Reuni 212 dan Target-target yang Ingin Dicapai - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Sejumlah peserta aksi mengikuti salat Jumat bersama meskipun hujan mengguyur saat aksi damai Bela Islam Jilid III di kawasan Monas, Jakarta, 2 Desember 2016. TEMPO/M Iqbal Ichsan

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 29 November 2019 09:43 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Reuni 212 dan Target-target yang Ingin Dicapai

    Dibaca : 1.172 kali

    Banyak orang bertanya-tanya, apa target dari pemnyelenggaraan Reuni 212 pada Senin, 2 Desember nanti? Tak kurang Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Yaqut Cholil Quomas mempertanyakan konteks reuni tersebut.

    "Itu pertemuan (reuni 212) untuk apa, konteksnya apa? Kalau memang konteksnya merayakan Maulid Nabi, oke-oke saja," ujar Yaqut saat menghadiri peringatan Maulid Baginda Nabi Muhammad, di Yogyakarta, 24 November 2019.

    Acara reuni ini digelar oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 di Taman Monas. Pada poster acara tertulis tajuk 'Munajat untuk Keselamatan Negeri. Maulid Agung dan Reuni Alumni 212'. Juru bicara PA 212 Novel Bmaukmin mengatakan agenda reuni itu sudah merupakan acara rutin tahunan. "Iya, benar, dan ini kan sudah menjadi agenda rutin tahunan," kata dia,

    Semula Reuni 212 diadakan untuk memperingati demonstrasi besar di DKI pada 2 Desember 2016. Pada tahun 2016 itu pengunjuk rasa mendesak Ahok dipenjara dengan tuduhan menista agama. Selanjutnya acara reuni digelar saban tahun.

    Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan Reuni 212 tahun ini bukanlah gerakan pengawal fatwa ulama yang asli.  Menurut dia, gerakan yang sebenarnya telah berakhir dengan dibubarkannya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI).

    "Kalau (gerakan 212) yang asli kan sudah selesai. Nah, itu kemudian muncul (kelompok) baru lagi," kata dia di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis, 28 November 2019.

    Sepertinya, fakta itu pula yang membuat Yaqut kini bertanya-tanya, apa tujuan digelarnya reuni tersebut. "(Kalau) untuk memberi tekanan politik, saya kira sudah tak relevan lagi," ujar dia. Karena segala pesta politik pun sudah selesai.

    Yaqut mengandaikan jika reuni itu digelar untuk menekan pemerintah agar memulangkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang kini masih berada di Arab Saudi ke tanah air, hal itu juga dinilai janggal. "Lho pemerintah kan bukan yang menyuruh Habib Rizieq pergi (ke Arab), pergi pergi sendiri, kok mau pulang minta pemerintah yang memulangkan," ujar Yaqut.

    Jika menyimak pernyataan tokoh 212, sepertinya isu agama bakal mengemuka dalam acara nanti. Ketua panitia Reuni 212 Awit Masyhuri mengatakan tuduhan penistaan agama terhadap  Sumawati Soekarnoputri bakal bergema dalam acara reuni. "Kami tolak penista agama dan ternyata (penistaan agama) masih terjadi lagi," kata dia.

    Sukmawati dituding telah menista agama karena membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden RI dan Proklamator Sukarno. Sedang Sukmawati membnatah telah melakukan penistaan, dan dia menyatakan video pernyataannya tentang Nabi Muhammad dan Presiden Soekarno, disebarluaskan tanpa menyertakan konteksnya.

    Ma'ruf Amin mempersilakan acara Reuni 212 digelar, karena karena tak melanggar demokrasi. “Yang penting tidak menimbulkan kegaduhan, anarkis," kata dia, Kamis, 28 November 2019.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.