Antara Bangga dan Sedih kepada Nadiem Makarim - Analisa - www.indonesiana.id
x

Nadiem

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 27 November 2019 15:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Antara Bangga dan Sedih kepada Nadiem Makarim

    Dibaca : 687 kali


    Pendidikan yang menjadi pusat kawah candradimukan lahirnya generasi penerus bangsa Indonesia yang cerdas dan mencerdaskan, rasanya dalam beberap tahun ke dapan akan terus menjadi persoalan yang sulit diurai. Benang kusut pendidikan di Indonesia sudah sangat kronis. Sehingga dibutuhkan perubahan yang sangat masif dan mendasar.

    Perubahan tidak dapat dilakukan secara parsial (sebagian), namun wajib sacara simultan (menyeluruh). Di tengah harapan, lahirnya Kabinet Indonesia Maju di periode kedua Presiden Jokowi menjabat, ternyata pemimpin kita membuat kejutan luar biasa. Memasang Nadiem Makarim (Bos Go-Jek), menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaa Indonesia.

    Jujur, saat Jokowi menunjuk Nadiem, secara pribadi, perasaan saya antara bangga dan sedih. Bangga, karena saat Sekolah Dasar (SD), Nadiem adalah murid saya. Sehingga, perasaan bangga tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

    Masih teringat bagaimana Nadiem kecil dulu di kelas. Ternyata, hanya dalam tempo puluhan tahun, Nadeim bahkan sudah terpilih menjadi Mendikbud Indonesia.

    Di luar kebanggaan saya, saya juga sedih, sebab, Nadiem yang masih begitu muda, harus diberikan beban yang begitu berat. Nadiem yang bermodal paham ditigal dan dari kalangan milenial, justru harus menjadi mesin pengubah pendidikan Indonesia yang selama ini terpuruk.

    Bila Presiden Jokowi memberikan kepercayaan penuh kepada Nadiem untuk mengubah kurikulum. Maka, pekerjaan Nadiem tidak akan kelar dalam lima tahun masa jabatannya.

    Mengubah Kurikulum Pendidikan sama dengan mengubah sistem. Maka, bila sebuah sistem berubah, maka seluruh bagian lain yang terkait sistem tentu akan terseret perubahan. Lebih dari itu, bila ilmu Nadiem dirasa cukup untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia, maka pengalaman Nadiem masih jauh dari harapan.

    Viralnya pidato Nadiem di Hari Guru, dan amanat Nadiem kepada guru-guru untuk melakukan perubahan, bukanlah hal baru. Namun, selama ini guru-guru juga tetap kesulitan mengaplikasikan hal yang seperti diharapkan.

    Saran saya, sebagai mantan gurunya, Nadiem segera melakukan tindakan konkrit, mana yang mau diubah dan dikerahkan lebih dulu, sebab waktu lima tahun bukanlah waktu yang lama.

    Coba pelajari, butuh waktu berapa lama, tenaga seperti apa, dan anggaran berapa, untuk perubahan Kurikulum KTSP ke Kurikulum 13 (K-13)? Itu bila Nadiem mau memprioritaskan mengubah Kurikulum seperti amanat Presiden.

    Lalu, sektor apa saja yang akan terkena imbas dan efek domino? Jangan dulu berpikir mengurangi mata pelajaran SD, SMP, dan SMA. Menghapus pelajaran ini atau itu.

    Selamat bekerja Nadeim.
    Dari gurumu yang bangga padamu sekaligus sedih karena kamu harus mengemban tugas suci yang maha berat ini.

    Tetap sehat dan dilancarkan untuk semuanya. Aamiin.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.