Ancaman Resesi Dunia Sudah di Depan Mata, SBY Peringatkan Jokowi - - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Sabtu, 14 Desember 2019 05:17 WIB

  • Topik Utama
  • Ancaman Resesi Dunia Sudah di Depan Mata, SBY Peringatkan Jokowi

    Pidato SBY tiga hari lalu semestinya tidak disikapi sebagai kritik, tetapi terlebih sebagai masukan dari seorang negarawan yang memiliki pengalaman konkrit memimpin bangsa ini keluar dari ancaman serius resesi global.

    Dibaca : 7.007 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Menyimak pidato refleksi akhir tahun SBY tiga hari lalu di JCC Senayan, kita semakin menyadari tantangan berat yang sudah di depan mata saat bersiap menyongsong tahun 2020. Ancaman resesi dunia adalah nyata, bukan hanya spekulasi ekonomi. Perang dagang Amerika dan China masih berlanjut. Titik kulminasinya diprediksi akan terasa tahun depan bagi perekonomian dunia.

    Lihatlah tiga bulan terakhir, ekonomi Amerika hanya tumbuh 2 persen, sementara China mengalami pertumbuhan ekonomi terendah dalam 3 dasawarsa terakhir yakni hanya berada di angka 6 persen. Dua raksasa ini menguasai sepertiga ekonomi dunia sehingga pelambatan pertumbuhan yang mereka alami akan berdampak pada semua negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Eropa juga sedang mengalami kelesuan ekonomi dan diprediksi akan mengalami kondisi lebih buruk tahun depan sebagai imbas dari perang AS-China sehingga tidak bisa diharapkan sebagai pasar alternatif.

    Dalam pidatonya SBY memperingatkan bahwa ancaman serius resesi ekonomi dunia tidak cukup diantisipasi dengan pola business as usual. Jika tidak siap, Indonesia akan terseret oleh resesi tersebut. Secara utuh pidato bertema “Indonesia Tahun 2020: Peluang, Tantangan, dan Harapan” tersebut membahas berbagai topik  sebagai sumbangan pemikiran konstruktif terhadap pemerintah. Kendati disampaikan secara objektif dan berupa masukan kenegarawanan, cukup terasa kekahwatiran dalam intonasi SBY bahwa berbagai langkah antisipasi pemerintah terhadap tantangan ke depan belum berjalan sebagaimana mestinya.

    Dalam berbagai keputusan penting di bidang ekonomi, Jokowi memang masih terlihat belum bisa lepas dari business as usual. Pengisian beberapa jabatan penting di bidang ekonomi, misalnya, lebih merepresentasikan transaksi politik. Imbasnya, berbagai keputusan di bidang ekonomi justru kontra-produktif dengan upaya percepatan pertumbuhan, demikian juga dengan terobosan-terobosan Jokowi untuk mempermudah investasi dan bisnis, kerap tak singkron dengan kebijakan-kebijakan bawahannya. Intinya, di tengah ancaman krisis seperti ini, sangat penting memastikan jabatan-jabatan strategis di bidang ekonomi berada di tangan orang yang tepat.

    Pengalaman SBY menangkis ancaman krisis global 2008 dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga. Salah satu kunci keberhasilan tersebut, sebagaimana juga disinggung dalam pidato, adalah dengan konsisten menjaga daya beli masyarakat. Untuk itu perlu dipertimbangkan kembali sejumlah kebijakan pemerintah yang akan membebani ekonomi masyarakat seperti kenaikan iuran BPJS dan berbagai kenaikan lain yang direncakan akan berlaku mulai tahun depan. Ekonom senior, Chatib Basri, dalam kolomnya baru-baru ini mencatat bahwa konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama PDB Indonesia saat ini. Konsumsi rumah tangga Indonesia dapat tumbuh 5 persen dan menjadi elemen utama yang menyelamatkan ekonomi Indonesia di tengah pelambatan ekonomi global (Kompas 5/12/2019).

    Jadi prestasi pertumbuhan ekonomi 5 persen yang dicatatkan Indonesia sejauh ini dan tergolong cukup baik dibanding negara-negara lain, sebagian besar disokong oleh konsumsi rumah tangga bukan sektor produksi. Maka sangat tidak masuk akal jika pemerintah mencoba menggoyang fundamen ini dengan membebani ekonomi masyarakat melalui berbagai keaikan iuran.

    Keaikan iuran tentu akan mengurangi daya beli dan pada akhirnya menurunkan konsumsi rumah tangga. Ini adalah contoh konkrit kebijakan-kebijakan yang tidak sinkron di tengah upaya pemerintah menggenjot pertumbuhan sebagai antisipasi serius pada ancaman resesi global.

    Pidato SBY tiga hari lalu semestinya tidak disikapi sebagai kritik, tetapi terlebih sebagai masukan dari seorang negarawan yang memiliki pengalaman konkrit memimpin bangsa ini keluar dari ancaman serius resesi global.

    Ikuti tulisan menarik Putu Suasta lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.