Nasib Manusia di Hari Tua Mau Seperti Ayam atau Kucing? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bila dampak resesi benar-benar menghantam Indonesia, maka Bank bjb termasuk yang paling kuat menghadapi risiko-risiko yang ada.

djohan chan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2019

Kamis, 28 November 2019 17:37 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Nasib Manusia di Hari Tua Mau Seperti Ayam atau Kucing?

    Gaya Hidup

    Dibaca : 4.607 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Keberhasilan dan kekayaan dari seorang anak yang telah tumbuh dewasa, terkadang sempat merubah prilaku keperibadiannya terhadap orang tuanya, dengan menitipkan orang tuanya ke Panti Jompo, panti asuhan, bahkan ada juga yang mengurung orang tuanya di dalam kamar tempat tinggal sang anak.   

    Perbuatan tidak terpuji itu, banyak terjadi di kota- kota besar, khususnya di Indonesia. Terutama pada anak yang tidak tahu diri, dan berpikiran sesat, hingga melupakan jasa- jasa orang tuanya yang membesarkannya,  dan merawatnya sejak dari lahir.  

    Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar dari kaum Ibu dan Bapak yang menghuni Panti Asuhan, ataupun Panti Jompo, memiliki keturunan anak yang segar- bugar, bahkan ada kehidupannya yang boleh dikatakan cukup makmur, namun merasa enggan dan tidak mau repot mengurus orang tuanya.      

    Peristiwa semacam itu umumnya terjadi dan menimpa pada orang tua yang kehidupannya minim harta dan benda. Terkeculi bagi orang tua yang kaya raya, banyak harta, mereka tetap dipuja dan dipuji oleh anak- anaknya, karena mengharapkan pembagian harta warisan.    

    Bagi orang yang kaya raya, banyak uang dan harta, nasibnya di hari tua tidak jauh berbeda nasibnya seperti “ Ayam,” waktu pagi hari pintu kandangnya dibuka, makannya di perhatikan dengan baik, dan bila sore hari menjelang malam, “Ayam,” dicari kalau belum pulang. 

    Lain halnya bagi orang yang hidupnya pas- pasan, nasibnya di hari tua, terkadang tak ubahnya seperti “ Kucing,” kalau perutnya lapar, berteriak dan menjerit dahulu untuk meminta makan. Kalaupun di beri makan, dengan batas- batasan tertentu, mereka tidak bisa secara leluasa untuk menuruti kehendak seleranya.     

    Orang tuan yang sudah berusia diatas 55 tahun, pada umumnya sudah banyak terjadi penyusutan, seperti tenaga, penglihatan matanya, dan pendengarannya. Untuk itu harus dipahami, dan anak- anak yang telah dibesarkannya, wajar saja kalau untuk membalas budi menghidupi orang tuannya yang sudah renta. 

    Perhatikan-lah waktu makan dan minumnya, urus dan rawatlah mereka dengan sebaik- baiknya, sebagaimana ketika dirimu (Anak) di urus dan dibesarkan oleh Ibu dan Bapakmu, dari keci hingga dewasa. 

    Peranan Ibu dan Bapakmu tidak jauh berbeda. Ibumu mengandung dirimu Sembilan bulan sepuluh hari, hingga melahirkan dan Bapakmu berusaha sekuat tenaganya, untuk membesarkan dan memberi makan, minum, pakayan, bersekolah, kepada anak- anaknya. 

    “ Kasih orang tua sepanjang jalan, bahkan sepanjang Zaman,” dan jangan pula “ Kasih anak sepanjang Gala.” Atau istilah lainnya “ Air Susu, dibalas dengan Air Tub,” seperti legenda Malin Kundang di Sumatra Barat. 

    Setelah kaya raya, Ibunya dating menjenguknya dengan pakayan cumpang - camping, lalu di usirnya, karena malu dengan sang Istri tercinta. Achirnya sang Ibu menangis dan menjerit haru, serta meminta pembuktian kepada Tuhan Yang Maha Esa, “ Kalau ini memang anakku si Malin kundang, maka jadikanlah ia batu,” jerit sang Ibu.  

    Rupanya Tuhan mendengar dan menjawab serta mengabulkan permintaan sang Ibu, bahwa yang tegak berdiri, serta mengusir sang Ibu itu adalah benar Simalin Kundang, akhirnya Malin Kundang, bersama kap- kapal dan se-isinya menjadi batu. Mau-kah kalian jadi sebagai anak durhaka, seperti Malin Kundang… ? (Djohan)  



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.