa Zainuddin menangis setelah mendengar putusan majelis hakim di Gedung Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, 15 November 2017. Musa divonis majelis hakim 9 tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta subsider 3 bulan. Tempo/Naufal Dwihimawan Adjiditho

Wigati Amalia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2019

Rabu, 27 November 2019 06:01 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Dugaan Suap Rp 6 M ke Bos PKB: Malangnya Musa Si Pembongar dan KPK, Hebatnya Muhaimin?

    Dibaca : 27.592 kali

    Figur  yang  malang itu bernama Musa  Zainuddin, bekas politikus Partai Kebangkitan Bangsa.   Dia sekarang  menginap  di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Jawa Barat. Ia harus menjalani hukuman  9 tahun penjara dan diwajibkan mengembalikan uang suap  Rp 7 miliar. Sesuai  vonis dua tahun lalu, Musa  dinyatakan terbukti menerima sogokan sebesar uang harus dikembalikan itu.

    Baca juga:

    Benarkah Soal Agnez Lebih ‘Seksi’ Ketimbang Dugaan Suap Rp 6 M ke Petinggi DPR Ini?

    Musa telah membeberkan keterlibatan petinggi PKB dalam suap itu. Menurut Musa, ia cuma ambil Rp 1 miliar, dan selebihnya, Rp 6 miliar,   diberikan ke petinggi PKB yang lain untuk diteruskan ke  Ketua Umum partai ini,  Muhaimin Iskandar.

    Kasus itu  terjadi saat Musa masih menjadi anggota DPR RI.   Suap itu berkaitan proyek infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum untuk   wilayah Maluku dan Maluku Utara pada 2016. 

    Kenapa malang?
    Musa sudah mengajukan diri sebagai  justice collaborator sejak Juli 2019. Ia pun sudah membeberkan  rahasia yang sebelumnya ia simpan rapat-rapat.  Menurut Musa, duit suap Rp 6 miliar  ia diberikan ke politikus PKB yang lain, Jazilul Fawaid untuk diteruskan ke Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.  Musa pun  meminta Ketua Fraksi PKB  Helmi Faisal Zaini, memberitahu Muhaimin soal penyerahan duit itu.

    Nyatanya, kasus itu tak kunjung diusut.  KPK  memang telah memanggil  sejumlah politikus PKB antara lain Helmy Faishal Zaini  pada September lalu.  Tapi hingga kini  belum ada tanda-tanda KPK akan membongkar tuntas  pengakuan  Musa tersebut.

    KPK belakang ini sudah memanggil pula Muhaimin Iskandar, tapi dia belum bisa datang. Muhaimin  mengirimkan surat bahwa dia tak bisa hadir pemeriksaan karena sedang bertugas.

    Anehnya,  KPK  terkesan ragu-ragu menjadwalkan pemanggilan uang. "Akan dipanggil lagi sesuai kebutuhan penyidikan," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah,  22 November 2019.

    Akan menguap lagi?
    Muhaimin Iskandar dulu  juga pernah terseret  skandal kardus durian saat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.  Kardus duren merupakan tempat uang senilai Rp 1,5 miliar yang ditemukan petugas KPK  Kementerian  itu pada tahun 2011.

    Saat itu atau tepatnya pada 25 Agustus 2011, KPK mencokok Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Kawasan Transmigrasi I Nyoman Suisnaya dan anak buahnya, Dadong Irbarelawan.

    Dua anak buah Muhamin tersebut diduga menerima suap Rp 1,5 miliar dari pengusaha yang bernama Dharnawati terkait dengan program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah Transmigrasi. Dharnawati yang merupakan kuasa direksi PT Alam Jaya Papua juga diamankan petugas KPK dalam operasi tangkap tangan itu

    Dadong Irbarelawan membuat pengakuan yang memojokkan keterlibatan Muhaimin Iskandar. Dia mengatakan komitmen fee dari Dharnawati Rp 1,5 miliar diduga memang akan diberikan kepada Muhaimin. 

    Hanya, hingga kini Muhaimin tak tersentuh KPK. Para pelaku memang divonis bersalah,  tapi nama Muhaimin Iskandar  yang disebut dalam tuntutan, hilang dalam putusan hakim. **

    Baca juga:
    Benarkah Soal Agnez Lebih ‘Seksi’ Ketimbang Dugaan Suap Rp 6 M ke Petinggi DPR Ini?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 622 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).