Sikap tidak Adil, Pangkal Keresahan Masyarakat - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 2 Desember 2019 19:32 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sikap tidak Adil, Pangkal Keresahan Masyarakat

    Dibaca : 887 kali

     

    Ucapan yang sangat jarang terlontar dari pejabat publik kita segera setelah dilantik untuk memangku suatu jabatan ialah “Saya akan berusaha untuk berlaku adil.” Kepercayaan diri yang kuat menjadikan para pejabat publik tidak merasa takut seandainya selama ia memimpin ia tidak mampu berbuat adil—kepada siapapun, terutama kepada rakyat yang ia pimpin dan layani, bahkan kepada mereka yang mungkin ia anggap sebagai seteru, juga kepada dirinya sendiri.

    Seseorang yang jadi pemimpin ataupun pejabat publik mungkin saja dinilai hebat dalam manajemen organisasi, mengelola dana, melakukan lobi-lobi, menyusun agenda kerja, kaya akan gagasan kreatif, serta kompeten dalam urusan lain yang terkait dengan tugasnya. Namun, sepanjang ia tidak mampu bersikap adil, seluruh penguasaan kompetensi itu maupun kekuasaan dan kewenangan yang ia miliki hanya akan menimbulkan persoalan pada banyak orang.

    Banyak pejabat publik yang memaparkan panjang lebar tentang rencana kerjanya: memangkas eselon, merombak direksi, mengganti kurikulum, menghadapi mafia, namun tidak satupun yang mengatakan akan memimpin secara adil. Entah kenapa demikian. Barangkali mereka beranggapan bahwa bersikap adil bukanlah bagian terpenting dari kepemimpinan. Seringkah, atau pernahkah, para pemimpin kita merenungkan ‘apakah tindakanku sudah memenuhi rasa keadilan masyarakat?’.

    Padahal, dalam kepemimpinan yang mencakup masyarakat luas dan beragam, sikap adil merupakan unsur terpenting. Mengapa yang terpenting? Karena sikap adil inilah yang paling dituntut oleh masyarakat yang beragam, namun yang paling sukar dijalankan oleh para pemimpin. Para pemimpin yang mengambil keputusan umumnya menghadapi tantangan: tekanan kepentingan dari luar dan hasrat kuasa dari dalam dirinya sendiri. Jika ia tidak cukup kuat berdiri, ia akan goyah oleh tekanan luar dan hasrat dari dalam.

    Ketidakadilan pemimpin dalam menyikapi berbagai persoalan berpotensi memicu keresahan warga. Ketidakmampuan untuk berdiri di atas semua golongan merupakan contoh sikap tidak adil yang sering tampak di antara pemimpin kita. Biasa dan kecondongan untuk berpihak kepada kelompok tertentu dan kurang ramah kepada kelompok yang lain menjadikannya sukar bersikap adil. Inilah sumber keresahan masyarakat. Bahkan, dalam memutus perkara, para hakim pun kerap luput untuk bersikap adil.  

    Kestabilan dalam masyarakat tidak bisa ditegakkan dengan paksaan semata, kecuali bila yang diinginkan kestabilan yang rapuh. Sikap dan tindakan adil oleh pemimpinlah yang mampu menjaga kestabilan masyarakat. Apa yang dilupakan oleh kebanyakan pemimpin ialah menganggap remeh sikap adil. Sering terlontar ucapan: “Saya tidak bisa memuaskan semua pihak.” Mungkin tidak semua orang akan merasa puas, namun secara umum masyarakat akan puas terhadap keputusan pemimpin sepanjang ia bersikap dan berlaku adil. Ketidakpuasan masyarakat lebih sering muncul karena maraknya ketidakadilan, yang terutama berasal dari sikap para pemimpin dalam mengambil keputusan.

    Ketidakmampuan bersikap adil pada dasarnya cerminan kegagalan kepemimpinan seseorang. Dalam mencari sumber ketidakstabilan dalam masyarakat, seorang pemimpin tidak perlu beranjak jauh-jauh dari tempat duduknya. Cukuplah ia berdiri dan becermin: “Apakah aku telah bertindak adil kepada masyarakatku?” >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.