Hari Aids Sedunia dan Kebobrokan Sekularisme - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mizan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Oktober 2019

Senin, 2 Desember 2019 14:34 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Hari Aids Sedunia dan Kebobrokan Sekularisme

    Dibaca : 3.409 kali

    *Hari Aids Sedunia dan Kebobrokan Sekulerisme*

    oleh Ainul Mizan

    Tanggal 1 desember 2019, diperingati sebagai Hari Aids Sedunia. Pengetahuan tentang cara penularan HIV baik melalui hubungan seksual (free seks), transfusi darah, dan jarum suntik terus-menerus diulang. Mirisnya, hal demikian tidak mampu mencegah orang yang terjangkit HIV/Aids. Indikasinya adalah di setiap peringatan Hari Aids sedunia tetap tidak sepi dari himbauan agar masyarakat tidak mengucilkan ODHA.

    Kasus HIV yang dilaporkan tiap tahun cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan kasus penyakit Aids yang dilaporkan relatif stabil. Orang yang terinfeksi HIV sudah banyak menyadari akan keadaan dirinya. Artinya ketika masih dalam keadaan terinfeksi, mereka sudah melakukan terapi kesehatannya.

    Data dari Kemenkes RI disebutkan bahwa pada tahun 2018, kasus HIV ada 46.659 dan Aids ada 10.190 kasus. Pada tahun 2019, sampai Juni dilaporkan ada 22.600 kasus HIV dan 2.912 kasus Aids. Sementara itu yang berpotensi besar menjadi ODHA cenderung didominasi oleh kaum pria daripada kaum wanita. Di tahun 2017, dilaporkan ada 30.621 kaum pria yang terjangkit Hiv/Aids. Untuk kaum wanita sejumlah 17.579 orang. Pada tahun 2018, dilaporkan ada 29.787 ODHA kaum pria. Untuk kaum wanita sejumlah 16.879. Sedangkan di tahun 2019, dilaporkan ada 14.469 kaum pria dan 8.131 kaum wanita.

    Data tersebut masih yang dilaporkan terkait kasus HIV/Aids yang terjadi di Indonesia. Tentunya dalam lingkup dunia, kasus HIV/Aids akan lebih banyak lagi. Dan untuk membayangkanya sudah sangat mengerikan. Terbersit sebuah tanya, sampai ke berapa kali harus diadakan peringatan Hari Aids sedunia? Tidakkah hal demikian menyadarkan kita semua bahwa data-data tersebut hanya bertutur pada kita akan bobroknya asas kehidupan yang melingkupi kita saat ini. Ya itulah sekularisme.

    Asas kehidupan yang bercorak sekularisme telah meminggirkan peran agama dalam mengatur kehidupan manusia. Secara khusus terkait tema HIV/Aids, sekulerisme telah mencampakkan peran agama dari pergaulan pria wanita. Notabene-nya dalam kehidupan kaum muslimin, pergaulan yang islami sudah terpinggirkan oleh budaya barat yang merusak. Tidak ada lagi rasa malu akibatnya pergaulan pria wanita sangat bebas, membuka aurat di tempat umum, bahkan hingga terjadi perzinaan dan pemerkosaan. Tidak mau kalah, penyimpangan orientasi seksual seperti LGBT juga ikut menyumbang data-data kasus HIV/Aids yang cenderung mengalami tren peningkatan. Inilah potret kehidupan sekularisme.

    Solusi yang dijadikan alternatif dalam menangani kasus HIV/Aids ini tetap ala sekularisme. Pemakaian kondom, tidak berganti jarum suntik, dan hingga solusi melakukan hubungan seks hanya dengan satu pasangan. Frase satu pasangan ini pun bisa berkonotasi dengan pacarnya saja dan atau suaminya saja. Tetap saja semua tawaran solusi tersebut tergantung individu masing-masing, karena kebebasan individu betul-betul diagungkan dalam sekularisme. Padahal keimanan individu itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Dengan kata lain, alternatif solusi yang ditawarkan bagaikan menggantang asap.

    Peringatan Hari Aids sedunia mestinya menjadi cambuk yang bisa mengantarkan manusia kepada sebuah kesadaran. Kesadaran yang membangunkan umat Islam khususnya akan bobroknya dan gagalnya sekukerisme dalam menyelamatkan kehidupan manusia. Umat Islam sedunia yang cukup besar jumlahnya sangat potensial mengarahkan dunia untuk menggusur sekulerasme. Sekularisme telah menjadikan manusia tidak takut kepada Alloh SWT. Betul sabda Rasul SAW yang menyatakan bahwa jika kalian tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu.

    Islam yang berasal dari Dzat pemilik alam semesta telah memiliki seperangkat aturan kehidupan yang lengkap dalam memandu pergaulan pria dan wanita di masyarakat. Prinsip pengaturan Islam dalam pergaulan pria wanita adalah terjadinya kerjasama yang baik di antara keduanya guna mewujudkan kemaslahatan individu serta masyarakatnya, dengan tetap menjaga kemuliaan diri. Dengan demikian bangunan masyarakat yang bersih diliputi suasana keimanan dan ketaqwaan akan bisa diwujudkan.

    Jangan sampai peringatan hari Aids sedunia ini hanya seremonial tanpa taring yang bisa menghentikan kebobrokan sekularisme. Kalau begitu, mempertahankan sekularisme berarti ikut mempertahankan kebobrokannya di setiap momen Hari Aids sedunia. Sangat memprihatinkan!

    #Penulis tinggal di Malang


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: Napitupulu Na07

    3 hari lalu

    Bangun Jutaan Tandon Air Hujan-Padat Karya Tunai, untuk Menambah Cadangan Air Kemarau dan Mengurangi Banjir, serta Dampak Covid 19

    Dibaca : 154 kali

    Pembangunan yang terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi berakibat terjadinya alih fungsi hutan dan ruang terbuka hijau secara masif menjadi: perkotaan, permukiman, areal industri, perkebunan sawit, kawasan pertambangan minerba dan galian C, berbagai sarana transportasi, perladangan berpindah dan lahan gundul kritis terlantar; telah berujung terjadinya banjir-banjir besar di musim hujan,diikuti kekeringan dan kelangkaan air di musim kemarau, serta air kotor / tercemar oleh limbah cair dan sampah yang menyumbat sungai dan drainase sepanjang tahun. Mengatasi masalah ini sekarang pemerintah sedang giat-giatnya membangun banyak bendungan/waduk banjir dan serbaguna bersamaan dengan merehabilitasi hutan dan konservasi lahan (gerhan). Namun upaya gerhan dan bangun waduk-waduk tersebut belum optimal menurunkan debit puncak banjir DPB) yang membesar/meningkat menjadi 5 (lima) kali debit (Q) sebelum alih fungsi tata guna tanah. Untuk mengantisipasi dampak alih fungsi tata guna lahan ini peraturan perundang-undangan terkait Penataan Ruang telah memuat persyaratan prinsip Zero Delta Q (Pertambahan Debit Nol). Tulisan ini menguraikan pentingya menerapkan prinsip Pertambahan Debit Nol ini dengan membuat/membangun jutaan tandon-tandon air hujan di seluruh nusantara; untuk melengkapi dan mengoptilakan upaya yang sedang berjalan tersebut di atas, namun sekaligus dapat menyerap tenaga kerja secara padat karya bagi penduduk yang terdampak pandemi Covid 19.






    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 621 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).